1
1
1
2
3
Waingapu, FKKNews.com – Kehadiran Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Sinurat di Sumba Raya dimanfaatkan sebagai momentum konsolidasi dan penajaman arah gerakan organisasi di tingkat regional. Dalam Konsultasi Regional GAMKI Sumba Raya, GAMKI menegaskan bahwa berorganisasi harus dipahami sebagai peluang strategis, bukan beban struktural.
Dalam forum tersebut, Sahat Sinurat menekankan bahwa GAMKI perlu diselaraskan dengan mimpi, cita-cita, dan kebutuhan riil kader. Menurutnya, organisasi harus menjadi ruang bertumbuh yang relevan dengan masa depan anak muda, bukan sekadar rutinitas kelembagaan.
Salah satu penekanan utama adalah pentingnya pemetaan minat dan kebutuhan kader GAMKI di Sumba Raya. GAMKI didorong untuk mengenali potensi kader di berbagai sektor, mulai dari pariwisata, ekonomi kreatif, pertanian dan peternakan, hingga minat politik dan profesi strategis lainnya, agar pembinaan kader dilakukan secara terarah dan berdampak.
Ketua Umum GAMKI juga mendorong penguatan identitas GAMKI sebagai organisasi 3G, yakni gerakan pemikiran, gerakan advokasi, dan gerakan profesi. GAMKI diposisikan tidak hanya sebagai ruang diskursus, tetapi juga sebagai wadah penguatan kapasitas dan pengembangan profesi kader di berbagai bidang.
Dalam konteks penguatan organisasi di NTT, forum merumuskan tiga jurus utama pembangunan GAMKI, yakni pengembangan kewirausahaan, adaptasi teknologi digital dalam seluruh aktivitas organisasi, serta inovasi yang digerakkan oleh orang muda sebagai spirit utama. Ketiga aspek ini disepakati menjadi payung kerja GAMKI di wilayah Sumba dan NTT secara umum.
Konsultasi regional tersebut juga menegaskan pentingnya persiapan pelatihan kader tingkat dasar dan menengah bagi GAMKI se-Daratan Sumba. Kaderisasi dipandang sebagai fondasi utama agar distribusi kader dapat dilakukan secara sistematis berdasarkan profesi, minat, dan talenta yang terdata dengan baik.
Selain agenda kaderisasi, GAMKI juga membuka peluang tindak lanjut berbagai program nasional yang dapat diakses daerah. Program tersebut meliputi beasiswa D3, S2, hingga S3 ke Tiongkok, kursus daring profesi hukum, pengajuan KIP Kuliah, penguatan dan pengaktifan Balai Latihan Kerja (BLK) di Sumba Timur dan Sumba Tengah, hingga dukungan bagi koperasi dan UMKM, termasuk perjuangan proposal daerah di tingkat pusat.
Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Rondo, menambahkan, “Konsolidasi ini bukan sekadar formalitas. Ini tentang membangun basis yang kuat untuk kaderisasi, ekonomi, dan inovasi anak muda Sumba. GAMKI harus hadir nyata di tengah masyarakat, bukan hanya lewat struktur organisasi.” ujar Winston.
Di tingkat provinsi dan regional, GAMKI Sumba Raya menyepakati agenda kolaboratif seperti pembentukan Lembaga Advokasi dan Pelayanan Publik (LAPP), LBH GAMKI dengan layanan hukum gratis, pelatihan kader dasar dan menengah, pendirian koperasi GAMKI, serta pelatihan kreatif seperti MC, multimedia, dan pengolahan pangan.
Sebagai tindak lanjut konkret, forum merekomendasikan pembentukan grup koordinasi GAMKI se-Sumba Raya dan penyelenggaraan pertemuan regional secara berkala setiap lima hingga enam bulan. Langkah ini penting untuk menjaga kesinambungan komunikasi, konsolidasi, dan eksekusi program.
Konsultasi Regional GAMKI Sumba Raya menegaskan komitmen organisasi menjadikan Sumba sebagai basis penguatan kader, pengembangan ekonomi orang muda, serta inovasi gerakan yang adaptif terhadap tantangan zaman. (FKK02)