Sabu Raijua,FKKNews.com – Rabu, 21 Oktober 2026. Mewakili Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua, Septenius M. Bule Logo, S.H., M.Hum., secara resmi membuka Gerakan Pangan Murah (GPM) Tingkat Kabupaten Sabu Raijua yang berlangsung di halaman depan Kantor Bupati Sabu Raijua, Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia Tahun 2026 sekaligus menjadi langkah konkret Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, mengendalikan inflasi, serta membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Turut hadir Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sabu Raijua, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Satgas Pangan Sabu Raijua, para pedagang, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani yang berpartisipasi dalam GPM, serta masyarakat Kabupaten Sabu Raijua.
Dalam sambutan tertulis Bupati Sabu Raijua yang dibacakan oleh Sekda, ditegaskan bahwa Gerakan Pangan Murah merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup, distribusi yang merata, serta harga yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat.
Pelaksanaan GPM pada 21 Oktober 2026 juga mengacu pada Surat Badan Pangan Nasional Nomor 423/TS.02.02/K/10/2026 tentang pelaksanaan Gerakan Pangan Murah secara serentak di seluruh provinsi serta kabupaten/kota di Indonesia dalam rangka Hari Pangan Sedunia Tahun 2026.
Bupati menyampaikan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar yang sangat strategis bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan pangan tidak hanya berorientasi pada ketersediaan, tetapi juga harus memperhatikan keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, cadangan pangan, serta pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Pemda Perkuat Pengendalian Inflasi dan Ketersediaan Pangan
Dalam sambutannya, Bupati menyoroti tantangan sektor pangan akibat kondisi kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Niño. Kondisi tersebut berpotensi menekan produksi pertanian dan memicu kenaikan harga bahan pangan pokok.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua terus mengoptimalkan peran TPID dan Satgas Pangan guna memastikan pasokan bahan pangan tetap tersedia dalam jumlah yang memadai dengan harga yang terkendali.
Sejumlah langkah konkret yang dilakukan pemerintah daerah meliputi mendorong petani memanfaatkan potensi lahan dan air secara optimal untuk kegiatan budidaya tanaman, memantau perkembangan harga bahan pangan pokok dan barang penting lainnya, mengawasi arus masuk dan keluar barang, serta merintis kerja sama perdagangan pangan antardaerah.
Selain itu, pemerintah daerah juga melaksanakan penyaluran bantuan beras Cadangan Pangan Pemerintah untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutan Bupati, bantuan beras tersebut mencakup alokasi bulan Februari, Maret, Juli, Agustus, dan September kepada 18.877 kepala keluarga (KK), dengan total volume bantuan yang tercatat sebesar 929,01 ton.
Stok Beras Sabu Raijua Diproyeksi Cukup hingga Lima Bulan
Pada kesempatan tersebut, Bupati juga memaparkan kondisi produksi dan ketersediaan beras di Kabupaten Sabu Raijua sebagai dasar untuk melihat kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Berdasarkan data hingga September 2026, luas tanam padi di Kabupaten Sabu Raijua tercatat mencapai 1.835,56 hektare, dibandingkan realisasi luas tanam tahun 2025 sebesar 1.998,31 hektare.
Sementara itu, produksi beras tahun 2026 hingga September diproyeksikan mencapai 7.828 ton dari areal panen seluas 2.069,46 hektare. Luas panen tersebut mencakup lahan padi yang ditanam pada Oktober hingga Desember 2025 dan baru dipanen pada 2026.
Dari sisi ketersediaan, stok beras akhir tahun 2025 tercatat sebesar 5.424 ton. Adapun beras yang masuk dari luar Kabupaten Sabu Raijua sepanjang 2026 hingga September mencapai 1.755 ton.
Secara keseluruhan, berdasarkan perhitungan yang disampaikan dalam sambutan Bupati, total penyediaan beras hingga awal Oktober 2026 mencapai 15.007 ton. Setelah dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi hingga September sebesar 9.407 ton, stok beras yang tersedia di masyarakat, pedagang, dan gudang Bulog diproyeksikan sekitar 5.600 ton.
Dengan ketersediaan tersebut, stok beras diperkirakan masih mencukupi kebutuhan masyarakat hingga lima bulan ke depan.
Kondisi ini menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas pasokan. Meski demikian, pemantauan distribusi, perkembangan harga, serta kondisi produksi pertanian tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mengantisipasi perubahan situasi di lapangan.
Bupati Dorong Harga Pangan Wajar dan Terjangkau
Dalam sambutan yang sama, Bupati menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan Gerakan Pangan Murah dan mengajak seluruh pihak mengambil bagian dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Kepada Bulog, pemerintah daerah berharap agar ketersediaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) terus dijaga sehingga masyarakat dapat mengakses beras dengan harga yang terjangkau.
Kepada pedagang, pelaku UMKM, kelompok tani, dan petani, Bupati mengimbau agar perhitungan biaya produksi dan keuntungan dilakukan secara cermat dan proporsional. Dengan demikian, harga jual produk pangan tetap wajar, memberikan manfaat bagi pelaku usaha, sekaligus tidak membebani konsumen.
Sementara itu, masyarakat diimbau memanfaatkan Gerakan Pangan Murah untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bupati juga mengingatkan agar pelaksanaan GPM diatur dengan baik, terutama karena volume barang yang tersedia pada kegiatan tersebut terbatas. Pengaturan diperlukan agar masyarakat memperoleh kesempatan yang adil dan tidak terjadi penguasaan barang oleh pihak tertentu.
Kepada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Sabu Raijua, Bupati menyampaikan apresiasi atas upaya mengoordinasikan dan mempertemukan Bulog, pedagang, pelaku UMKM, serta petani dalam kegiatan tersebut.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkala sebagai salah satu bentuk kehadiran pemerintah dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus memperkuat hubungan antara produsen, pedagang, dan konsumen.
GPM Jadi Langkah Nyata Menjaga Ketahanan Pangan Daerah
Melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menegaskan komitmennya untuk menjaga ketersediaan bahan pangan, mengendalikan gejolak harga, dan melindungi daya beli masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, Bulog, TPID, Satgas Pangan, pedagang, pelaku UMKM, dan petani diharapkan mampu memperkuat sistem distribusi pangan serta mendukung keberlanjutan sektor pertanian lokal.
Gerakan Pangan Murah bukan sekadar kegiatan penjualan bahan pangan dengan harga terjangkau, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan daerah yang lebih kuat, menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, dan memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.