1
1
Kupang, FKKNews.com — Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Nusa Tenggara Timur membuka ruang kolaborasi strategis bersama Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat percakapan publik mengenai ekonomi kreatif, potensi daerah, dan arah pembangunan ekosistem kreatif di NTT, Sabtu (10/10/2026).
Hal tersebut mengemuka dalam audiensi Koordinator Daerah ICCN Nusa Tenggara Timur, Ivan R. Rondo, dengan Pimpinan LPP TVRI Nusa Tenggara Timur.
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama sekaligus persiapan program Road to WCCE 2026 yaitu Menjaring Suara Ekraf Daerah untuk Dunia.
Audiensi ini menjadi langkah awal bagi ICCN NTT dan TVRI NTT untuk membangun kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan satu kegiatan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi berkelanjutan dalam menghadirkan ruang dialog mengenai ekonomi kreatif, potensi daerah, komunitas, inovasi, dan pembangunan.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala LPP TVRI NTT menyambut positif rencana kolaborasi bersama ICCN NTT. Kerja sama ini dipandang membuka peluang bagi TVRI NTT untuk menghadirkan ruang dialog publik yang mengangkat potensi, kreativitas, serta gagasan pembangunan daerah, khususnya dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu ruang percakapan yang konstruktif.
Melalui program seperti “Bincang Santai Hexahelix Menuju WCCE 2026”, potensi dan persoalan ekonomi kreatif NTT dapat dibahas secara lebih luas dengan melibatkan pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, media, dan unsur masyarakat lainnya.
Dukungan TVRI NTT menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan kerja sama yang tidak berhenti pada satu kegiatan penyiaran, tetapi dapat dilanjutkan melalui program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Melalui kolaborasi ini, pelaku dan komunitas kreatif diharapkan memperoleh ruang lebih luas untuk memperkenalkan karya, menyampaikan gagasan, serta membicarakan peluang dan tantangan pengembangan ekonomi kreatif di NTT.
Bagi ICCN NTT, dukungan tersebut merupakan langkah penting untuk mempertemukan gagasan pengembangan ekonomi kreatif dengan jangkauan komunikasi publik yang lebih luas.
TVRI NTT tidak hanya diposisikan sebagai mitra penyiaran, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem kolaborasi yang dapat membantu menghubungkan potensi lokal, gagasan kreatif, dan kepentingan pembangunan daerah.
Korda ICCN NTT, Ivan R. Rondo, menjelaskan bahwa audiensi tersebut merupakan bagian dari upaya membangun jejaring kolaborasi untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Timur.
Menurut Ivan, ekonomi kreatif tidak dapat dibangun oleh satu pihak atau hanya melalui program pemberdayaan yang berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan keterhubungan antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, media, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Ekonomi kreatif tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Kita membutuhkan pemerintah, komunitas, kampus, dunia usaha, perbankan, media, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Karena itu, kita membutuhkan ruang untuk mempertemukan mereka dalam sebuah percakapan yang konstruktif,” ujarnya.
Ia menilai media memiliki posisi strategis dalam memperluas percakapan publik mengenai ekonomi kreatif. Melalui media, potensi daerah dapat diperkenalkan, persoalan yang dihadapi pelaku kreatif dapat dibicarakan, dan gagasan dari berbagai pihak dapat dipertemukan untuk mencari arah pengembangan yang lebih terukur.
“Kami melihat TVRI bukan hanya sebagai tempat untuk menyiarkan sebuah kegiatan. TVRI bisa menjadi mitra dalam membangun ruang percakapan publik tentang potensi dan masa depan ekonomi kreatif NTT,” katanya.
Dari audiensi tersebut, ICCN NTT dan TVRI NTT membahas gagasan untuk menghadirkan “Bincang Santai Hexahelix” sebagai langkah awal kolaborasi dalam rangkaian Road to WCCE 2026.
Program ini dirancang untuk mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem ekonomi kreatif dan membuka dialog mengenai bagaimana potensi daerah dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Kegiatan perdana direncanakan mengangkat tema “Kupang Kota Kreatif: Dari Potensi Menjadi Kekuatan Ekonomi”, dengan subtema “Kota Kupang sebagai Role Model Pengembangan Ekosistem Ekonomi Kreatif yang Dapat Direplikasi di Nusa Tenggara Timur.”
Menurutnya, pemilihan Kota Kupang bukan berarti menganggap bahwa seluruh persoalan ekonomi kreatif NTT dapat diselesaikan dari ibu kota provinsi.
Kota Kupang justru dipilih sebagai titik awal untuk membaca ekosistem secara lebih konkret karena mempertemukan beragam aktor, institusi pendidikan, aktivitas perdagangan, komunitas, dan potensi kreatif.
“Kupang kita jadikan titik masuk untuk melihat apa yang kita punya, apa yang belum terhubung, dan apa yang perlu diperkuat. Dari sana kita bisa belajar dan melihat apa yang mungkin dikembangkan atau direplikasi di kabupaten dan kota lain di NTT,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembahasan ekonomi kreatif tidak cukup hanya melihat jumlah pelaku, kegiatan, atau program yang telah dilaksanakan. Hal yang perlu diperhatikan adalah hubungan antarpelaku dan mata rantai yang membentuk ekosistem, termasuk sumber daya manusia, pendidikan, riset, pembiayaan, pasar, infrastruktur, data, kebijakan, pariwisata, dan dunia usaha.
“Kita tidak kekurangan kreativitas. Yang perlu kita bangun adalah ekosistem yang membuat kreativitas menjadi kekuatan ekonomi,” tegasnya.
Perspektif tersebut menjadi dasar bagi ICCN NTT untuk mendorong perubahan cara pandang terhadap ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif perlu dilihat bukan semata-mata sebagai kegiatan menghasilkan produk atau memberikan pelatihan kepada pelaku, melainkan sebagai ekosistem ekonomi yang menghubungkan kreativitas, pengetahuan, karya, teknologi, pembiayaan, akses pasar, dan penciptaan nilai tambah.
Dalam kerangka itu, kolaborasi lintas sektor menjadi penting agar berbagai program yang telah berjalan dapat saling terhubung, menjangkau kebutuhan pelaku secara lebih tepat, dan membuka peluang bagi tumbuhnya usaha, lapangan kerja, inovasi, serta pengembangan pariwisata berbasis kreativitas dan budaya lokal.
Kolaborasi ICCN NTT dan TVRI NTT merupakan bagian dari rangkaian Road to WCCE 2026 – Menjaring Suara Ekraf Daerah untuk Dunia. World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta menjadi ruang internasional untuk mempertemukan gagasan dan pengalaman mengenai pengembangan ekonomi kreatif.
Melalui rangkaian kegiatan ini, pengalaman, persoalan, potensi, dan aspirasi dari daerah diharapkan dapat dihimpun agar suara pelaku dan pemangku kepentingan daerah ikut menjadi bagian dari pembahasan ekonomi kreatif pada tingkat nasional maupun internasional.
Karena itu, kegiatan “Bincang Santai Hexahelix” di NTT diharapkan tidak berhenti sebagai acara televisi. Hasil dialog akan diarahkan untuk merumuskan tiga hingga lima agenda strategis sebagai “Suara Ekonomi Kreatif NTT”, yang dapat menjadi masukan bagi ICCN dalam rangkaian menuju WCCE 2026 sekaligus menjadi bahan awal bagi tindak lanjut pengembangan ekosistem ekonomi kreatif di daerah.
“Yang ingin kita bangun bukan hanya sebuah acara, tetapi proses. Kita mulai dari percakapan, kemudian pemetaan, lalu kolaborasi, dan pada akhirnya kita berharap ada langkah nyata yang bisa dikembangkan bersama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa langkah awal yang diperlukan adalah membangun kesepahaman antarpemangku kepentingan mengenai potensi yang dimiliki, persoalan yang perlu diselesaikan, hubungan yang belum terbentuk, serta peran yang dapat dijalankan oleh masing-masing pihak.
Dari proses tersebut, diharapkan muncul dasar bersama untuk memperkuat kelembagaan kolaboratif, menghubungkan program dan sumber daya, serta merumuskan langkah pengembangan ekonomi kreatif yang lebih terarah di Kota Kupang dan Provinsi NTT.
Bagi ICCN NTT, kolaborasi dengan TVRI NTT juga sejalan dengan semangat Hexahelix, yaitu membangun keterhubungan antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, dan unsur pendukung lainnya. Setiap unsur memiliki peran berbeda, tetapi dapat saling menguatkan apabila dihubungkan melalui tujuan dan agenda bersama.
Ke depan, kerja sama ini diharapkan dapat berkembang melalui berbagai program yang menghadirkan cerita, gagasan, potensi, karya, dan persoalan ekonomi kreatif NTT kepada masyarakat. Dengan demikian, media penyiaran publik tidak hanya menjadi saluran informasi, tetapi juga turut menyediakan ruang bagi dialog, pertukaran gagasan, dan penguatan jejaring kreatif daerah.
Audiensi ICCN NTT dengan Pimpinan LPP TVRI NTT menjadi langkah awal menuju agenda yang lebih besar: “Kupang menjadi laboratorium, NTT menjadi ruang replikasi, dan WCCE menjadi ruang membawa suara daerah ke dunia.”
Melalui kolaborasi ini, ICCN NTT dan TVRI NTT berharap semakin banyak ruang terbuka bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk membicarakan masa depan ekonomi kreatifnya—bukan hanya sebagai sektor kegiatan, tetapi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi, penciptaan nilai tambah, dan pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Tentang ICCN NTT
Indonesia Creative Cities Network (ICCN) merupakan jejaring yang mendorong pengembangan kota dan kabupaten kreatif melalui kolaborasi lintas sektor.
Di Nusa Tenggara Timur, ICCN berperan menghubungkan komunitas, pelaku ekonomi kreatif, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dunia usaha, media, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah.(FKK02)