Beranda Nasional Opini Ketua Bidang DPD GAMKI Yogyakarta, Teguh Lamentur Takalapeta: Dari Ora et...

Opini Ketua Bidang DPD GAMKI Yogyakarta, Teguh Lamentur Takalapeta: Dari Ora et Labora ke Laborare est Orare, Menimbang Arah Baru Spiritualitas GAMKI

19

Yogyakarta, FKKNews.com – Ada motto yang menenangkan. Ada juga motto yang mengganggu. Yang pertama enak dipasang di baliho, dibaca di podium, dan diulang dalam sambutan. Yang kedua menuntut pertanggungjawaban. Dalam keadaan tertentu, organisasi justru membutuhkan motto jenis kedua: yang tidak sekadar terdengar saleh, tetapi memaksa dirinya bercermin.

Di titik itulah GAMKI harus mulai memikirkan pergeseran dari Ora et Labora menuju Laborare est Orare.

Sekilas, perbedaan dua frasa Latin itu tampak kecil. Ora et Labora: berdoa dan bekerja. Laborare est Orare: bekerja adalah berdoa. Tapi dalam dunia gagasan, pergeseran kecil sering menyimpan gempa besar. Yang pertama menempatkan doa dan kerja sebagai dua tindakan yang berjalan berdampingan. Yang kedua menghapus jarak itu: kerja bukan lagi akibat setelah doa, melainkan bentuk doa itu sendiri.

Bagi organisasi pemuda Kristen yang hidup di tengah kebisingan Indonesia hari ini, pergeseran itu bukan permainan kata. Ia bisa menjadi koreksi arah.

Sebab harus diakui, Ora et Labora lahir dari dunia yang berbeda. Ia berakar dalam tradisi monastik, dalam semangat hidup komunitas religius yang menata hari-harinya dengan ritme doa, kerja tangan, keheningan, dan disiplin internal. Itu adalah bahasa spiritual untuk dunia biara: dunia yang menjadikan keteraturan hidup batin sebagai poros, lalu mengaitkan kerja ke dalam poros itu. Di sana, doa dan kerja perlu disebut bersamaan karena hidup memang dibagi dalam ritme yang jelas: ada saat berdoa, ada saat bekerja, ada saat membaca, ada saat hening.

Tapi GAMKI memiliki konteksnya sendiri. Ia tidak didirikan untuk menjaga keheningan di balik tembok. Ia lahir dari sejarah bangsa yang gaduh, dari kebutuhan menghadirkan pemuda Kristen di tengah masyarakat, negara, dan pergumulan publik. Dalam AD/ART-nya pun, titik tekan organisasi ini bukan hidup kontemplatif, melainkan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan di tengah masyarakat, bangsa, dan negara. Dari titik awalnya, GAMKI memang tidak dibangun untuk menjadi komunitas yang terutama mengelola ritme batin internal. Ia dibentuk untuk keluar.

Karena itu, problem utama GAMKI hari ini bukan kekurangan kata-kata rohani. Problemnya adalah jarak antara bahasa rohani warisan lama dan medan kerja aktual yang dihadapinya sekarang.

Dalam beberapa tahun terakhir, wajah GAMKI yang paling terlihat justru bukan wajah organisasi yang sibuk mengembangkan bentuk-bentuk devosi formal, melainkan organisasi yang bekerja di ruang publik. Ia bicara tentang kebangsaan, toleransi, literasi digital, perlindungan perempuan dan anak, bantuan hukum, pemberdayaan ekonomi, dan partisipasi kaum muda dalam pembangunan. Pendeknya, GAMKI makin kentara sebagai organisasi gerak.

Di satu sisi, itu kabar baik. Setidaknya organisasi ini tidak tenggelam dalam kesalehan dekoratif yang rajin mengutip ayat, tapi gugup menyentuh kenyataan. Ia tampak paham bahwa menjadi pemuda Kristen di Indonesia tidak cukup hanya pandai berdoa di forum, melainkan harus sanggup hadir di ruang sosial yang rapuh.

Tapi di sisi lain, di sinilah Ora et Labora mulai terasa kurang tajam. Bukan karena salah, melainkan karena ia tidak lagi sepenuhnya memadai menjelaskan apa yang sedang terjadi. Frasa itu masih seolah mengandaikan ada dua ruang yang bisa dibedakan: ruang doa dan ruang kerja. Seolah-olah organisasi berdoa dulu, lalu bekerja. Seolah-olah yang satu menjadi fondasi, yang lain pelaksanaan.

Padahal realitas GAMKI sekarang justru menunjukkan sesuatu yang lain: kerja sosial, advokasi, kaderisasi, dan keberpihakan pada persoalan bangsa itulah tempat spiritualitas paling nyata muncul. Dengan kata lain, kalau mau jujur, yang paling tampak dari GAMKI hari ini bukan “berdoa dan bekerja”, melainkan “berdoa dengan bekerja”.

Di situlah Laborare est Orare menjadi lebih relevan.

Frasa itu lebih cocok untuk organisasi yang hidup di tengah dunia, bukan di luar dunia. Ia lebih jujur bagi organisasi yang iman dan spiritualitasnya tidak terutama tampil dalam ritus yang terpisah dari kehidupan sosial, tetapi menjelma dalam tindakan. Ketika GAMKI mendampingi masyarakat rentan, merawat toleransi, membela akses keadilan, mengangkat isu moral di ruang digital, atau memperjuangkan pemberdayaan kaum muda, di sanalah ia sedang berdoa dalam bentuk yang paling konkret.

Dan terus terang saja, zaman ini memang makin curiga pada doa yang tidak punya tubuh. Orang sudah terlalu sering mendengar bahasa kesalehan yang tak pernah turun ke jalan. Terlalu banyak organisasi mengaku berlandaskan iman, tapi yang lahir hanya seremoni, bukan pelayanan. Dalam iklim seperti itu, kalimat “bekerja adalah berdoa” terdengar lebih punya daging ketimbang “berdoa dan bekerja”.

Namun, justru karena lebih radikal, Laborare est Orare juga lebih berbahaya. Frasa ini tidak memberi GAMKI kemewahan untuk tampil rohani di satu sisi dan berantakan di sisi lain. Jika bekerja adalah berdoa, maka kerja yang buruk adalah doa yang buruk. Program asal jadi bukan cuma soal lemahnya manajemen, melainkan problem spiritual. Politik internal yang licik bukan sekadar soal etika organisasi, melainkan pengkhianatan terhadap iman yang diklaim. Pelayanan yang seremonial bukan hanya tidak efektif, tapi juga tidak kudus.

Di sinilah banyak organisasi biasanya mundur. Mereka senang pada motto yang terdengar gagah, tapi tidak suka pada konsekuensi yang dibawanya. Padahal jika GAMKI sungguh mau mendorong dirinya dari Ora et Labora menuju Laborare est Orare, maka yang dipertaruhkan bukan pergantian kata, melainkan kenaikan standar.

Profesionalisme akan menjadi kewajiban rohani. Tata kelola yang bersih bukan lagi sekadar syarat administratif, tetapi bentuk kesaksian. Kaderisasi yang serius bukan hanya urusan regenerasi, melainkan ibadah dalam bentuk pendidikan. Keberpihakan pada yang lemah bukan sekadar agenda sosial, melainkan ukuran sejauh mana organisasi itu masih punya jiwa. Bahkan cara menyusun anggaran, mengelola jabatan, memilih aliansi, dan menjaga independensi moral akan ikut diuji. Sebab semua itu, dalam logika Laborare est Orare, bukan perkara sampingan. Semua itu adalah doa yang sedang mengambil bentuk kelembagaan.

Tentu akan ada yang keberatan. Mengganti Ora et Labora dianggap berisiko menenggelamkan dimensi doa yang hening, reflektif, dan kontemplatif. Bukankah “bekerja adalah berdoa” bisa berubah menjadi pembenaran atas aktivisme yang lelah, gaduh, dan kehilangan akar?

Keberatan itu masuk akal. Tapi justru di situlah tantangannya: jangan pahami Laborare est Orare secara murahan. Bukan semua kerja otomatis menjadi doa. Kerja baru menjadi doa bila lahir dari iman, dijalankan dengan integritas, dan diarahkan pada pelayanan. Kalau tidak, ia cuma kesibukan. Jadi yang diganti bukan kebutuhan akan doa, melainkan cara memahami doa dalam konteks organisasi gerakan.

Karena itu, dorongan dari Ora et Labora ke Laborare est Orare sebetulnya bukan ajakan meninggalkan spiritualitas, melainkan ajakan memindahkan spiritualitas dari slogan ke mutu kerja. Ini penting sekali untuk organisasi seperti GAMKI, yang mudah tergoda menjadi terlalu simbolik di satu sisi dan terlalu pragmatis di sisi lain. Dengan motto lama, organisasi masih bisa merasa aman: seolah cukup menjaga keseimbangan antara bahasa rohani dan jasmani (kegiatan). Dengan motto baru, rasa aman itu dirusak. Organisasi dipaksa bertanya: apakah kerja kami sungguh layak disebut doa?

Itu pertanyaan yang menyakitkan. Tapi justru karena menyakitkan, ia berguna.

GAMKI hidup bukan di abad keenam, bukan di selasar biara Benediktin, melainkan di Indonesia yang panas, digital, timpang, dan penuh luka sosial. Organisasi yang lahir dari rahim pergulatan bangsa tak bisa terus bergantung pada bahasa rohani yang dibentuk untuk dunia yang lebih hening dan tertata. Ia membutuhkan bahasa yang lebih cocok dengan panggilannya sendiri: bahasa yang mampu menyatukan iman, kerja, pelayanan, dan tanggung jawab publik dalam satu tarikan napas.

Dan untuk itu, Laborare est Orare menawarkan sesuatu yang lebih keras, lebih jujur, sekaligus lebih berisiko.

Tapi mungkin memang hanya motto yang berisiko yang masih pantas dipakai organisasi yang mengaku mau melayani zaman.

Sebab pada akhirnya, masalah GAMKI bukan apakah ia cukup sering menyebut Tuhan dalam forum-forumnya. Masalahnya jauh lebih telanjang: apakah cara ia bekerja membuat orang masih bisa percaya bahwa iman punya arti di ruang publik.

Kalau jawabannya ingin tetap “ya”, GAMKI tak cukup lagi hanya berdoa dan bekerja.

Ia harus bekerja sedemikian rupa, sehingga kerjanya sendiri layak disebut doa.

Selamat Dies Natalis ke-64 Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI).

Cinta Tuhan, Cinta Nusa Bangsa.

Laborare est Orare. Opini Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil (Ketua Bidang DPD GAMKI D.I. Yogyakarta). (*fkk).

 

Artikulli paraprakGAMKI Manggarai Gandeng KPAD Sosialisasikan Bahaya HIV/AIDS di Momentum Dies ke-64

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini