1
1
1
2
3
Kupang, FKKNews.com – Pengurus Provinsi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Nusa Tenggara Timur terus mematangkan persiapan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 melalui pelaksanaan Pelatihan Pelatih Bola Voli Lisensi Daerah Zona TIROSA yang berlangsung di Wisma Kwarda Pramuka NTT, Jalan Adisucipto, Kupang, Kamis (28/05/2026).
Kegiatan ini diikuti puluhan pelatih dari sembilan pengurus kabupaten/kota PBVSI, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sabu Raijua, Rote Ndao, Alor, serta Sikka.
Pelatihan tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Umum KONI NTT yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi NTT, Dr. Alvonsus Theodorus, ST., MT.
Dalam sambutannya, Alvonsus memberikan apresiasi kepada PBVSI NTT yang dinilai mulai bekerja secara terukur dan serius membangun fondasi pembinaan voli di daerah.
“Hari ini merupakan momentum luar biasa. PBVSI NTT sudah mulai bekerja berdasarkan roadmap yang jelas untuk pembinaan bola voli di NTT. Mulai dari pelatihan pelatih, pembinaan atlet, hingga sistem kompetisi yang disiapkan bertahap menuju PON 2028,” ujarnya.
Menurutnya, momentum PON 2028 harus menjadi titik kebangkitan olahraga NTT agar tidak lagi sekadar menjadi tuan rumah tanpa prestasi.
“Mulai sekarang kita harus serius membentuk atlet-atlet yang kuat supaya nanti di PON 2028 kita tidak lagi menjadi penggembira. Saya percaya bola voli bisa memberi kejutan untuk NTT,” tegasnya.
Ia menilai langkah PBVSI NTT membagi pelatihan berdasarkan zona merupakan strategi yang tepat mengingat kondisi geografis NTT sebagai daerah kepulauan.
“Zona TIROSA ini penting karena mempertemukan pelatih dari Timor, Rote, Sabu dan Alor dalam satu ruang pembinaan bersama. Ini menunjukkan ada komitmen membangun voli NTT secara merata,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PBVSI NTT, Winston Rondo, mengatakan pelatihan pelatih menjadi langkah awal membangun ekosistem voli yang lebih kompetitif di NTT.
Menurutnya, PBVSI NTT tidak ingin hanya sukses sebagai tuan rumah PON 2028, tetapi juga ingin berkontribusi menghadirkan prestasi bagi NTT.
“Kita tidak hanya ingin menjadi tuan rumah yang baik saja. PBVSI ingin ikut merebut medali emas. Karena itu kita tidak hanya butuh atlet hebat, tetapi juga pelatih yang hebat, wasit yang hebat, dan sistem kompetisi yang terukur,” ujarnya.
Winston menjelaskan sepanjang Mei hingga Juni 2026 PBVSI NTT fokus melaksanakan pelatihan lisensi daerah di tiga zona besar, yakni Zona TIROSA, Flores-Lembata, dan Sumba Raya.
Selain pelatihan, PBVSI NTT juga telah menyiapkan sejumlah agenda kompetisi dan pencarian bakat atlet muda menuju PON 2028.
“Juli nanti ada kompetisi voli pasir. September ada Kejurda Ben Boi Memorial Cup untuk voli indoor. Kemudian ada juga kompetisi pelajar SMA/SMK se-NTT. Sementara Agustus sampai Desember kami mulai seleksi sport science untuk atlet-atlet potensial,” jelasnya.
Ia bahkan mengaku PBVSI NTT mulai melakukan pencarian bibit atlet dengan pendekatan ilmiah, termasuk mencari siswa-siswi dengan postur ideal untuk dibina secara jangka panjang.
“Kami keliling sampai ke Sumba mencari anak-anak SMA dengan tinggi badan ideal. Karena kalau kita mau bersaing di level nasional, pembinaan harus dimulai dari sekarang dan dilakukan secara serius,” katanya.
Winston berharap pelatihan tersebut melahirkan pelatih-pelatih berkualitas yang nantinya menjadi ujung tombak pembinaan atlet di daerah masing-masing.
“Pelatih adalah fondasi utama. Atlet hebat lahir dari pelatih yang serius dan kompetisi yang baik. Karena itu PBVSI NTT ingin memastikan pembinaan berjalan dari bawah secara sistematis,” pungkasnya.