1
1
1
2
3
Kalabahi, FkkNews.com – Miris, terkait Proyek gedung laboratorium di SD GMIT Tamakh Kontraktor Lius Ratu menjelaskan bahwa ia telah menyelesaikan kegiatan pekerjaan pembangunan Laboratorium, mulai dari item pekerjaan pengisian urukan, kap atap, plafon, plesteran, aician, lantai kasar, tehel, pemasangan pintu, jendela, bahkan sampai finishing, hal ini ia (Lius Ratu) sampaikan melalui pemberitaan Media Warta Nusa Kenari pada Senin (27/01/2026).
Untuk memastikan apakah benar item pekerjaan berupa tehel atau keramik lantai belum tuntas dikerjakan, wartawan media ini secara langsung melakukan investigasi di lapangan (lokasi proyek SD GMIT Tamakh) pada Kamis, 29/01/2026 dan menemukan fakta bahwa benar Pekerjaan ini belum tuntas dikerjakan namun laporan pekerjaan fisik sudah 100 persen. Bila sudah seperti ini faktanya maka siapa yang paling bertanggungjawab? apakah Dinas Pendidikan? Kontraktor? Konsultan Pengawas? Kepala Sekolah ataukah Ketua Komite?.
Lalu bagaimana dengan sikap Inspektorat Daerah? Aparat Penegak Hukum dalam kasus Proyek yang tidak dikerjakan dengan tuntas? Bagaimana Implikasi Hukum nya?
Konsultan pengawas pada proyek ini yang seharusnya bertugas mengawasi pelaksanaan proyek konstruksi agar sesuai dengan spesifikasi teknis, waktu, dan biaya yang diperjanjikan (kualitas, kuantitas, kecepatan). Tugas utamanya meliputi pemeriksaan shop drawing, pengawasan material dan pekerjaan, menyusun laporan berkala, serta memberikan rekomendasi teknis kepada pemilik proyek/PPK. namun fakta ini menunjukkan bahwa pengawasan nya tidak menunjukan kualitas hingga muncul dugaan manipulasi dalam menyusun laporan untuk diajukan kepada PPK.
Tidak hanya Konsultan Pengawas, Dinas Pendidikan, PPK, Kepala Sekolah, Ketua Komite Harusnya Bertanggungjawab penuh atas Pekerjaan ini.
Untuk diketahui, Proyek ini dikerjakan pada tahun 2024, dengan sistem swakelola dan nilai anggarannya Rp200 juta yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK).
Salah satu Pemuda di Desa Tamakh mengatakan bahwa pekerjaan ini memang tehelnya belum selesai di pasang, ia juga mengatakan kemungkinan meteran pun belum dipasang.
“Karena pekerjaan ini satu paket dari beberapa gedung, apakah satu paket ini menggunakan satu meteran atau tidak nanti di cek di Kepala Sekolah atau Dinas karena RAB nya ada di mereka, tetapi Gedung Laboratorium itu meteran nya tidak ada,” Katanya.
Sebelumnya diberitakan media ini dengan judul “Klarifikasi Polemik Proyek di SD GMIT Tamakh, Kontraktor Lius Ratu dan Stef Magang Serta Marsel Berbeda Versi”
Bahwa Kontraktor Lius Ratu menyampaikan Klarifikasi secara resmi terkait masalah Proyek Swakelola gedung laboratorium di SD GMIT Tamakh dengan nilai anggaran Rp 200 juta yang sebelumnya dikerjakan oleh pihak ketiga Stef Magang dan Marsel kemudian dilanjutkan oleh dirinya selaku Pihak ketiga atau kontraktor, untuk diketahui pekerjaan ini dikerjakan pada tahun 2024, berdasarkan pemberitaan media ini sebelumnya pada pekerjaan ini laporannya pekerjaan fisik dan pencairan anggaran nya sudah 100 persen namun satu item berupa tehel (keramik lantai) belum tuntas dipasang hingga uang bahan material warga belum dibayar.
“Pekerjaan bangunan laboratorium di SD GMIT Tamakh dengan nilai anggaran 200 juta bukan saya yang kerja tetapi Stef Magang dan Marsel, setelah itu tidak dilanjutkan pekerjaannya selama satu tahun, sebelumnya pekerjaan ini saya yang kasih Stef Magang dan Marsel yang bertindak sebagai pelaksana, saya juga sama-sama bekerja karena tidak dilanjutkan pekerjaannya akhirnya saya yang melanjutkan pekerjaan itu,” kata Lius saat ditemui oleh media ini pada Kamis, (22/01/2026).
Dikatakan Lius, sebelumnya dikerjakan oleh dua orang itu padahal yang saya melanjutkan pekerjaan ini uang muka sudah cair, mereka ambil uang pertama 50 juta, pengambilan kedua itu 47 juta lebih tetapi tidak melanjutkan pekerjaan itu.
“Dalam pekerjaan itu, tehel ( keramik lantai) belum dipasang tuntas itu betul, silahkan saja, karena waktu itu konsultan pengawas turun, PPK turun, tehel yang harus dipasang itu 70 Dos, yang dipersiapkan turun karena dia 130 Dos menggunakan dua bangunan gedung dengan ukuran yang sama tersisa 40 Dos saya pasang, yang tersisa itu memang belum terpasang itu ada 30 Dos, tetapi bahan nya ada, jadi tehel ini tinggal di pasang,” jelasnya.
Ia mengatakan pekerjaan sudah PHO karena fisik sudah 100 persen tetapi ada perjanjian, karena bahannya omset di hari raya maka pekerjaan ini dinyatakan 100 persen dan itu terjadi di mana-mana.
“Untuk tehel (keramik lantai) sekarang ada sementara pasang, terkait dengan uang bahan material salah satu warga berupa kayu spar setengah kubik dengan harga Rp 1.500 yang belum dibayar saya tidak tahu karena yang datang drop itu marsel yang drop karena pekerjaan ini masih menjadi tanggungjawab nya dorang karena uang saya sudah kasi, kenapa Marsel dan Stef Magang tidak kasi uang 1.500 itu,” ujarnya.
Sementara Stef Magang selaku pihak ketiga yang sebelumnya mengerjakan gedung laboratorium bersama Marsel yang dikonfirmasi oleh media ini pada Minggu, (25/01/2026) menyampaikan bahwa pekerjaan ini awal dia Lius Ratu punya sebaran proyek ini kan dia yang kasi tunjuk, waktu itukan dia tidak ada uang, sehingga urusan tentang administrasi inikan saya yang kasi keluar uang, dalam perjalanan ternyata seorang kontraktor namanya Dili ini sudah dapat ini pekerjaan, enam bangun Dili sudah ambil, Dili itu kontraktor yang kerja di lokasi yang sama, jadi itu pekerjaan ada enam bangunan itu sebetulnya koordinasi Dili ke Dinas itu semua Dili su kerja tapi Lius mengamuk bahwa harus dia juga kerja tapi dari Dinas tidak mau Lius kerja, komite naik, dan saya juga sudah terlanjur kasih keluar uang banyak akhirnya saya dengan komite pergi ketemu Bupati dan Kepala Dinas Pendidikan di lantai dua, baru di situ di kasi dua bangunan kita kerja, saya satu, Lius Ratu satu.
Dijelaskan Stef, begitu proses dokumen pigi datang mau kerja, sudah jadi, baptua panggil turun satu lius kerja, satu saya dengan Marsel baku bagi kerja sama, proses itu uang mau keluar saya bilang begini pekerjaan bangunan ini kita kerja dia pu untung tidak ada, jadi bapa Lius punya itu karena saya yang kasi keluar anggaran, saya pigi minta itu pekerjaan baru kita kerja jadi saya tidak kerja jadi Lius punya kasih saya 10 juta, Marsel punya kasi saya 10 juta terus dua orang yang kerja itu dua bangunan, tetapi dorang dua tidak mau akhirnya kita kerja pigi.
“Kita juga jadi pemalas kerja karena ini pekerjaan bilang ini saya dengan Marsel punya tetapi uang keluar bukan dari Komite ke kita tapi Lius yang atur, sampai tahap pertama kita kerja, tahap kedua cair Lius Ratu tahan 30 juta turun bayar material pigi datang kurang waktu itu bulan Desember, nah disitu sudah mulai kacau,” katanya.
Akhirnya, lanjut Stef, pigi orang kejar kita masalah material, tukang, ini yang 30 juta tidak ada kejelasan dia punya penggunaannya, dia bilang mau beli seng, jadi kita sudah pamalas, tahap ketiga 100 persen ini kita tidak tahu.
“Terkait dengan uang tahap pertama dan kedua itu ada di catatan bapa Marsel yang dia terima dari Lius Ratu, tahap pertama, tahap kedua kita tahu, itu saya punya permintaan awal maksudnya supaya saya mendukung saya punya pekerjaan di Alikallang desa Mauta dia jalan lancar mau bantu di bawa punya, ternyata di Alikallang kerja pigi kandas,” lanjutnya.
Dikatakan Stef, jadi progres pekerjaan kita punya tapi bilangnya uang dia yang atur, semua semua dia yang atur akhirnya, proses progres uang keluar tahap pertama dia punya program pekerjaan jelas, jadi uang keluar orang ada kerja, dari fondasi naik sampai kap batu, itu tahap pertama dan tahap kedua, di luar dari 30 juta yang Lius Ratu ada ambil, tahap ke tiga yang uang cair 100 persen itu kami tidak tahu sama sekali.
“Jadi kenapa jadi kami tidak melanjutkan pekerjaan itu ada sebabnya, karena uang 30 juta yang Lius Ratu tahan itu, karena kalau dia tahan pekerjaan tidak bisa jalan karena upah tukang kita tidak bisa bayar,” katanya.
Terkait, lanjut Stef lagi, dengan item pekerjaan berupa tehel (keramik lantai) ia membenarkan bahwa belum di pasang secara keseluruhan, yang jelasnya dia suru saya pengadaan ya saya sudah pengadaan, uang saya tahap pertama dan tahap kedua itu yang progresif pekerjaan ada berjalan.
Disisi lain Marsel yang dikonfirmasi oleh media ini pada Senin, 26/01/2026 menjelaskan, pertama uang keluar itu Lius Ratu kasih Stef Magang uang 16 juta lebih dari 46 juta lebih, dia yang suru kasi Stef, itu uang tahap pertama, dia kasi saya pegang 30 juta saya belanja material, saya utang lagi untuk kerja kasi naik itu bangunan sampai slof atas, kap batu, dia suru bilang naik pencairan jadi kita sama-sama naik pencairan tahap dua, tahap dua itu dia ambil uangnya terus kita belanja semua dia kasi saya 47 juta itu kita belanja bahan besi, semen semua sama-sama bayar perahu motor kita sama-sama turun, ada uang jadi orang punya uang material datang saya bayar sampai uang habis di tangan.
“Uang habis, Stef turun ambil semen 50 sak di proyek sekolah untuk naik kerja dia punya pekerjaan rabat jalan di Alikallang, Desa Mauta, akhirnya Lius Ratu mengamuk lansung dia ambil alih itu pekerjaan,” ujarnya.
Dijelaskan Marsel, sebelumnya uang itu ada 70 juta tahap kedua jadi Lius Ratu ambil 30 juta, dia kasi saya 47 juta, dalam perjalanan begitu lansung dia usir kami, katanya Stef Magang turun ambil semen jadi dia lansung usir kami, jadi saya lansung pulang, nota belanja, pengambilan barang saya Lius semua, jadi saya bilang kalau kerja model begini ya sudah saya tidak mau kerja, satu minggu kemudian Lius Ratu telfon saya untuk bantu dia jdi saya bantu dia muat kursi meja, tapi untuk lanjutkan proyek itu saya tidak mau.
“Anggaran Tahap terakhir itu Lius Ratu yang ambil semua, kami tidak tahu, uang tahap pertama, kedua kami pakai kerja, uang tahap kedua itu saya pake bayar utang, ada 30 juta lebih jadi Lius Ratu 16 juta, kami 16 juta jadi kita, saya punya saya bayar sementara dia punya dia tidak bayar baru ada taputar itu,” pungkasnya.
Lebih lanjut kata Marsel, tahap dua itu bilang 90 juta tapi dia hanya kasih saya 47 juta, uang itu saya pakai bayar utang material dengan upah tukang itu kasi panjar, jadi uang habis di tangan pake bayar, uang sisah nya itu Lius Ratu yang pegang, padahal pekerjaan satu bangunan ini saya dengan Stef yang kerja sementara Lius kerja satu bangunan yang berbeda, saya ini kan kerja untuk baik punya, ternyata dia Lius Ratu terima uang 30 juta lansung usir kita jadi, padahal pekerjaan ada jalan, kami ada kerja, kami tidak lari kasi tinggal pekerjaan, sekarang inikan dia pu utang semen 8 juta untuk kerja dia punya satu gedung inikan dia tidak mau bayar.
“Untuk uang bahan kayu spar setengah kubik itu Lius Ratu yang telefon saya bilang uang ada di tangan jadi kita muat turun, turun sampai di bawa baru dia bilang tidak ada uang, sementara setelah itu Lius ambil alih pekerjaan itu untuk tehel itu dia belum dipasang dengan tuntas, sementara laporannya pekerjaan sudah 100 persen selesai. Sebenarnya itu Lius Ratu tidak ada masalah tapikan dia punya uang sudah habis jadi dia sengaja usir kita supaya uang 30 juta itu dia bisa pakai dan lain-lain juga dia bisa pakai begitu,” tutupnya. (FKK/Eka Blegur).