1
1
Sabu Raijua, FKKNews.com – Tim Kerja Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas RI melanjutkan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Sabu Raijua dengan meninjau sentra produksi garam dan budidaya rumput laut, dua komoditas unggulan yang menjadi fokus pengembangan ekonomi daerah.
Kunjungan diawali di tambak garam hasil revitalisasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2025 yang berada di Desa Bodae, Menia, dan Lobohede, Pulau Sabu. Di lokasi tersebut, tim berdiskusi langsung dengan para pengelola mengenai proses produksi garam, mulai dari pengolahan awal hingga panen. Tim juga ikut melakukan panen garam di Tambak Garam Desa Bodae serta meninjau gudang penyimpanan garam.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi tambak garam di Kecamatan Raijua yang telah direhabilitasi menggunakan Dana APBD. Tim Bappenas mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam mengembangkan sektor pergaraman dengan melibatkan masyarakat sebagai pengelola utama.
Selain sektor garam, Tim Bappenas juga meninjau kebun bibit rumput laut di Desa Lobohede, Kecamatan Hawu Mehara, dan Desa Ledeke, Kecamatan Raijua. Kualitas bibit serta potensi produksi rumput laut di kedua lokasi tersebut mendapat perhatian positif dari tim sebagai salah satu potensi unggulan daerah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sabu Raijua, Lagabus Pian, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah mengembangkan tambak garam berteknologi geomembran sejak 2013. Luas tambak terus bertambah hingga mencapai 107 hektare pada periode 2014–2016. Meski seluruh tambak sempat mengalami kerusakan akibat bencana pada 2021 sehingga produksi terhenti, pemerintah daerah secara bertahap melakukan rehabilitasi hingga akhirnya pada 2025 mendapat dukungan KKP untuk memperbaiki 45 hektare tambak di Pulau Sabu, sementara Pemkab memperbaiki 10 hektare tambak di Pulau Raijua menggunakan APBD.
Menurutnya, garam produksi Sabu Raijua memiliki kadar NaCl mencapai 99,91 persen, termasuk yang tertinggi di Indonesia, sehingga berpotensi memenuhi kebutuhan garam industri nasional. Pemerintah daerah juga terus mendorong pengembangan garam rakyat melalui Program Mongehi Semesta agar masyarakat pesisir mampu memproduksi garam konsumsi berkualitas.
Di sektor budidaya rumput laut, Lagabus menjelaskan bahwa produksi sempat menurun pasca Badai Seroja 2021. Untuk menghidupkan kembali sektor tersebut, pada 2026 Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua membangun enam kebun bibit rumput laut dengan metode seleksi bibit unggul serta menyiapkan distribusi bibit kepada para pembudidaya.
Saat ini, masyarakat mulai mengembangkan rumput laut jenis Spinosum (SP) karena lebih tahan terhadap penyakit dan memiliki siklus panen lebih singkat dibandingkan jenis Cottonii. Meskipun harga jualnya lebih rendah, budidaya SP mampu memberikan pendapatan hingga sekitar Rp5 juta per kepala keluarga per bulan. Karena itu, pemerintah mendorong pola budidaya kombinasi antara SP dan Cottonii guna menjaga produktivitas dan pendapatan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, SE., MM, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Tim Bappenas ke sentra garam dan budidaya rumput laut. Bupati berharap kunjungan ini menjadi langkah awal bagi dukungan pemerintah pusat dalam mempercepat pengembangan sektor pergaraman dan rumput laut di Sabu Raijua.
“Melalui dukungan Bappenas, kami berharap Sabu Raijua dapat berkembang menjadi salah satu sentra produksi garam dan rumput laut nasional yang mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus membuka peluang ekspor serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bupati.