1
1
Kupang, FKKNews.com – Shalom, Selamat mempersiapkan ibadat minggu 1 November 2026. Dalam bulan lingkungan kita di ingatkan untuk merawat dan menjaga bumi. Salam dan doa beserta . Pdt Desiana Rondo Effendy MTh dari jemaat GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur, Sabtu (31/10/2026).
Bacaan : Mazmur 65:1-14.
Tema : Allah Memelihara Bumi Miliknya, Umat Dipanggil Menjaganya
Pengantar
“BUMI YANG MEMBERI KEHIDUPAN SEDANG MEMANGGIL KITA UNTUK BERTANGGUNG JAWAB”
Ibu, bapa , jemaat yang dikasihi Tuhan,
Ada sesuatu yang sering kita lupakan dalam kehidupan sehari-hari:
kita menikmati bumi, tetapi belum tentu kita memeliharanya.
Kita menghirup udara setiap hari, tetapi sering tidak peduli dengan pencemaran udara. Kita membutuhkan air untuk hidup, tetapi sungai dan sumber air kita justru dipenuhi sampah.
Ada kontradiksi dalam kehidupan manusia: kita sangat membutuhkan alam, tetapi sering memperlakukannya seolah-olah alam tidak memiliki batas.
Bulan Lingkungan GMIT menjadi momentum pertobatan ekologis.
Gereja harus ikut bertanggung jawab menjaga keutuhan ciptaan itu.
Penjelasan Teks
Mazmur 65 menolong kita memahami satu kebenaran mendasar: Allah bukan hanya Pencipta bumi, tetapi Allah juga terus memelihara bumi. Dan manusia yang hidup dari pemeliharaan Allah dipanggil untuk ikut bertanggung jawab menjaga kehidupan.
Mazmur 65 merupakan nyanyian pujian dan ucapan syukur kepada Allah. Mazmur ini memperlihatkan Allah sebagai Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan dan mengajak manusia untuk menjaga bumi.
Allah adalah Allah yang mendengar doa dan mengampuni dosa manusia (ayat 2–5).
Allah adalah Allah yang berkuasa atas alam semesta. Ia menegakkan gunung-gunung, menenangkan gemuruh laut, dan mengendalikan kekuatan alam (ayat 6–9).
Allah adalah Allah yang memelihara bumi. Ia mengairi tanah, menyediakan air, menumbuhkan tanaman, memberkati hasil bumi, dan membuat padang-padang gurun menjadi subur (ayat 10–14).
Kehidupan rohani dan kehidupan ekologis harus dijaga.
Artinya, ibadah kepada Allah tidak boleh membuat manusia kehilangan kepedulian terhadap ciptaan-Nya.
Bumi adalah milik Allah , bukan milik manusia.
Allah mengairi tanah, menyediakan air, menumbuhkan tanaman, dan memberkati hasil bumi.
Manusia memang bekerja mengolah tanah, menanam, menyiram, dan menuai. Namun, manusia tidak pernah menjadi sumber kehidupan itu sendiri.
“Manusia harus rendah hati”.
Bumi bukan milik manusia untuk dieksploitasi sesuka hati. Bumi adalah milik Allah yang dipercayakan kepada manusia untuk dikelola dengan tanggung jawab..
Refleksi dan Aplikasi
Ketika manusia memperlakukan bumi hanya sebagai komoditas ekonomi, manusia sedang melupakan bahwa bumi mempunyai nilai teologis. Bumi bukan sekadar sumber keuntungan, tetapi bagian dari ciptaan Allah yang harus dihormati dan dipelihara.
Pemeliharaan Allah adalah tindakan yang terus berlangsung.
Ayat 12 mengatakan:
“Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu, jejak-Mu mengeluarkan lemak.”
Hidup manusia ada dalam anugerah Allah.
Pemeliharaan Allah justru menjadi dasar panggilan manusia untuk ikut menjaga kehidupan.
Allah memelihara bumi, dan manusia dipanggil menjadi bagian dari tanggung jawab pemeliharaan itu..
Dalam perspektif teologi penciptaan, manusia bukan satu-satunya ciptaan yang mempunyai nilai di hadapan Allah.
Alam tidak diciptakan hanya untuk memenuhi keinginan manusia. Alam juga mempunyai keberadaannya sendiri sebagai ciptaan Allah.
Jika Allah begitu setia memelihara bumi, mengapa manusia justru sering menjadi penyebab kerusakannya?
Jawabannya berkaitan dengan keserakahan, cara pandang, dan tanggung jawab manusia.
Kita hidup dalam budaya yang sering mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang dapat dimiliki, dikuasai, dan diambil dari alam.
Manusia mengambil lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Menghasilkan lebih banyak sampah daripada yang mampu dikelola.
Di sinilah kita membutuhkan pertobatan ekologis. mengubah cara hidup yang merusak kehidupan bersama.
Kita tidak boleh menikmati berkat Tuhan hari ini dengan cara menghancurkan kehidupan anak cucu kita esok hari.
mengubah mentalitas dari pemilik menjadi pengelola.
Kita harus berhenti berpikir bahwa alam tersedia untuk dieksploitasi tanpa batas.
gereja perlu membangun kebiasaan ekologis dalam kehidupan jemaat.
Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, mengelola sampah organik,
Gerakan bank sampah bersama pemerintah dan anak PAR di giatkan dalam gereja.
menanam dan merawat pohon, menjaga sumber air, serta membangun lingkungan gereja yang bersih bukanlah tindakan kecil yang tidak berarti.
Semua itu merupakan wujud konkret iman.
mendidik generasi muda untuk mewariskan bumi yang layak dihuni.
Anak-anak dan pemuda bukan hanya penerima warisan iman, tetapi juga penerima warisan ekologis.
Selamat beribadah
Tuhan memberkati.(FKK02))