Popular Posts

WhatsApp Image 2026 08 11 at 22.50.24

PEMKAB SABU RAIJUA GELAR DISEMINASI AUDIT KESEHATAN IBU DAN ANAK, PESAN KUAT BUPATI: “INI TANGGUNG JAWAB KITA BERSAMA”

Sabu Raijua,FKKNews.com – Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menggelar kegiatan Diseminasi Hasil Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMPSR) Tingkat Kabupaten pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung di Ruangan Bidang Pelayanan Kesehatan Lantai 2, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sabu Raijua.

Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi sekaligus mencari solusi atas permasalahan kesehatan ibu dan anak di wilayah kepulauan tersebut, guna menekan angka kematian ibu dan bayi yang masih menjadi tantangan utama pembangunan kesehatan daerah.

Kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua, Septenius M. Bule Logo, S.H., M.Hum, yang mewakili Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, S.E., M.M.

Forum strategis ini turut dihadiri oleh para pemangku kepentingan lintas sektor, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB, Plt. Direktur UOBK RSUD Sabu Raijua, serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah teknis terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua. Hadir pula Kepala BPJS Kesehatan Cabang Sabu Raijua, Ketua TP-PKK Kabupaten Sabu Raijua, dan para Camat se-Kabupaten Sabu Raijua. Tidak ketinggalan, Ketua Organisasi Profesi IBI dan PPNI serta seluruh Kepala UPTD Puskesmas se-Kabupaten Sabu Raijua turut ambil bagian dalam diskusi penting ini. Kehadiran seluruh unsur tersebut mencerminkan semangat kolaborasi dan komitmen bersama dalam menangani permasalahan kesehatan ibu dan anak yang membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Pesan Bupati: Fondasi Kemajuan adalah SDM Sehat

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Sekda, Bupati Krisman B. Riwu Kore menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan fondasi utama kemajuan daerah.

Masyarakat yang sehat akan melahirkan generasi yang cerdas, produktif, dan mampu membawa Kabupaten Sabu Raijua menuju masa depan yang lebih baik. Karena itu, kesehatan ibu dan anak harus menjadi perhatian bersama. Keselamatan seorang ibu saat menjalani kehamilan dan persalinan, serta keselamatan bayi yang dilahirkan, merupakan indikator penting keberhasilan pembangunan kesehatan sekaligus cerminan kualitas pelayanan publik.

Orang nomor satu di Sabu Raijua itu mengingatkan bahwa Audit Maternal Perinatal Surveilans Respons (AMPSR) bukanlah forum untuk mencari kesalahan, melainkan sarana evaluasi dan pembelajaran bersama. Forum ini bertujuan mengidentifikasi akar permasalahan, memperbaiki sistem pelayanan, memperkuat sistem rujukan, serta menyusun langkah-langkah perbaikan yang dapat mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Komitmen “Sarai Sehat” dan Prioritas Perbaikan

Bupati Krisman juga mengaitkan upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) dengan agenda nasional menuju Indonesia Emas 2045, khususnya dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing. Hal ini selaras dengan Misi Pertama Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, yaitu “Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pengentasan kemiskinan.”

Ia menegaskan kembali komitmen Pemkab melalui Program unggulan “Sarai Sehat”, namun mengingatkan bahwa program ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh perangkat daerah, kecamatan, desa, organisasi profesi, BPJS Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, dan seluruh elemen masyarakat.

Berdasarkan hasil audit yang didiseminasikan, Bupati menyampaikan sejumlah prioritas perhatian yang harus segera ditindaklanjuti:

  1. Pertama, peningkatan kualitas pelayanan antenatal care agar setiap kehamilan berisiko dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin.

  2. Kedua, mengatasi berbagai faktor keterlambatan di masyarakat, khususnya keterlambatan dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga ketika terjadi kondisi kegawatdaruratan.

  3. Ketiga, edukasi mengenai tanda bahaya kehamilan harus dilakukan secara lebih masif dan berkesinambungan, disertai upaya memastikan pemenuhan gizi ibu hamil agar risiko komplikasi dapat dicegah sejak awal.

  4. Keempat, tidak boleh ada lagi keterlambatan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan, di mana setiap pasien harus memperoleh pelayanan yang cepat, tepat, dan sesuai standar.

  5. Kelima, sistem rujukan antara puskesmas dan rumah sakit harus semakin cepat, efektif, dan bebas dari hambatan administrasi yang tidak perlu.

  6. Keenam, kesiapan pelayanan kegawatdaruratan harus terus diperkuat, mulai dari ketersediaan obat-obatan esensial, darah, peralatan medis, hingga tenaga kesehatan yang kompeten dan siap memberikan pelayanan selama 24 jam.

Tindak Lanjut Konkret

Di akhir sambutannya, Bupati berharap hasil diseminasi ini tidak berhenti sebagai dokumen atau laporan semata. Ia meminta agar setiap rekomendasi yang dihasilkan ditindaklanjuti dalam bentuk rencana aksi yang jelas, terukur, memiliki penanggung jawab, dan target waktu pelaksanaan yang pasti.

Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan forum ini sebagai momentum memperkuat komitmen, mempererat koordinasi lintas sektor, dan membangun kolaborasi yang semakin baik demi mewujudkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang berkualitas di Kabupaten Sabu Raijua.

“Mari kita satukan langkah dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar setiap ibu dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman, setiap bayi memperoleh kesempatan hidup yang sehat, dan masyarakat Sabu Raijua semakin sehat, sejahtera, dan berkualitas,” pungkas Sekda membacakan pesan Bupati.

Kegiatan resmi dibuka dengan doa, menandai dimulainya kerja kolaboratif lintas sektor dalam mewujudkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang berkualitas di Kabupaten Sabu Raijua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *