Kalabahi, FkkNews.com – Dalam tradisi Romawi kuno, salib bukan simbol rohani. Salib adalah mesin pembunuh paling hina. Kayu penyiksaan untuk budak, pemberontak, dan sampah masyarakat. Disiksa, ditelanjangi, dicaci sepanjang Via Dolorosa menuju Golgota, lalu digantung sampai mati pelan-pelan. Tujuannya satu: mempermalukan sampai ke tulang.
Yesus jalani itu. Padahal pengadilan tidak temukan satu pun kesalahan-Nya. Kayu palang yang tak bermakna itu lalu Dia ubah: jadi lambang kesetiaan, ketaatan, cinta kasih, dan kemenangan. Di salib, Dia tanggung beban dosa kita. Vertikal: pulihkan relasi manusia -Tuhan. Horizontal: perintahkan kasih ke sesama. Hukum terutama dan pertama.
Karena itu, di tradisi Kristen, kita sering ucapkan: Jabatan itu pikul salib. Besar atau kecil, di gereja atau di pemerintahan, makna sama: utamakan taat, setia, kasih, setara, dan berpihak pada yang lemah.
1). Pawai Paskah: Salib Dipanggul, Kamera Menyala
Senin, 14 April 2026. Pawai Paskah GAMKI Alor pecah. Salib kayu diarak. Puji-pujian, tarian, drama, musik kemenangan menggema. Hadir Wakil Gubernur NTT, Wakil Bupati Alor, jajaran pejabat. Kehadiran mereka seolah jadi stempel: acara ini sukses.
Lalu ada pemandangan yang menyedot mata: para pejabat itu bergantian memanggul salib kayu. Entah mereka sedang menghayati Yesus yang rela, atau Simon dari Kirene yang dipaksa tentara Romawi, atau sekadar lihat ini momentum emas untuk foto. Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Saya cuma menduga.
Tapi satu hal pasti: kayu itu mereka pikul di pundak, di depan kamera, di tengah sorak.
2). Di Trotoar: Salib Asli yang Tidak Dipanggul Siapa-Siapa
Waktu bersamaan, di sisi jalan yang sama, di bawah terik matahari yang menyengat, berdiri mereka: tenaga kesehatan PPPK Paruh Waktu. Tersisih. Suara lantang terbata-bata menuntut hak: gaji Rp 300 ribu yang tidak manusiawi.
Mereka tidak pegang salib kayu. Mereka sedang dipaku di salib birokrasi. Disiksa pelan-pelan oleh sistem. Dihinakan dengan upah yang lebih murah dari ongkos ojek. Dicaci maki keadaan: mengabdi kok hitung-hitungan.
Inilah ironi Via Dolorosa Alor 2026: Ada yang memanggul salib simbolik untuk difoto. Ada yang dipaku di salib nyata tapi tidak ditengok.
3). Bantahan Teologis: Pikul Salib Bukan Seremonial
Yesus tidak pikul salib keliling Yerusalem untuk konten. Dia pikul salib menuju kematian, untuk cabut orang lain dari kematian. Simon dari Kirene dipaksa pikul, tapi dia pikul salib orang yang mau mati untuk dia.
Maka jabatan adalah pikul salib tidak pernah berarti berdiri 5 menit pegang kayu di pawai. Maknanya radikal:
1. Ketaatan: Taat pada sumpah jabatan, bukan pada kepentingan kelompok.
2. Kesetiaan: Setia pada rakyat paling kecil, bukan pada pembisik paling dekat.
3. Cinta Kasih: Kasih yang terukur di APBD, bukan di baliho.
4. Keberpihakan: Berpihak sampai tanda tangan geser anggaran, bukan cuma tanda tangan di spanduk.
Kalau salib hanya dipikul di pawai lalu ditinggal di gudang, sementara nakes Rp 300 ribu tetap disalib di trotoar, maka salib itu nihil makna. Kayu tetap kayu. Pawai tetap karnaval. Paskah tetap upacara.
4). Salib yang Ditinggal Pergi Sedang Memanggil Pemanggulnya
Salib punya dua kayu: vertikal dan horizontal. Vertikal sudah kita bagus-baguskan lewat ibadah, khotbah, pawai. Horizontalnya bolong. Relasi kasih ke sesama manusia nakes, petani, nelayan, buruh kita paku dengan regulasi yang tidak berpihak.
Salib yang ditinggal di trotoar itu berteriak. Teriaknya bukan Haleluya. Tapi Eli, Eli, lama sabakhtani? Pemda, pemda, mengapa engkau tinggalkan aku?
Jabatan yang diamanahkan ke Bapa/Mama pejabat itu adalah salib. Maka pikullah dengan benar: turun dari mobil dinas, hapus SK Rp 300 ribu, naikkan gaji, buka IGD yang mogok. Itu baru pikul salib
Kalau tidak, maka kalian bukan Yesus, bukan Simon dari Kirene. Kalian orang banyak di Via Dolorosa yang nonton, tepuk tangan, lalu pulang. Atau lebih buruk: kalian prajurit Romawi yang selesai tugas, lempar dadu perebutkan jubah.
PENUTUP: JANGAN BIARKAN SALIB JADI PROPERTI PANGGUNG
Paskah 2026 Alor akan dikenang karena dua gambar: pejabat memanggul salib di pawai, dan nakes memikul salib di trotoar. Gambar pertama masuk Instagram. Gambar kedua masuk neraka birokrasi.
Kristus ubah kayu hina jadi lambang kemenangan karena Dia mati di atasnya untuk orang lain. Kalau kalian cuma selfie dengan kayu lalu tinggalkan orang lain mati di bawah sistem, maka kalian tidak lanjutkan karya Kristus. Kalian parodikan Dia.
Maka refleksi terakhir untuk semua pemegang jabatan: Salib yang kalian panggul di pawai itu menagih. Dia tanya: Setelah pawai selesai, kalian mau paku siapa? Mau turunkan siapa?
Jawabannya jangan di mimbar. Jawab di APBD.
Karena salib tanpa keberpihakan adalah kayu mati. Dan Paskah tanpa keadilan adalah kubur yang tidak pernah kosong.
Ora Et Labora. Salib itu berat. Kalau tidak sanggup pikul dengan benar, jangan pegang. Karena tiap kayu yang kalian angkat, sedang ditonton oleh mereka yang kalian biarkan tergantung. Demikian ulasan opini oleh David Blegur, Mantan Ketua Cabang GMKI Kalabahi. (FKK/Eka Blegur).

















































