Sabu Raijua,FKKNews.com – Rabu, 21 Oktober 2026. Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua, Septenius M. Bule Logo, S.H., M.Hum., mewakili Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, secara resmi membuka kegiatan Workshop Strategi Intervensi Stunting dengan Pengolahan Bahan Pangan Lokal Berbasis Probiotik yang berlangsung di Gedung Gereja Nazareth Daigama, Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat strategi percepatan penurunan stunting melalui pemanfaatan potensi pangan lokal, peningkatan pengetahuan masyarakat, serta pengembangan inovasi pengolahan pangan yang mendukung pemenuhan gizi keluarga.
Turut hadir Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Institut Teknologi Bandung (ITB), Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sabu Raijua, Ketua beserta seluruh anggota Tim Pengabdian Masyarakat ITB, para kader Tim Pendamping Keluarga Kabupaten Sabu Raijua, petugas gizi puskesmas se-Kabupaten Sabu Raijua, serta Pendeta Anton Himu, S.Th.
Dalam sambutan Bupati Sabu Raijua yang dibacakan oleh Sekda, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menyampaikan apresiasi kepada ITB beserta seluruh Tim Pengabdian Masyarakat atas inisiatif dan kontribusinya dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya di bidang kesehatan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat dinilai sebagai wujud nyata kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Bupati menegaskan bahwa stunting masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan bersama. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan, kemampuan belajar, dan kualitas hidup anak dalam jangka panjang.
Berdasarkan data periode Juli 2026 yang disampaikan dalam sambutan tersebut, prevalensi stunting di Kabupaten Sabu Raijua tercatat sebesar 24,7 persen. Angka ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan dan penurunan stunting perlu terus diperkuat melalui langkah-langkah yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua telah melakukan berbagai intervensi, antara lain pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal, pelatihan bagi tenaga kesehatan, peningkatan cakupan pelayanan kehamilan dan persalinan di fasilitas kesehatan, pendataan ibu hamil secara berkala, penyuluhan kesehatan, serta pendampingan pelaksanaan kegiatan posyandu oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).
Menurut Bupati, keberhasilan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri, melainkan membutuhkan dukungan tenaga kesehatan, perguruan tinggi, kader posyandu, keluarga, dan partisipasi aktif masyarakat.
Pangan Lokal Menjadi Potensi dalam Pencegahan Stunting
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam workshop ini adalah pemanfaatan potensi bahan pangan lokal melalui pengolahan berbasis probiotik.
Kabupaten Sabu Raijua memiliki beragam potensi pangan lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan melalui inovasi pengolahan yang memperhatikan nilai gizi, keamanan pangan, ketersediaan bahan baku, serta kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, diharapkan masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah bahan pangan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Pengolahan pangan berbasis probiotik, termasuk melalui teknik fermentasi yang tepat, dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkenalkan diversifikasi pangan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan pencernaan.
Meski demikian, Bupati mengingatkan bahwa pengolahan pangan berbasis probiotik bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi stunting. Pendekatan tersebut harus didukung dengan pemenuhan gizi seimbang, kecukupan energi dan protein, pemantauan pertumbuhan anak secara berkala, peningkatan kesehatan ibu dan anak, serta penerapan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat.
Keamanan pangan juga menjadi perhatian penting. Setiap produk hasil fermentasi harus diolah secara higienis dan mengikuti proses yang tepat agar aman dikonsumsi serta memberikan manfaat sesuai dengan tujuan pengembangannya.
Kader dan Tenaga Kesehatan Punya Peran Strategis
Dalam sambutannya, Bupati juga menekankan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
Orang tua perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai pemenuhan gizi anak. Sementara itu, masyarakat perlu terus didorong untuk aktif mengikuti kegiatan posyandu, melakukan pemantauan pertumbuhan balita, serta memanfaatkan berbagai pelayanan kesehatan yang tersedia.
Dalam hal ini, kader posyandu dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis sebagai penghubung antara program pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan workshop ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas para kader dan tenaga kesehatan sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara kalangan akademisi dan masyarakat.
Bupati berharap agar kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh hendaknya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dibagikan kepada keluarga dan lingkungan sekitar, serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat Kabupaten Sabu Raijua.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua juga berharap kolaborasi dengan ITB dapat terus berlanjut melalui berbagai program pengabdian masyarakat dan pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Perkuat Komitmen Menuju Generasi Sabu Raijua yang Sehat dan Berkualitas
Lebih lanjut, Bupati mengajak seluruh pihak menjadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Sabu Raijua.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia merupakan investasi penting bagi masa depan daerah. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi cukup, pelayanan kesehatan yang memadai, serta lingkungan yang sehat akan memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, kader posyandu, keluarga, dan masyarakat perlu terus diperkuat agar setiap program yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menyampaikan terima kasih kepada ITB, Tim Pengabdian Masyarakat, perangkat daerah terkait, tenaga kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Kegiatan workshop secara resmi dibuka oleh Sekda Sabu Raijua, mewakili Bupati, dengan harapan agar pelaksanaannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi bagian dari langkah bersama dalam mempercepat penurunan stunting.
Melalui kolaborasi, pemanfaatan potensi pangan lokal, dan peningkatan pengetahuan masyarakat, Kabupaten Sabu Raijua diharapkan mampu memperkuat upaya pembangunan generasi yang sehat, cerdas, mandiri, dan berkualitas.