1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Persoalan pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan semata-mata tentang bagaimana petani menanam dan memanen. Di balik setiap lahan yang digarap, terdapat persoalan air, infrastruktur, akses produksi, modal, hingga kepastian pasar yang selama bertahun-tahun menjadi pekerjaan rumah pembangunan.
Karena itu, pembangunan jaringan irigasi menjadi salah satu kebutuhan strategis untuk membuka kembali potensi lahan pertanian yang selama ini belum produktif secara maksimal.
Harapan tersebut kini mulai dirasakan masyarakat Desa Alaang, Kecamatan Alor Barat Laut. Melalui aspirasi Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat, masyarakat mendapatkan dukungan pembangunan Jaringan Irigasi Tersier (JIT) yang dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat desa.
Pembangunan tersebut dipantau langsung oleh Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Alor sekaligus Anggota DPRD Alor Daerah Pemilihan (Dapil) V, Deni Padabang, bersama mantan Anggota DPRD Alor sekaligus pengurus Partai NasDem, Dony Mooy, Selasa (11/8/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat perkembangan pekerjaan fisik. Bagi masyarakat, kehadiran para wakil rakyat menjadi ruang untuk menyampaikan kebutuhan sekaligus memperlihatkan secara langsung potensi pertanian yang dapat dikembangkan apabila didukung infrastruktur yang memadai.
Ketua LPM Desa Alaang, Dominggus Ouw, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan melalui bantuan aspirasi Julie Laiskodat. Menurutnya, bantuan tersebut menjadi bukti bahwa Anggota DPR RI melihat dan menjawab persoalan masyarakat di desa, khususnya petani yang masih mendapat perhatian di desa Alaang, dusun satu.
Hal senada disampaikan Sekretaris Kelompok, Abner Aka. Ia menjelaskan bahwa pembangunan irigasi di wilayah tersebut telah berlangsung dalam beberapa tahap.
Menurut Abner, untuk tahun 2025 masyarakat mendapatkan pembangunan irigasi sepanjang sekitar 330 meter yang tersebar pada tiga titik wilayah, termasuk kawasan yang berbatasan dengan Desa Aimoli.
Sementara pada tahun 2026, pembangunan kembali dilanjutkan dengan volume sekitar 334 meter.
Anggaran pembangunan tersebut disebut mencapai sekitar Rp195 juta, yang bersumber dari aspirasi Julie Sutrisno Laiskodat.
“Untuk kami di Alaang, kegiatan ini sangat berarti. Kami masyarakat, terutama kelompok pemuda, ikut mengambil bagian penuh dalam pekerjaan ini. Kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan pertanian bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi masyarakat juga siap bekerja dan mengelolanya, kami siap memberi dukungan kepada Bunda Julie” ujar Abner.
Menurutnya, pola swakelola memberikan ruang yang besar kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembangunan. Selain menghasilkan infrastruktur, kegiatan tersebut juga menggerakkan tenaga masyarakat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan.
Irigasi Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Masa Depan Petani
Lebih jauh, Abner mengatakan bahwa potensi lahan di sekitar lokasi pembangunan sangat besar. Bahkan terdapat lahan tidur yang diperkirakan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan persawahan dengan luas sekitar 500 x 500 meter hingga menuju kawasan kali yang berbatasan dengan wilayah Adang.
Potensi tersebut semakin terbuka karena sumber air tersedia.
Namun, masyarakat masih menghadapi persoalan kondisi bendungan yang belum optimal. Karena itu, mereka berharap pembangunan jaringan irigasi dapat dilanjutkan dengan peningkatan kualitas bendungan sehingga pasokan air untuk pertanian dapat lebih terjamin.
“Kami berharap ke depan bukan hanya irigasi yang dibangun. Kalau bendungan bisa diperbaiki dan dibuat lebih baik, maka pasokan air akan semakin aman. Dengan begitu lahan yang selama ini belum produktif bisa benar-benar dimanfaatkan menjadi lahan pertanian,” katanya.
Masyarakat juga berharap perhatian pembangunan tidak berhenti pada sektor irigasi. Mereka menyampaikan kebutuhan terhadap dukungan lain, seperti jalan ekonomi, perumahan, sektor kelautan, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat.
“Bantuan tidak hanya irigasi. Kami juga membutuhkan jalan ekonomi, kelautan, perumahan dan bentuk bantuan lainnya yang dapat dikelola melalui desa maupun kelompok masyarakat untuk kesejahteraan bersama,” ujar Abner.
Deni Padabang: Jangan Hanya Bangun Irigasi, Bangun Ekosistem Pertanian
Sementara itu, Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Alor, Deni Padabang, mengatakan pembangunan infrastruktur pertanian harus dilihat dalam kerangka yang lebih besar.
Menurutnya, irigasi tidak boleh berhenti sebagai proyek fisik. Infrastruktur tersebut harus menjadi pintu masuk untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani.
“Kita tidak boleh berpikir bahwa ketika irigasi selesai dibangun, maka persoalan petani selesai. Justru irigasi adalah awal dari sebuah ekosistem pertanian. Setelah air tersedia, kita harus berpikir tentang lahannya, bibitnya, produksinya, teknologi pertaniannya, jalan ekonominya sampai pasarnya,” tegas Deni.
Ia mengatakan, Kabupaten Alor memiliki banyak potensi pertanian yang belum dikembangkan secara maksimal. Persoalannya bukan semata-mata kemampuan petani, tetapi juga dukungan infrastruktur dan kebijakan yang terintegrasi.
Karena itu, menurut Deni, pembangunan pertanian harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
“Petani tidak membutuhkan janji yang terlalu tinggi. Petani membutuhkan air yang tersedia, jalan yang bisa dilalui, sarana produksi yang terjangkau, hasil panen yang memiliki pasar dan harga yang layak. Kalau itu bisa kita hadirkan secara konsisten, maka pertanian akan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Deni juga menilai keterlibatan masyarakat dalam pembangunan secara swakelola merupakan hal penting. Masyarakat bukan hanya penerima manfaat, tetapi harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan.
“Saya melihat masyarakat Alaang memiliki semangat yang luar biasa. Mereka tidak hanya meminta bantuan, tetapi juga menunjukkan kesiapan untuk bekerja dan bertanggung jawab terhadap pembangunan. Ini yang harus kita dorong,” katanya.
Aspirasi Politik Harus Berujung pada Kesejahteraan
Deni menegaskan, politik pada akhirnya harus menghadirkan manfaat konkret bagi masyarakat.
Menurutnya, aspirasi anggota legislatif akan kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
“Bagi kami di NasDem, politik harus bekerja untuk rakyat. Aspirasi yang diperjuangkan di tingkat pusat harus bisa dirasakan masyarakat di desa. Karena ukuran keberhasilan perjuangan politik bukan hanya berapa banyak program yang dibawa, tetapi seberapa besar program itu mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Julie Sutrisno Laiskodat yang terus memberikan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat di Alor melalui aspirasi yang diperjuangkannya.
Deni berharap sinergi antara pemerintah, DPR RI, DPRD, pemerintah desa dan masyarakat dapat terus diperkuat agar pembangunan tidak berjalan secara parsial.
“Kalau kita bicara kesejahteraan masyarakat, maka semua harus duduk bersama. Pemerintah menyediakan kebijakan, DPR memperjuangkan anggaran dan pengawasan, masyarakat mengelola serta menjaga hasil pembangunan. Kalau semua berjalan bersama, maka pembangunan akan lebih kuat,” ujarnya.
Alaang dan Harapan Menjadi Sentra Pertanian
Abner menambahkan, selama sekitar 30 tahun hidup di Desa Alaang, dirinya belum melihat banyak dukungan pembangunan fisik dari anggota DPR RI yang secara langsung menyentuh kebutuhan pertanian masyarakat seperti yang dirasakan saat ini.
Karena itu, masyarakat memberikan apresiasi terhadap perhatian Julie Laiskodat dan berharap dukungan tersebut dapat berkelanjutan.
“Selama saya hidup kurang lebih 30 tahun di Alaang, saya tahu bahwa sebelumnya belum ada bantuan seperti ini dari anggota DPR RI. Kami sangat berterima kasih. Mudah-mudahan ke depan perhatian terhadap masyarakat Alaang terus diberikan,” ungkapnya.
Bagi masyarakat Alaang, pembangunan irigasi bukan hanya tentang 330 atau 334 meter saluran air. Lebih jauh dari itu, irigasi adalah harapan untuk menghidupkan lahan tidur, membuka peluang persawahan, memperkuat ekonomi keluarga dan menciptakan masa depan baru bagi generasi muda desa.
Dan dari sebuah saluran air yang dibangun secara swakelola, masyarakat Alaang sedang memperlihatkan satu pesan sederhana bahwa ketika infrastruktur bertemu dengan gotong royong dan keberpihakan kebijakan, lahan yang sebelumnya tidur dapat berubah menjadi sumber kehidupan.
Ke depan, tantangannya adalah memastikan pembangunan tidak berhenti pada proyek, tetapi berlanjut menjadi produksi, produktivitas, pasar dan kesejahteraan petani Alor. (FKK/Eka Blegur).