Popular Posts

IMG 20261018 WA0003

ICCN NTT dan TVRI NTT Bangun Agenda Kolaborasi Lintas Sektor Menuju WCCE 2026 

Kupang, FKKNews.com- Pengembangan ekonomi kreatif Nusa Tenggara Timur membutuhkan lebih dari sekadar festival, pelatihan, dan pameran. Diperlukan ekosistem yang menghubungkan komunitas, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, media, dan agregator agar kreativitas masyarakat dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.

Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan “Katong Baomong Hexahelix” yang berlangsung di Studio TVRI Nusa Tenggara Timur, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan kolaborasi Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Korda NTT dan TVRI NTT ini merupakan bagian dari inisiatif Road to World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026.

Dialog yang menghadirkan perspektif pemerintah, akademisi, legislatif, pengembangan ekonomi kreatif, dan perbankan tersebut menempatkan Kota Kupang sebagai titik awal pengembangan model ekosistem ekonomi kreatif yang dapat dipelajari dan disesuaikan dengan karakteristik daerah lain di NTT.

Dari diskusi tersebut mengemuka satu arah penting bahwa pelaku ekonomi kreatif sebenarnya sudah ada dan memiliki potensi, tetapi membutuhkan keterhubungan yang lebih kuat, pendampingan, akses pembiayaan, pengembangan produk, perluasan pasar, serta dukungan kebijakan yang terintegrasi.

ICCN: Mulai dari Pemetaan, Bangun Mekanisme Kolaborasi 

Koordinator Daerah ICCN NTT, Ivan R. Rondo, menekankan bahwa tantangan utama pengembangan ekonomi kreatif bukan sekadar memperbanyak kegiatan, melainkan membangun sistem yang menghubungkan berbagai potensi dan inisiatif agar menghasilkan dampak nyata.

Menurut Ivan, Kota Kupang dapat menjadi laboratorium awal untuk menguji tiga hal mendasar: pemetaan ekosistem ekonomi kreatif, mekanisme kolaborasi Hexahelix, serta bentuk kelembagaan yang tepat dan sesuai dengan regulasi.

“Yang perlu kita mulai dari Kota Kupang adalah memetakan ekosistemnya terlebih dahulu. Kita perlu mengetahui siapa pelakunya, potensi apa yang dimiliki, kebutuhan apa yang belum terpenuhi, dan bagaimana setiap aktor dapat berkontribusi. Dari sana, kita membangun mekanisme kolaborasi Hexahelix dan mengkaji bentuk kelembagaan yang paling tepat untuk memastikan kerja bersama ini berkelanjutan,” demikian pokok gagasan yang disampaikan Ivan.

Ia menegaskan bahwa proses tersebut perlu mengacu pada Catha Eka Daksa atau 11 Jurus Ekraf ICCN, sebagai kerangka strategis pengembangan kota dan kabupaten kreatif yang telah digunakan dalam jejaring ICCN di berbagai daerah Indonesia.

Bagi ICCN NTT, pendekatan ini penting agar pengembangan ekonomi kreatif tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi berkembang menjadi pola kerja yang menghubungkan pemetaan, perencanaan, kolaborasi, kebijakan, pelaksanaan program, dan pengukuran dampak.

Bappeda: Ekonomi Kreatif Sudah Mendapat Ruang dalam Arah Pembangunan Kota

Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Kota Kupang, Andre Otta, menegaskan bahwa ekonomi kreatif merupakan sektor yang perlu dikembangkan secara serius. Menurutnya, ekonomi kreatif telah memperoleh ruang dalam dokumen RPJMD Kota Kupang dan menjadi bagian dari keberpihakan pembangunan terhadap kreativitas serta potensi generasi muda di tengah bonus demografi.

Ia melihat pengembangan ekonomi kreatif sebagai peluang untuk memperluas peran masyarakat dalam perekonomian, bukan hanya sebagai pekerja, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja melalui kreativitas, inovasi, dan kewirausahaan.

“Kota Kupang sebagai laboratorium awal pengembangan ekosistem ekonomi kreatif merupakan pilihan yang tepat. Kupang memiliki posisi strategis sebagai epicentrum of growth bagi NTT, dengan aktivitas ekonomi yang turut memengaruhi dinamika pertumbuhan dan inflasi di daerah,” demikian inti pandangan Andre dalam diskusi.

Andre juga mengungkapkan bahwa Kota Kupang sedang menyiapkan city branding sebagai pedoman untuk memperjelas identitas, arah, dan posisi kota ke depan.

