1
1
1
2
3
Kupang, FKKNews.com – Gerakan ekologis yang digagas DPD GAMKI NTT terus menunjukkan konsistensi dan berdampak nyata. Hingga awal 2026, GAMKI NTT bersama mitra-mitranya telah menanam berbagai jenis pohon produktif dan konservatif—mulai dari Asam Timor hingga Kopi—di sejumlah kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur.
Aksi tanam yang dilakukan secara berkelanjutan di berbagai wilayah ini menjadi bagian dari komitmen besar GAMKI NTT dalam mewujudkan target penanaman 1 juta pohon sebagai kontribusi nyata bagi pemulihan lingkungan dan mitigasi bencana.
Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui aksi lanjutan penanaman anakan Kopi dan Asam Timor yang digelar di Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan ini melibatkan kader-kader GAMKI NTT dan CIS Timor, serta mendapat dukungan berbagai unsur pemerintah, gereja, dan komunitas kebencanaan.
Sebelum penanaman, seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti ibadah Minggu bersama Jemaat GMIT Fatusuki Naifalo. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Kupang, Camat Fatuleu Tengah, Pemerintah Desa Nunsaen, serta Ketua Majelis Jemaat GMIT Fatusuki Naifalo bersama jemaat.
GAMKI Berdampak bagi Alam
Aksi penanaman ini tidak sekadar simbol seremonial, melainkan bagian dari gerakan ekologis berkelanjutan yang menempatkan pemuda Kristen sebagai pelopor kepedulian lingkungan. Pohon-pohon yang ditanam menjadi harapan hidup baru bagi alam sekaligus warisan ekologis bagi generasi mendatang.
Sekretaris DPD GAMKI NTT, Amos Lafu, S.H., M.H., yang memimpin langsung kegiatan tersebut, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan wujud nyata iman yang diwujudkan dalam tindakan.
“Penanaman anakan pohon asam di lokasi bekas dan berpotensi longsor merupakan salah satu cara GAMKI merestorasi ekosistem dan menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana jangka panjang,” ujar Amos.
Ia menjelaskan, Asam Timor dipilih karena memiliki akar tunggang yang kuat, mampu bertahan di lahan marginal, serta berumur panjang. Sistem perakarannya berfungsi sebagai jangkar alami yang mengikat tanah dan mencegah terjadinya pergeseran atau longsor.
Selain fungsi ekologis, pohon asam juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui hasil buahnya, sehingga mendorong warga untuk ikut menjaga dan melestarikannya.
Tak hanya itu, GAMKI NTT juga menanam anakan kopi di sekitar titik mata air Desa Nunsaen. Menurut Amos, kopi dipilih sebagai tanaman agroforestri yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam konservasi air dan keseimbangan ekosistem.
“Pohon kopi menjadi bagian dari sistem agroforestri yang menyeimbangkan kebutuhan manusia dengan kelestarian alam,” jelasnya.
Apresiasi Pemerintah dan Gereja
Camat Fatuleu Tengah, Gratia S. B. Rawis, S.IP., M.M., menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas aksi nyata yang dilakukan GAMKI NTT bersama GMIT dan CIS Timor.
“Terima kasih sudah memberi contoh yang baik bagi kami di Fatuleu Tengah. Kami sering mendengar berbagai program GAMKI NTT, tetapi hari ini kami merasakan langsung dampak positifnya,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Desa Nunsaen, Literhaert Niuflapu, mengapresiasi dedikasi GAMKI NTT dalam program reboisasi di wilayahnya. Menurutnya, langkah yang dilakukan hari ini akan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GMIT Fatusuki Naifalo, Pdt. Margarita Lay Klakik, S.Th., mengungkapkan rasa syukur atas kebersamaan antara jemaat dan GAMKI NTT.
“Ini kebersamaan yang penuh sukacita dan berkat. Kami berharap program seperti ini terus dijalankan dan tidak berhenti sampai di sini,” ujarnya. (*/FKK)