Kupang, FKKNews.com – Malam penghargaan Dies Natalis ke-64 GAMKI NTT di GMIT Moria Liliba, Kamis malam (23/4/2026) bukan hanya panggung seremoni. Di tengah sorotan tokoh-tokoh besar daerah, ada satu kisah yang membuat banyak mata tertuju haru: kisah seorang perempuan muda penyandang disabilitas yang menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan perubahan.
Elmi Sumarni Ismau, aktivis difabel asal Kota Kupang ini, dianugerahi Young Impact Leader Award GAMKI Award 2026 atas dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas dan membangun gerakan inklusi di Nusa Tenggara Timur.
Ketua DPD GAMKI NTT, Winston Rondo, menegaskan bahwa penghargaan ini diberikan bukan sekadar karena inspirasi, tetapi karena dampak nyata yang telah dihasilkan Elmi di tengah masyarakat.
“Malam ini kita tidak hanya memberi penghargaan. Kita sedang meneguhkan harapan bahwa perubahan itu lahir dari ketulusan dan kerja yang setia,” ujar Winston Rondo.
Bangkit dari Keterpurukan, Menjadi Suara bagi yang Tak Didengar
Kisah Elmi bukan kisah biasa. Pada tahun 2010, sebuah kecelakaan tragis mengubah hidupnya secara total. Ia kehilangan kedua kakinya dan harus menjalani hidup sebagai penyandang disabilitas daksa. Namun dari titik terendah itu, ia justru menemukan panggilannya.
Alih-alih menyerah, Elmi memilih bangkit. Ia melanjutkan pendidikan, aktif dalam gerakan sosial, dan mulai memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas yang sering terpinggirkan.
Dari perjuangan itu lahirlah GARAMIN NTT (Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi), sebuah organisasi yang ia dirikan bersama lima rekannya. Gerakan ini menjadi ruang advokasi, edukasi, dan pemberdayaan bagi difabel di NTT.
Berdasarkan berbagai catatan gerakan sosial, GARAMIN kini telah berkembang sebagai jaringan inklusi yang aktif mendorong desa-desa inklusif, advokasi kebijakan publik, hingga pendidikan kesadaran masyarakat tentang kesetaraan difabel di NTT.
Mengubah Luka Menjadi Gerakan Perubahan
Di bawah kepemimpinan Elmi, GARAMIN tidak hanya berbicara tentang belas kasihan, tetapi tentang kesetaraan dan martabat manusia.
Gerakan ini aktif dalam:
– advokasi kebijakan publik untuk difabel,
– pelatihan jurnalisme warga,
– pendampingan desa inklusi,
– serta kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan organisasi sosial dalam penguatan data dan kebijakan disabilitas.
Elmi juga dikenal vokal dalam mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap difabel, dari objek belas kasihan menjadi subjek pembangunan.
“Kami ingin difabel dilihat sebagai manusia yang berdaya, bukan sebagai beban,” demikian semangat yang kerap ia sampaikan dalam berbagai forum advokasi.
Dari Kupang untuk Indonesia: Jejak Pengakuan Nasional
Dedikasinya tidak berhenti di tingkat lokal. Elmi bersama GARAMIN NTT juga pernah mendapatkan pengakuan nasional melalui SATU Indonesia Awards 2021, atas kiprahnya dalam memperjuangkan inklusi di masa pandemi dan penguatan komunitas difabel di NTT.
Gerakan yang ia bangun bahkan telah menjadi bagian dari jaringan advokasi yang lebih luas, termasuk keterlibatan dalam penyusunan kebijakan daerah dan kerja sama lintas lembaga untuk memastikan aksesibilitas difabel dalam pembangunan daerah.
Air Mata Haru di Panggung Penghargaan
Saat namanya dipanggil sebagai penerima Young Impact Leader Award, suasana ruangan sejenak hening.
Elmi yang datang dengan kursi rodanya tampak menahan haru. Tepuk tangan panjang dari para tamu undangan termasuk Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Ketua Sinode GMIT Pdt. Semuel Pandie, hingga kader GAMKI se-NTT mengiringi langkahnya menuju panggung.
Malam itu, penghargaan bukan hanya simbol prestasi. Ia menjadi pengakuan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi besarnya dampak seseorang.
Perubahan Itu Nyata dan Dimulai dari Orang Biasa
Dalam penutupnya, Winston Rondo kembali menegaskan bahwa GAMKI Award adalah ruang untuk melihat perubahan yang sering tidak terlihat.
“Elmi adalah bukti bahwa perubahan tidak selalu lahir dari mereka yang berada di pusat kekuasaan, tetapi dari mereka yang setia bekerja dalam keterbatasan,” ujarnya.
Harapan yang Terus Menyala
Dari ruang sederhana di Kupang, Elmi Ismau telah membuktikan bahwa luka bisa menjadi jalan lahirnya gerakan besar.
GAMKI Award 2026 bukan akhir dari perjalanan, tetapi penguatan pesan: bahwa harapan untuk NTT tidak pernah mati—ia hanya berpindah tangan kepada mereka yang mau terus bekerja.





















































