Tulisan ini merupakan refleksi kontekstual atas Seruan Paskah DPP GAMKI 2026.
Sebagai pemuda Kristen di bumi Nusa Tenggara Timur (NTT), kita tidak hanya membaca seruan ini sebagai dokumen organisasi, tetapi sebagai panggilan iman untuk mengejawantahkan makna Paskah di tengah derita dan harapan rakyat kita.
Paskah: Bukan Seremoni, Tapi Empati
Paskah tahun ini menyapa kita saat dunia sedang tidak baik-baik saja—terjebak dalam labirin ketidakpastian global dan krisis iklim yang nyata.
Namun, bagi kita di NTT, Paskah bukanlah sekadar rutinitas liturgis yang beku dalam seremoni.
Paskah adalah proklamasi bahwa kubur yang kosong adalah kemenangan atas rantai ketidakadilan yang membelenggu kaum tertindas.
Salib yang kita pikul di NTT hari ini sangat nyata: kemiskinan yang masih mencekik, stunting yang mengancam masa depan anak-anak kita, hingga krisis air yang menahun.
Inilah “salib utama” kehadiran GAMKI. Jika Kristus menderita untuk menebus manusia, maka kehadiran GAMKI harus menjadi jawaban atas penderitaan rakyat Flobamora.
Menanam Kehidupan di Tanah Kering
Salah satu poin krusial seruan Paskah tahun ini adalah kampanye “Tanam Air”.
Di NTT, ini bukan sekadar urusan menanam pohon, melainkan sebuah “Liturgi Hijau”—ibadah nyata untuk memulihkan ekosistem yang rusak.
Kita dipanggil menjadi “Penjaga Taman Eden” di tengah anomali cuaca yang merusak tatanan pertanian kita.
Kita tidak boleh lagi membiarkan beban ekologis ini hanya ditanggung oleh petani kecil dan masyarakat marginal.
Paskah memanggil pemuda Kristen untuk bangkit dari zona nyaman, turun ke tanah, dan memastikan bahwa air kehidupan kembali mengalir di desa-desa kita.
Solidaritas Tanpa Batas: Disabilitas dan HIV/AIDS
Kebangkitan Kristus adalah manifesto bagi mereka yang suaranya dibungkam dan tubuhnya disisihkan. GAMKI NTT mempertegas komitmen “NTT Inklusi”, sebuah perjuangan untuk memastikan bahwa saudara-saudara kita penyandang disabilitas mendapatkan hak, akses, dan martabat yang setara dalam pembangunan.
Lebih jauh lagi, Paskah memanggil kita untuk meruntuhkan tembok stigma. Melalui kampanye yang kami suarakan di Orela TV GAMKI, kami menegaskan komitmen untuk melawan segala bentuk diskriminasi terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV).
Kita menolak keras penghakiman moralistik yang sempit. Sebagaimana Kristus merangkul mereka yang dikucilkan, GAMKI berdiri sebagai garda terdepan untuk menghapus stigma, termasuk bagi para pelayan Tuhan dan pendeta yang hidup dengan HIV/AIDS.
Kita tidak dipanggil untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan bilur-bilur sosial melalui kasih yang tulus.
Keadilan dan Kemandirian
Salib ketidakadilan juga nampak pada penegakan hukum yang sering kali “tajam ke bawah namun tumpul ke atas”. Kita menuntut birokrasi yang benar-benar melayani rakyat, bukan birokrasi yang menjadi sarang praktik korupsi.
Paskah adalah momentum bagi kita untuk “menelanjangi perbuatan kegelapan” dan memperjuangkan integritas hukum.
Paskah juga merupakan panggilan untuk bertobat secara kreatif. Pemuda NTT harus bangkit dari mentalitas ketergantungan.
Kita harus berdaulat secara pangan dengan mengelola potensi lokal kita sebagai benteng menghadapi krisis global.
Penutup
Jika maut saja bisa dikalahkan, maka kemiskinan dan ketidakadilan di NTT pun pasti bisa kita urai bersama.
Dalam keberagaman NTT yang indah, GAMKI terus merawat ruang dialog lintas iman agar cahaya Paskah memancarkan optimisme bagi semua orang.
Mari melangkah menuju Paskah Nasional GAMKI di Sulawesi Utara dengan semangat pembawa damai.
Jangan pernah takut pada badai masa depan, sebab Kristus telah bangkit dan Ia berjalan bersama kita di setiap jalan berdebu Flobamora.
Selamat Merayakan Paskah 2026
Kristus Bangkit, Indonesia Tangguh, NTT Sejahtera!
ORA ET LABORA





















































