Popular Posts

20260901 162833 scaled

Technical Meeting Bintang Mercy Cup II Diikuti 42 Tim, Winston Rondo: Bertanding Keras, Tetap Bersaudara

Kupang, FKKNews.com — Sebanyak 42 tim, terdiri dari 33 tim putra dan 9 tim putri, ambil bagian dalam Turnamen Bintang Mercy Cup (BMC) II. Menjelang dimulainya kompetisi, seluruh peserta mengikuti Technical Meeting (TM) untuk menyatukan pemahaman terkait regulasi dan teknis pertandingan, Selasa (1/9/2026).

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Kupang, Winston Rondo, menegaskan bahwa Bintang Mercy Cup tidak boleh hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi harus menjadi ruang pembinaan dan pengembangan olahraga bola voli di Kabupaten Kupang.

Peningkatan jumlah peserta dari 26 tim pada penyelenggaraan sebelumnya menjadi 42 tim tahun ini, menurut Winston, menunjukkan semakin besarnya antusiasme masyarakat terhadap turnamen tersebut.

“Dari 26 tim tahun lalu menjadi 42 tim tahun ini menunjukkan bahwa Bintang Mercy Cup bukan lagi sekadar turnamen, tetapi sudah menjadi ruang besar bertumbuhnya voli Kabupaten Kupang,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan seluruh peserta bahwa berbagai persoalan teknis harus diselesaikan dalam Technical Meeting sebelum pertandingan berlangsung.

Regulasi, pemain, jadwal, sistem pertandingan, kewenangan wasit hingga mekanisme protes harus dipahami dan disepakati bersama.

“Lebih baik kita berdebat di meja Technical Meeting daripada bertengkar di lapangan. Setelah disepakati, mari kita hormati bersama,” katanya.

Ia meminta seluruh peserta menghormati keputusan wasit selama pertandingan. Jika terdapat keberatan, protes harus dilakukan melalui mekanisme resmi yang telah ditentukan panitia.

“Bertandinglah keras, proteslah dengan prosedur, dan tetaplah bersaudara setelah pertandingan,” pesannya.

Ia juga menegaskan pentingnya netralitas panitia. Seluruh peserta harus mendapatkan pelayanan yang sama tanpa adanya perlakuan khusus terhadap tim tertentu.

“Tuan rumah boleh punya tim favorit, tetapi panitia tidak boleh punya favorit. Kredibilitas turnamen jauh lebih penting daripada siapa yang menjadi juara,” tegasnya.

Menurutnya, salah satu tujuan penting BMC II adalah menemukan pemain-pemain muda potensial yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari masa depan bola voli Kabupaten Kupang.

“Bintang Mercy Cup harus menjadi tempat lahirnya pemain-pemain baru Kabupaten Kupang. Karena itu mari kita cari bukan hanya siapa yang membawa pulang piala, tetapi siapa talenta muda yang muncul dari turnamen ini,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan turnamen tidak hanya ditentukan oleh siapa yang keluar sebagai juara, tetapi juga oleh dampaknya terhadap perkembangan olahraga.

“43 tim datang untuk bertarung. Hanya beberapa yang akan menjadi juara. Tetapi kalau turnamen ini berlangsung tertib dan melahirkan talenta baru, maka sesungguhnya kita semua menang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Nunsaen, Litherheart A. Niuflapu, menyambut seluruh peserta yang datang mengikuti Bintang Mercy Cup II.

Ia berharap penyelenggaraan turnamen tersebut ikut memperkenalkan Noemuti kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

“Atas nama tuan rumah, kami mengucapkan selamat datang. Mudah-mudahan melalui turnamen kali ini, Noemuti lebih dikenal lagi,” ujarnya.

Sebagai tuan rumah, ia mengajak seluruh peserta, ofisial, panitia dan suporter untuk bersama-sama menjaga keamanan selama turnamen berlangsung.

Menurutnya, keamanan dapat dimulai dari kemampuan masing-masing pihak untuk mengendalikan diri.

“Kita berharap kita menjadi keamanan untuk diri kita sendiri. Kalau kita mampu mengamankan diri kita, saya yakin kegiatan ini akan berakhir dengan baik dan damai,” katanya.

Ia juga berharap Bintang Mercy Cup dapat terus dilaksanakan dan berkembang pada tahun-tahun mendatang.

“Ini adalah turnamen yang kedua. Harapan kami, mudah-mudahan turnamen ini tetap eksis ke depan,” ujarnya.

Ia turut menyampaikan permohonan maaf kepada peserta apabila selama pertandingan terdapat kondisi yang kurang nyaman, terutama berkaitan dengan kondisi lapangan.

Ia mengakui terdapat lapangan lain di wilayah tersebut yang dinilai lebih memenuhi standar pertandingan. Namun, panitia akhirnya memilih lokasi yang digunakan saat ini karena mempertimbangkan dukungan masyarakat sekitar.

“Saya sempat keberatan karena lapangannya kurang memungkinkan. Sebenarnya lapangan yang di Gabuka, di SD, lebih memenuhi standar. Hanya karena panitia melihat dukungan masyarakat sekitar lebih mendukung, sehingga memilih di sini,” jelasnya.

Ia mengatakan lapangan yang digunakan telah diperbaiki dan berharap perbaikan tersebut dapat memberikan kenyamanan bagi pemain, pelatih maupun ofisial.

Menurutnya, masih terdapat lapangan yang dinilai layak di Dusun IV. Namun, faktor jarak menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi pertandingan.

Ia berharap ke depan fasilitas olahraga di Desa Nunsaen dapat terus diperbaiki dan dikembangkan.

Ia juga meminta seluruh persoalan yang berpotensi menimbulkan perselisihan diselesaikan dalam Technical Meeting sebelum pertandingan dimulai.

Ia mengajak manajer, pelatih dan pemain membangun komunikasi di dalam tim, termasuk memberikan pemahaman kepada suporter agar tidak mudah terpancing selama pertandingan.

“Semua perselisihan yang akan terjadi kita selesaikan saat ini. Sehingga saat bertanding juga tidak ada lagi perselisihan,” tegasnya.

Ia meminta setiap tim ikut mengendalikan suporternya dan menghormati keputusan perangkat pertandingan.

Jika terdapat keberatan terhadap keputusan wasit, peserta diminta menggunakan jalur protes yang telah disiapkan panitia.

“Apapun itu, keputusan wasit di lapangan adalah keputusan tertinggi. Sedangkan untuk protes, kita bisa melalui jalur yang disiapkan oleh panitia,” pungkasnya.


Bintang Mercy Cup II diharapkan tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga menjadi wadah pembinaan pemain muda sekaligus memperkuat hubungan antarkomunitas dan masyarakat melalui olahraga bola voli.(FKK02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *