1
1
Kupang, FKKNews.com – Shalom, Selamat mempersiapkan ibadat minggu bersama umat Minggu 18 oktober 2026, Salam dan doa beserta Pendeta Desiana Rondo Effendy .M.Th, dari GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur, Sabtu (17/10/2026).
Tema : Keluarga Yang Berempati Bukan Ruang Penghakiman
Bacaan Alkitab: Matius 7:1–5
Pengantar
Tinggal di bawah satu atap tidak dengan sendirinya membuat orang saling memahami.
Ada keluarga yang mengetahui hampir segala sesuatu tentang kehidupan anggotanya, tetapi tidak sungguh-sungguh memahami apa yang sedang mereka rasakan.
Matius 7:1–5, Yesus tidak hanya mengajarkan etika dalam hubungan antar manusia. Ia membongkar persoalan yang sangat mendasar dalam diri kita: kecenderungan melihat kesalahan orang lain sambil mengabaikan kesalahan diri sendiri.
Penjelasan Teks
Apakah kehadiran kita di dalam keluarga membuat orang lain bertumbuh, atau justru membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik? Apakah perkataan kita menjadi jalan menuju pemulihan, atau menjadi sumber luka yang terus mereka bawa?
Matius 7:1–5 merupakan bagian dari Khotbah di Bukit dalam Matius 5–7.
Dalam bagian ini, Yesus mengajarkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah bagi orang-orang yang menjadi warga Kerajaan-Nya.
Yesus berbicara tentang hubungan dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Iman tidak berhenti pada pengakuan bahwa kita mengenal Allah. Iman harus terlihat dalam cara kita berbicara, mengambil keputusan, memperlakukan orang yang lemah, mengampuni orang yang bersalah.
Konteks ayat 1–5 menunjukkan bahwa Yesus sedang mengkritik sikap menghakimi yang disertai kemunafikan dan ketidakmampuan melihat kesalahan sendiri.
Selumbar adalah benda kecil, sedangkan balok merupakan benda yang jauh lebih besar. Namun, seseorang justru sibuk melihat benda kecil di mata saudaranya, sementara benda besar di matanya sendiri tidak disadarinya.
Manusia tidak adil dalam mengambil keputusan.
Kita sering mempunyai ukuran yang berbeda untuk kesalahan yang sama.
Artinya, pertolongan kepada sesama harus dimulai dari kerendahan hati untuk memeriksa diri sendiri.
Kita tidak dapat membangun keluarga yang penuh kasih dengan terus memelihara kebiasaan menghakimi..
Kata Yunani yang digunakan dalam Matius 7:1 adalah krinō, yang dapat berarti menilai, memutuskan, atau menghakimi, bergantung pada konteksnya.
Secara teologis, perintah ini mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun boleh menjadikan dirinya ukuran kebenaran yang mutlak bagi orang lain. Kita semua adalah manusia yang membutuhkan kemurahan, pengampunan, dan pembaruan dari Allah.
Refleksi dan Aplikasi
Keluarga yang berempati adalah keluarga yang menyadari bahwa setiap anggotanya membutuhkan anugerah Allah, termasuk orang yang sedang melakukan kesalahan.
Perumpamaan Yesus memperlihatkan bahwa persoalan manusia tidak hanya terletak pada apa yang dilihat, tetapi juga pada cara ia melihat.
Yesus mengajak kita keluar dari sikap yang merasa diri selalu benar.
Tidak ada keluarga yang akan bertumbuh jika setiap orang ingin menjadi hakim, tetapi tidak seorang pun bersedia menjadi murid yang belajar memperbaiki diri.
Empati bukan membenarkan kesalahan, melainkan memahami untuk memulihkan
Empati berarti berusaha memahami pengalaman dan perasaan orang lain, lalu memberikan respons yang sesuai dengan keadaan yang dihadapinya.
empati tidak sama dengan membenarkan semua tindakan.
Empati bukan berarti menghilangkan batas antara benar dan salah.
Empati justru membantu kita menghadapi kesalahan dengan cara yang lebih manusiawi, bertanggung jawab, dan bertujuan memulihkan.
empati menjadi kekuatan pastoral dalam keluarga.
Kita tidak menutup mata terhadap kesalahan, tetapi juga tidak membiarkan kesalahan menjadi satu-satunya hal yang kita lihat dalam diri seseorang.
Kasih menolong kita melihat bahwa di balik kesalahan seseorang, masih ada pribadi yang harus diperlakukan dengan martabat dan diajak bertanggung jawab.
Ayat 5 merupakan puncak dari ajaran Yesus dalam bagian ini.
Yesus tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh membantu saudara mengeluarkan selumbar dari matanya. Ia justru menunjukkan bahwa pertolongan itu dapat dilakukan setelah seseorang memeriksa dirinya sendiri..
Penutup dan Pesan Pastoral
Firman Tuhan mengembalikan tanggung jawab itu kepada diri kita.
Pertobatan bukan hanya ketika kita menyadari bahwa orang lain telah melakukan kesalahan.
Pertobatan terjadi ketika kita membiarkan firman Tuhan menyingkapkan kesalahan dalam diri kita dan bersedia memperbaikinya.
kita bercermin bukan untuk membuat kita merasa tidak layak mengasihi, tetapi supaya kita belajar mengasihi dengan lebih benar.
Kasih tidak membenarkan kekerasan.
Pengampunan tidak menghapus tanggung jawab.
Pemulihan membutuhkan kejujuran dan perubahan nyata.
Keluarga harus menjadi tempat kita belajar bertumbuh dalam kasih dan kebenaran.
Gereja harus menjadi ruang pendampingan bagi keluarga yang bergumul
rumah bukan tempat untuk menentukan siapa yang paling benar, melainkan tempat kita belajar hidup dalam kebenaran dan kasih Kristus
“Kedekatan keluarga tidak memberikan hak kepada kita untuk melukai orang lain dengan kata-kata.”(FKK02)