Menurutnya, pengembangan ekosistem ekonomi kreatif dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ia menilai berbagai masukan ICCN dan hasil dialog Hexahelix berpotensi memperkaya gagasan serta konsep city branding yang sedang disiapkan Pemerintah Kota Kupang.

Ia juga melihat bahwa Kupang tidak harus berhenti sebagai laboratorium pengembangan ekonomi kreatif, tetapi berpotensi menjadi hub yang menghubungkan berbagai potensi dan portofolio kreatif dari kabupaten/kota di NTT.

Dinas Parekraf NTT: Memperkuat Pelaku, Legalitas, dan Daya Saing 

Dari perspektif pemerintah provinsi, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT, Mathias M. Beeh, menekankan pentingnya pembinaan pelaku ekonomi kreatif secara lebih terstruktur.

Ia menyampaikan bahwa NTT memiliki puluhan ribu UMKM, termasuk pelaku usaha yang berkaitan dengan ekonomi kreatif. Potensi tersebut membutuhkan dukungan dalam pengembangan sumber daya manusia, standardisasi, legalitas usaha, kapasitas produksi, kreativitas, serta akses pasar.

“Pelaku ekonomi kreatif kita sebenarnya sudah ada. Tantangannya adalah bagaimana mereka didampingi dan diperkuat dari berbagai aspek agar mampu meningkatkan daya saing. Pengembangan tidak cukup hanya melalui promosi, tetapi juga harus menyentuh kualitas produk, kapasitas usaha, legalitas, dan perlindungan kekayaan intelektual,” demikian inti pandangan Mathias dalam diskusi.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Parekraf memberikan perhatian terhadap pengembangan 21 subsektor ekonomi kreatif, termasuk membuka ruang yang lebih luas bagi keterlibatan generasi muda.

Untuk konteks Kota Kupang, Mathias menyoroti potensi subsektor kriya, fesyen, musik, dan kuliner sebagai bidang yang dapat diprioritaskan dalam proses pemetaan dan pengembangan ekosistem bersama ICCN NTT.

Ia juga menekankan pentingnya pengakuan kompetensi melalui sertifikasi profesi dan penguatan identitas pelaku kreatif sebagai local champion di daerah masing-masing.

Dalam hal pengembangan pasar, NTT Mart disebut sebagai salah satu kanal yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung promosi dan pemasaran produk lokal. Namun, penguatan pasar tersebut tetap perlu berjalan bersama peningkatan mutu, kesiapan produksi, dan pendampingan usaha.

Undana: Riset dan Pendidikan Harus Terhubung dengan Kebutuhan Industri 

Direktur Program Pascasarjana Universitas Nusa Cendana, Dr. Hamzah Wulakada, melihat bonus demografi dan keberadaan perguruan tinggi sebagai modal penting bagi pengembangan ekosistem ekonomi kreatif Kota Kupang.

Menurut catatan yang disampaikan dalam diskusi, sekitar 70 persen penduduk berada pada kelompok usia produktif, sementara Kota Kupang menjadi ruang pertemuan bagi generasi muda dari berbagai wilayah, termasuk mahasiswa yang datang untuk melanjutkan pendidikan.

Hamzah menilai bahwa ekosistem kreatif di luar kampus telah tumbuh dan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda. Tantangan berikutnya adalah menghubungkan potensi tersebut dengan sistem pendidikan, riset, pengembangan keterampilan, dan kebutuhan industri.

“Kampus perlu mempersiapkan pengetahuan dan kurikulum yang sesuai dengan tuntutan perkembangan. Penelitian tidak boleh berhenti di hulu, tetapi perlu dihubungkan dengan pengembangan produk, standardisasi, hingga hasil akhir yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha,” demikian inti pandangan Hamzah.

Ia mencontohkan tenun ikat dan kekayaan motif lokal sebagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pengembangan desain, pemanfaatan laboratorium, standardisasi, serta pengujian kualitas produk.

Hamzah juga menekankan perlunya pemetaan komunitas kreatif untuk mengetahui bidang yang paling diminati dan memiliki peluang berkembang. Pelaku, kreator, dan komunitas perlu dipertemukan dalam ruang-ruang khusus agar dapat mengembangkan identitas lokal sekaligus memanfaatkan teknologi.

Menurutnya, keberlanjutan menjadi kunci. Pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan riset yang mendalam, konsistensi, pilihan produk yang tepat, dan kemampuan menjawab kebutuhan masa depan serta keterhubungan para aktor dalam satu ekosistem dan kelembagaan yang akan merumuskan skala prioritas kebijakan yang dapat di ukur dan berdampak sesuai dengan apa yang sudah di lakukan oleh ICCN di berbagai daerah di Indonesia.

