Beranda Keagamaan Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa SakitNya, Renungan Jumat Agung Oleh...

Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa SakitNya, Renungan Jumat Agung Oleh Pdt. Desiana Rondo Effendy, M.Th, GMIT Moria Liliba-Klasis Kota Kupang Timur

1

Selamat menikmati pemeliharaan Tuhan dan selamat mempersiapkan ibadah Jumat Agung.

Kiranya renungan ini dapat menolong kita saling melengkapi dalam mempersiapkan bacaan firman bersama umat.

Salam dan doa dari saya Pdt. Desiana Rondo Effendy, M.Th, GMIT Moria Liliba – Klasis Kota Kupang Timur, Rabu 1 April 2026.

Tema renungan : Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa Sakitnya

Bacaan alkitab : Matius 27:32-56.

Pengantar

Ketika Kasih dan Penderitaan Bertemu di Salib sebuah perjalanan iman dimulai.

Jumat Agung selalu membawa kita pada satu pemandangan yang tidak pernah mudah:
salib… penderitaan… dan kematian.

Di dalam teks ini, kita melihat:
• Yesus dipaksa memikul salib-Nya
• Dihina, ditelanjangi, dipaku
• Ditinggalkan… bahkan tampak seperti ditinggalkan oleh Allah

Ini bukan cerita dongeng, Ini bukan lakon drama biasa.
Ini adalah realitas penderitaan paling dalam yang pernah ditanggung oleh manusia dan Ia memilih menjalaninya.

Jumat Agung mengajak kita bertanya:
• Apakah kita hanya ingin kasih Tuhan… tanpa salib?
• Apakah kita ingin berkat… tanpa pengorbanan?

Yesus menunjukkan: Kasih sejati selalu membawa kita pada keberanian untuk menanggung sesuatu.

Bukan semua penderitaan berasal dari Tuhan, tetapi dalam kasih kepada Tuhan dan sesama

seringkali kita dipanggil untuk:
• Mengampuni meski disakiti
• Bertahan meski terluka
• Tetap setia meski tidak dimengerti

Itulah salib kecil kita. Salib bukan hanya tentang pengampunan,
tetapi juga tentang penyertaan dalam penderitaan.

Penjelasan Teks

Jalan Salib yang Sunyi dan Kejam. Yesus berjalan memikul salibnya sendiri dan Simon dari Kirene namanya disebut memikul salib yang terlalu berat.

Yesus bahkan tidak lagi kuat memikul salib-Nya sendiri.

Seorang asing—Simon dari Kirene—dipaksa membantu memikul salib berat itu. Yesus sungguh manusia, dalam kemanusiaannya Ia merasakan lelah, sakit, dan keterbatasan. Tetapi di balik kemanusiaannya itu ada solidaritas yang besar karena kasih Nya, Ia tidak mundur, Ia tetap berjalan menuju Golgota.

Yesus mengalami Penghinaan Total sebagai manusia :
• Kehilangan Martabat
• Pakaian-Nya ditanggalkan
• Ia diolok: “Jika Engkau Anak Allah, turunlah dari salib!”
• Ia diperlakukan seperti penjahat besar

Di sini kita melihat dalam Kasih Kristus tidak hanya menanggung rasa sakit fisik, tetapi juga kehancuran martabat.

Ia memilih untuk tidak membalas.
Ia memilih diam.

Ini adalah titik terdalam sebagai manusia Yesus berseru dengan nyaring memanggil nama Tuhan “ Allah ku – mengapa Engkau meninggalkan Aku ???”

Yesus mengalami:
• Kesepian eksistensial
• Kegelapan spiritual
• Rasa ditinggalkan

Namun penting secara teologis ini menunjukan kepada kita :

Ini bukan kehilangan iman-
ini adalah penggenapan penderitaan manusia paling dalam.

Ia masuk sampai ke titik di mana manusia merasa Allah jauh.

Supaya tidak ada lagi manusia yang menderita sendirian tanpa kehadiran-Nya.

Saat Yesus Menemui ajal kematianNya, Alam pun Bersaksi :
• Tabir Bait Suci terbelah dua
• Bumi berguncang
• Kubur terbuka

Dan seorang kepala pasukan Romawi berkata:

“Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”
yang pertama mengakui justru orang luar.

Karena di salib, kasih Allah dinyatakan tanpa batas. Orang yang tidak mengenal Yesus bisa melihat dan mengenal Yesus sebagai anak Allah.

Penekanan injil dalam teologi salib menjelaskan kepada kita : Kasih Allah Lebih Besar dari Rasa Sakit dan penderitaan yang harus dipikulNya.

Refleksi dan Aplikasi

Salib adalah paradoks:
• Tempat penderitaan terdalam
• Sekaligus pernyataan kasih terbesar

Secara teologis, pengorbanan Kristus menunjukkan:

1. Substitusi (Penggantian)

Yesus tidak mati untuk diri-Nya.
Ia mati menggantikan kita.

Dosa kita—hukuman kita—ditanggung oleh-Nya.

2. Solidaritas Ilahi

Allah tidak tinggal jauh dari penderitaan manusia.

Di dalam Yesus, Allah masuk ke dalam penderitaan itu sendiri.

Artinya:
Tidak ada air mata manusia yang asing bagi Tuhan.
Kasih yang Memilih Bertahan

Yesus bisa turun dari salib.
Tetapi Ia tidak melakukannya.

Mengapa? Karena kasih itu tidak mundur.
Kasih itu bertahan. Kasih itu memilih untuk tetap tinggal—bahkan ketika sakitnya luar biasa.

Mungkin hari ini ada yang datang dengan:
• Luka batin
• Kekecewaan
• Rasa ditinggalkan
• Pergumulan hidup yang berat

Dengarkan dengan baik pesan ini :

Yesus pernah ada di titik terendah dalam hidupnya sebagai manusia. Ia tahu rasanya:
• Disalahpahami
• Dikhianati
• Ditinggalkan

Dan karena itu: Ia tidak hanya menyelamatkan kita—Ia juga memahami kita.

Jumat Agung bukan sekadar mengenang kematian.
Ini adalah undangan untuk melihat:

Betapa besar kasih Tuhan kepada kita.. lihatlah salib, karena di sana,
kasih berbicara lebih keras daripada rasa sakit.

Di salib, Tuhan membuktikan:

bahwa kasih-Nya tidak pernah berhenti, bahkan ketika harus melewati penderitaan yang paling dalam.

Dan di Jumat Agung ini,
kita tidak hanya diajak menangisi salib…

tetapi menerima satu kebenaran:

kita dikasihi—dengan kasih yang lebih besar dari segala rasa sakit.

Tuhan menolong kita semua. Selamat berteduh dalam doa.

Salam dan doa beserta

Artikulli paraprakKemenPANRB Dukung Solusi Fiskal Konkret untuk Selamatkan PPPK di NTT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini