1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews. com – Dua kelompok pemuda yang sebelumnya berkonflik akhirnya memilih jalan damai. Pemuda Lautingara Kelurahan Kalabahi Tengah dan Pemuda Air Kenari Desa Air Kenari menggelar acara perdamaian dengan menggaungkan tema “Kami pilih damai bukan tawuran” dan “Bersatu kita kuat, berdamai kita hebat”. Kegiatan yang difasilitasi oleh Kepala Desa Air Kenari dan Lurah Kalabahi Tengah ini berlangsung khidmat di Air Kenari pada Jumat, 15 Mei 2026.
Acara dihadiri langsung oleh Bupati Alor yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Alor, Kepala Desa Air Kenari, Perwakilan Camat Teluk Mutiara, Kapolres Alor yang diwakili oleh Wakapolres Alor, Kasat Intelkam Polres Alor, Dandim 1622/Alor yang diwakili oleh Babinsa Desa Airkenari, serta tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan undangan lainnya.
Suasana haru dan reflektif terasa sejak awal. Perwakilan orang tua dari Kalabahi Tengah, Bertolomeus Karmaley, menegaskan bahwa tawuran tidak membawa manfaat bagi siapa pun.
“Tawuran itu tidak baik, merugikan kita semua. Terima kasih kepada lurah dan kepala desa yang selalu ada bersama-sama berupaya mendamaikan. Saya juga menyampaikan permohonan maaf kepada Kapolres, dan terima kasih karena curhat Jumat digelar di wilayah Air Kenari dan Lautingara. Semoga peristiwa ini tidak terulang lagi,” ujar Karmaley.
Senada, perwakilan orang tua Desa Air Kenari, Urbanus, menyebut pertemuan ini sebagai momentum menyatukan kembali hubungan kekeluargaan.
“Pertemuan hari ini harus dimaknai sebagai pertemuan kaka adik basodara. Ini tidak boleh terulang lagi,” katanya tegas.
Dari sisi pemuda, Ekber Kaminukan mewakili suara hati pemuda Lautingara dan Air Kenari. Ia menyampaikan komitmen bersama untuk mengakhiri pertikaian.
“Atas nama pemuda, kami berkomitmen mengakhiri pertikaian. Kami juga memohon maaf atas perbuatan kami kepada seluruh masyarakat,” ucapnya.
Momen sakral terjadi saat tuturan adat disampaikan oleh tokoh adat Nikodemus Duka dari Air Kenari dan Abraham Dael dari Kelurahan Kalabahi Tengah. Keduanya menuturkan sejarah panjang hubungan Air Kenari dan Lautingara. Perdamaian ditandai dengan penyerahan gong dari Air Kenari dan kain selimut dari Lautingara sebagai simbol persatuan.
Acara ditutup dengan pembacaan, penandatanganan, dan penyerahan berita acara perdamaian, dilanjutkan pesan dan doa dari Ibu Pendeta GMIT Apungla.
Dalam sambutannya, Wakapolres Alor KOMPOL Jeri Samzon Puling, A.Md., S.H. menyampaikan pesan yang menyentuh. Ia menyerahkan anak panah kepada Ibu Pendeta untuk didoakan.
“Hari ini saya serahkan anak panah ke Ibu Pendeta untuk didoakan, agar kalau kelak masih terjadi, biar Tuhan yang atur,” ujarnya.
Wakapolres juga mengajak puluhan pemuda yang hadir untuk memilih jalan damai.
“Setelah acara perdamaian ini kembali ke adik-adik semua, apakah mau aman atau tidak, kembali ke adik-adik. Bagaimana, mau stop tawuran atau tidak?” tanyanya.
“Stop!” jawab serentak para pemuda dari Air Kenari dan Lautingara.
Ia mengingatkan agar komitmen yang diucapkan dilaksanakan sungguh-sungguh.
“Kami di kepolisian minta agar perkara hari ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dari hati dan mau berubah. Kedua kubu sudah kompak dalam pernyataan sikap. Jangan mudah dihasut, tolong yang paling utama jangan mudah terhasut,” lanjut Wakapolres.
Wakapolres juga mendoakan agar siapa pun yang berniat merusak kedamaian Alor mendapat teguran dari Tuhan. Ia mengimbau para orang tua dan pemuda untuk menghentikan produksi senjata tajam tradisional.
“Adik-adik dan para orang tua, pulang dan lihat kalau ada benda tajam tolong dimusnahkan. Adik-adik berhenti produksi panah Ambon, panah Bugis, dan lainnya. Jam 8 malam sudah di rumah saja. Kalau kena panah, kamu yang luka, kamu yang rasa sakitnya. Coba bayangkan kalau kamu yang jadi korban,” pungkasnya.
Acara perdamaian ini menjadi bukti bahwa dialog, adat, dan komitmen bersama mampu meredam konflik dan mengembalikan rasa persaudaraan di antara warga Alor. (FKK/Eka Blegur).