DPRD NTT: Tiga Wilayah Perintis, Siap Fasilitasi Kebijakan dan Anggaran 

Sekretaris Komisi II DPRD Provinsi NTT, Junaidin Mahasan, menekankan bahwa pengembangan ekonomi kreatif perlu dilakukan secara terencana, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, Kota Kupang memiliki posisi strategis sebagai ibu kota provinsi sekaligus wajah perkembangan ekonomi NTT. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya terkonsolidasi menjadi kekuatan ekonomi karena berbagai inisiatif dan pengembangan produk masih kerap berjalan sendiri-sendiri.

Junaidin mendorong agar gerakan pengembangan ekosistem ekonomi kreatif NTT dimulai melalui tiga wilayah perintis yang mewakili Flores, Sumba, dan Timor. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan model pengembangan yang sesuai dengan karakteristik setiap wilayah, sekaligus menjadi dasar untuk memperluas kolaborasi ke kabupaten/kota lainnya.

“Gerakan ekonomi kreatif ini bisa kita mulai dari tiga wilayah perintis yang mewakili Flores, Sumba, dan Timor. Kita perlu membangun model yang jelas, memetakan potensi dan pelakunya, menentukan prioritas, serta memastikan bahwa program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat. Kami di DPRD siap memfasilitasi dari sisi kebijakan dan anggaran sesuai kewenangan, sehingga gagasan ini tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat ditindaklanjuti secara bersama,” demikian inti pandangan Junaidin dalam diskusi.

Ia menegaskan bahwa dukungan kebijakan dan anggaran perlu didasarkan pada perencanaan yang matang, pembagian peran yang jelas, serta indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi. Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya berorientasi pada penyelenggaraan festival atau kegiatan sesaat, tetapi harus mencakup penguatan pelaku, pendampingan usaha, akses pasar, pembiayaan, dan keberlanjutan ekosistem.

Junaidin juga menyoroti aspirasi pelaku ekonomi kreatif yang masih membutuhkan pendampingan, akses pasar, dan permodalan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, ICCN, dunia usaha, dan lembaga keuangan perlu diperkuat agar program yang direncanakan menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Ia turut menanggapi gagasan pengembangan city branding Kota Kupang, termasuk peluang untuk mengeksplorasi identitas kota yang berhubungan dengan motif dan kekayaan budaya lokal. Gagasan tersebut perlu didukung pemetaan dan kajian agar dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif yang lebih luas.

Menurut Junaidin, kerangka Catha Eka Daksa atau 11 Jurus Ekraf ICCN bersama Kampus dapat menjadi salah satu acuan untuk menyusun metodologi, menentukan skala prioritas, dan mengukur dampak program. Dengan demikian, dukungan kebijakan dan anggaran dapat diarahkan pada pengembangan ekosistem yang produktif, terukur, dan berkelanjutan.

 

Bank NTT: Pelaku Kreatif Perlu Siap Usaha dan Terhubung dengan Pasar

Dari sisi pembiayaan, Pelaksana Tugas Pemimpin Kantor Cabang Bank NTT Khusus Kupang, Stefanus Ngongo Mesa, menyampaikan dukungan Bank NTT terhadap pengembangan pelaku ekonomi kreatif melalui akses layanan perbankan, pembiayaan, dan pendampingan usaha.

Ia menjelaskan bahwa Bank NTT telah menyalurkan pembiayaan kepada sejumlah pelaku usaha, termasuk usaha yang berkaitan dengan tenun dan produk kelor. Bank juga berupaya mendampingi pelaku untuk meningkatkan kapasitas usaha dan menghubungkan mereka dengan pasar, pembeli, maupun industri yang membutuhkan produk tersebut.

“Pelaku ekonomi kreatif tidak perlu takut berhubungan dengan perbankan. Yang penting adalah menjalankan usaha secara konsisten, memiliki pencatatan keuangan yang rapi, dan memahami kondisi usahanya. Informasi tersebut membantu bank menilai kelayakan usaha sekaligus membuka ruang pendampingan yang sesuai,” demikian inti penjelasan Stefanus.

Ia menekankan bahwa usaha kreatif perlu dikembangkan secara berkelanjutan, bukan hanya aktif ketika ada festival atau kegiatan tertentu. Konsistensi usaha, tata kelola keuangan, peningkatan standar, dan kapasitas produksi merupakan bagian penting dalam membangun kesiapan memperoleh pembiayaan.

Bank NTT juga menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif Kota Kupang sebagai laboratorium awal, melalui kolaborasi dengan pemerintah, ICCN, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara pelaku kreatif, pembiayaan, pendampingan, dan akses pasar sehingga pengembangan usaha tidak berhenti pada tahap produksi maupun promosi.

Suara Ekraf NTT: Lima Rekomendasi untuk Ditindaklanjuti 

Rangkaian pandangan dalam Katong Baomong Hexahelix memperkuat urgensi penyusunan dokumen “Suara Ekonomi Kreatif NTT untuk WCCE 2026”, yang membawa semangat Komunitas Kuat, Daerah Kuat, Indonesia Sejahtera.

Dokumen tersebut merumuskan lima rekomendasi strategis sebagai bahan pembahasan dan tindak lanjut bersama:

Membangun ekosistem ekonomi kreatif dari komunitas hingga tingkat nasional.

Memperkuat kelembagaan kolaboratif sebagai infrastruktur pembangunan ekonomi kreatif.

Membangun pemetaan ekosistem dari desa dan kelurahan sebagai dasar perencanaan dan kebijakan.

Mengintegrasikan ekonomi kreatif dengan pembiayaan, pasar, dan program pembangunan desa/kelurahan.

Mengembangkan ekonomi kreatif yang inklusif, berakar pada keunikan lokal, dan dapat disesuaikan untuk dikembangkan di berbagai daerah.

Rekomendasi tersebut menempatkan pemetaan sebagai fondasi, kolaborasi sebagai mekanisme kerja, kebijakan sebagai salah satu instrumen pendukung, dan dampak sebagai ukuran keberhasilan.

Tahap awal yang didorong adalah memetakan pelaku, komunitas, subsektor, produk, rantai nilai, kebutuhan pembiayaan, akses pasar, serta hambatan pengembangan. Hasilnya kemudian menjadi dasar untuk menentukan prioritas dan membagi peran setiap pemangku kepentingan.

Proses ini akan mengacu pada Catha Eka Daksa atau 11 Jurus Ekraf ICCN, dengan kerangka operasional CONNECT–MAP–COLLABORATE–POLICY–ACTION–IMPACT.

Dokumen Suara Ekonomi Kreatif NTT untuk WCCE 2026 merupakan rumusan rekomendasi yang masih perlu divalidasi bersama pemangku kepentingan terkait. Karena itu, tindak lanjutnya diarahkan pada pembahasan, pemetaan, pengembangan agenda bersama, serta pengujian program yang dapat diukur hasilnya.

CATATAN PERLUASAN STRATEGIS 

Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif dalam Kerangka Transformasi NTT Menuju 2045

Sebagai perluasan dari inisiatif Suara Ekonomi Kreatif NTT untuk WCCE 2026, ICCN Korda NTT memandang bahwa pengembangan ekosistem ekonomi kreatif perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan daerah jangka panjang menuju 2045.

Ekonomi kreatif tidak hanya berkaitan dengan seni, budaya, festival, dan industri kreatif, tetapi juga memiliki potensi untuk menghubungkan kreativitas masyarakat dengan sektor-sektor strategis pembangunan Nusa Tenggara Timur.

Dalam kerangka tersebut, terdapat delapan agenda perluasan yang dapat dikaji dan dikembangkan secara bertahap melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan agregator.

1. Pariwisata Berbasis Pengalaman dan Identitas Lokal

Mengembangkan pariwisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam, tetapi juga mengintegrasikan budaya, tenun, kuliner, musik, seni pertunjukan, dan cerita lokal menjadi pengalaman wisata yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

2. Ekonomi Kreatif untuk Respons Bencana dan Pemulihan Mata Pencaharian

Mendorong kontribusi komunitas kreatif, media, dan pelaku digital dalam komunikasi risiko, penyebaran informasi berbasis konteks lokal, promosi produk, serta pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat setelah bencana, dengan tetap berkoordinasi bersama lembaga yang berwenang.

3. Ekonomi Kreatif untuk Mendukung Penanganan Stunting, Gizi, dan Kesehatan Masyarakat

Memanfaatkan desain komunikasi, konten edukasi, media pembelajaran, dan kreativitas komunitas untuk memperkuat literasi kesehatan serta memperkenalkan pangan lokal yang sesuai dengan standar gizi dan keamanan pangan, melalui kerja sama dengan tenaga profesional.

4. Pendidikan, Keterampilan, dan Peluang Ekonomi di Wilayah 3T

Menghubungkan sekolah, perguruan tinggi, balai latihan kerja, komunitas, dan industri untuk mengembangkan keterampilan desain, produksi konten, pemasaran digital, teknologi, dan kewirausahaan yang relevan dengan kebutuhan serta potensi lokal.

5. Kerja Sama Ekonomi Kreatif Lintas Batas

Memperluas peluang kolaborasi ekonomi, budaya, pendidikan, pariwisata, dan perdagangan antara NTT dengan Timor-Leste, Australia, dan kawasan Pasifik Selatan melalui produk lokal, kriya, kuliner, seni pertunjukan, desain, serta layanan kreatif yang memiliki daya saing.

6. Ekonomi Kreatif dalam Ekosistem Energi Terbarukan

Mengembangkan peluang usaha dan keterlibatan masyarakat di sekitar sektor energi terbarukan melalui pendidikan, komunikasi publik, pengembangan keterampilan, wisata edukasi, serta jasa dan produk pendukung yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

7. Nilai Tambah Perikanan, Kelautan, dan Ekonomi Bahari

Menghubungkan potensi kelautan dan perikanan NTT dengan kreativitas dalam pengembangan produk, desain kemasan, merek, kuliner, pemasaran digital, dan pengalaman wisata bahari, disertai penguatan mutu, rantai pasok, serta keberlanjutan lingkungan.

8. Transformasi Digital dan Perluasan Akses Pasar

Memperkuat pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk pengembangan produk, promosi, pencatatan keuangan, riset pasar, efisiensi usaha, dan perluasan akses pembeli, dengan memperhatikan literasi digital, perlindungan data, hak cipta, dan kesenjangan konektivitas.

Dari Pemetaan Menuju Transformasi NTT 2045

Delapan agenda tersebut merupakan perluasan pemikiran strategis yang masih perlu dikaji, dipetakan, dan divalidasi bersama pemangku kepentingan. Pengembangannya tidak dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab sektor pembangunan yang telah memiliki kewenangan, melainkan memperkuat hubungan antara kreativitas masyarakat, kebijakan publik, inovasi, dan peluang ekonomi.

Sebagai langkah awal, Kota Kupang dapat menjadi laboratorium pengembangan dan pengujian model kolaborasi. Pembelajaran yang dihasilkan kemudian dapat menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan ekosistem di wilayah lain sesuai karakteristik, kebutuhan, dan potensi masing-masing daerah.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini diharapkan membantu NTT membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terhubung dengan pariwisata, pendidikan, pangan, kelautan, energi, teknologi, dan pasar yang lebih luas.

Dengan demikian, Suara Ekonomi Kreatif NTT untuk WCCE 2026 tidak hanya menjadi ruang penyampaian gagasan, tetapi juga dapat menjadi salah satu titik awal untuk membangun agenda kolaborasi jangka panjang menuju Transformasi NTT 2045.

Dari Kota Kupang Menuju Ekosistem Ekraf NTT

Kota Kupang diposisikan sebagai laboratorium awal untuk menguji mekanisme kolaborasi, memperkuat hubungan antara pelaku kreatif dan pasar, serta membangun model pengembangan yang dapat dipelajari oleh daerah lain.

 

Sejalan dengan gagasan tiga wilayah perintis yang mewakili Flores, Sumba, dan Timor, ICCN Korda NTT juga mengarahkan penjajakan pengembangan ekosistem di Kota Kupang, Labuan Bajo, dan Sumba . Ketiga lokasi tersebut merupakan titik awal penjajakan yang perlu dipetakan lebih lanjut agar penetapan wilayah, potensi, dan program prioritas sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.

 

Tujuannya bukan menyeragamkan program ekonomi kreatif di seluruh NTT, melainkan membangun pola kerja kolaboratif yang dapat diterapkan sesuai konteks lokal.

 

Kolaborasi ICCN Korda NTT dan TVRI NTT melalui Katong Baomong Hexahelix diharapkan menjadi langkah awal menuju proses yang lebih berkelanjutan: dari dialog menjadi pemetaan, dari pemetaan menjadi agenda bersama, dan dari agenda bersama menjadi program yang menghasilkan dampak nyata.

 

Dari potensi lokal, kita bangun ekosistem. Dari kolaborasi, kita ciptakan kekuatan ekonomi. Dari komunitas yang kuat, kita bangun daerah yang kuat.

 

Komunitas Kuat, Daerah Kuat, Indonesia Sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *