1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Pesisir Desa Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, kembali menjadi ruang perjumpaan antara alam, budaya, masyarakat, ilmu pengetahuan dan pariwisata melalui penyelenggaraan Festival ALADIN (Air Laut Dingin) Tahun 2026, Sabtu, 12 September 2026.
Festival yang dipadukan dengan kegiatan WISMARAYA II (Wisata Maju Rakyat Sejahtera) tersebut menjadi momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan alam dan kebudayaan Kabupaten Alor kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan yang datang menikmati pesona bumi Taramiti Tominuku.
Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, SH., MH., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan Festival Aladin Tahun 2026.
Dalam sambutannya, Rocky menyampaikan penghormatan kepada Bupati Alor, pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Alor, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, para staf ahli Bupati, para asisten Sekda, para pimpinan organisasi perangkat daerah, Ketua TP-PKK Kabupaten Alor, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Alor, para sesepuh daerah, akademisi dan peneliti dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang dan Universitas Tribuana (UNTRIB) Kalabahi.
Penghormatan juga disampaikan kepada Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Alor beserta jajaran panitia pelaksana, Camat Alor Barat Laut beserta unsur Tripika, Kepala Desa Alor Kecil, para tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, seluruh masyarakat Alor Kecil, para pelaku UMKM, pegiat seni, budayawan, wisatawan serta seluruh undangan yang hadir.
Mengawali sambutannya, Wakil Bupati Alor mengajak seluruh masyarakat untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Menurut Rocky, atas rahmat dan kasih Tuhan, seluruh masyarakat dapat berkumpul di pesisir Desa Alor Kecil dalam keadaan sehat untuk membuka rangkaian kegiatan yang dinilainya sangat istimewa.
Kegiatan tersebut bukan hanya Festival Aladin, tetapi juga menjadi bagian dari WISMARAYA II, sebuah agenda yang membawa semangat Wisata Maju Rakyat Sejahtera.
Rocky mengatakan, perayaan kepariwisataan Kabupaten Alor pada tahun 2026 terasa semakin istimewa karena masyarakat tidak sekadar berkumpul dalam sebuah kegiatan seremonial.
Menurutnya, masyarakat sedang menyaksikan bagaimana keajaiban alam dan kekayaan budaya lokal dapat berpadu menjadi kekuatan baru bagi pembangunan ekonomi daerah.
“Fenomena Air Laut Dingin atau AlaDin di perairan Alor Kecil, kata Rocky, merupakan salah satu fenomena alam yang memberikan daya tarik tersendiri,” ujarnya.
Dijelaskan Mantan Anggota DPRD Provinsi NTT Rocky, Fenomena tersebut menjadi berkah bagi ekosistem laut sekaligus menjadi atraksi alam yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata.
Karena itu, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Alor terus mendorong pengembangan potensi tersebut melalui semangat Gerakan Membangun Dari Timur atau GERBANG TIMUR.
“Semangat tersebut diarahkan untuk mewujudkan Kabupaten Alor yang aman, damai, sejahtera, demokratis, maju dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Dalam konteks tersebut, Rocky menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat dan pelaku UMKM merupakan kekuatan penting dalam membangun masa depan pariwisata Alor.
Kehadiran para akademisi dan peneliti dari UNDIP Semarang dan UNTRIB Kalabahi menjadi bagian penting dalam menghubungkan kekayaan alam Alor dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rocky menegaskan, Festival Aladin tidak boleh berhenti sebagai sebuah kegiatan hiburan.
Festival tersebut harus menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah sekaligus ruang untuk memperkenalkan identitas budaya masyarakat Alor.
Menurutnya, penyelenggaraan Festival Aladin merupakan bagian dari komitmen strategis Pemerintah Kabupaten Alor periode 2025-2029 yang dituangkan dalam arah pembangunan daerah melalui konsep TRI PALAWA.
Tri Palawa mengintegrasikan tiga sektor unggulan Kabupaten Alor, yaitu pertanian, kelautan dan pariwisata.
Melalui konsep tersebut, Pemerintah Kabupaten Alor tidak lagi melihat potensi daerah secara terpisah-pisah.
Potensi pertanian, kekayaan laut dan keindahan pariwisata harus dipandang sebagai satu kesatuan yang saling mendukung untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita menyatukan berkah tanah Alor dengan keajaiban lautnya untuk menggerakkan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan,” demikian pesan yang disampaikan Rocky dalam sambutannya.
Ia mengatakan, selama rangkaian Festival Aladin berlangsung, perhatian masyarakat dan wisatawan akan tertuju kepada Desa Alor Kecil.
Fenomena Extreme Upwelling Event (EUE) yang menghadirkan arus laut dalam dengan suhu sangat dingin ke permukaan perairan tropis menjadi salah satu kekayaan alam yang sedang diperkenalkan kepada dunia melalui Festival Aladin.
Fenomena tersebut kemudian dikemas dan diperkenalkan sebagai salah satu ikon pariwisata baru Kabupaten Alor.
Namun, menurut Rocky, kekayaan alam tersebut harus berjalan berdampingan dengan kekayaan budaya masyarakat.
Karena itu, Festival Aladin 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan tradisional dan atraksi budaya masyarakat.
Berbagai kegiatan tersebut antara lain Fun Run, mancing tradisional, dayung perahu kano, panahan tradisional, tarik tambang perahu naga, sepeda hias, tabuh gong dan tambur, tari perang, lomba menangkap ikan Aladin terbanyak serta lomba fotografi fenomena AlaDin.
Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan tradisi, kreativitas dan identitas budaya lokal kepada para wisatawan.
Tidak berhenti pada olahraga dan atraksi budaya, Festival Aladin juga memberikan ruang bagi kekayaan gastronomi masyarakat Alor.
Kegiatan gastronomi tradisional, gerabah, kue rambut serta berbagai kuliner lokal menjadi bagian dari warna budaya yang ditampilkan dalam festival tersebut.
Produk unggulan UMKM seperti kain tenun ikat khas Alor, kerajinan gerabah dan kuliner lokal juga ikut diperkenalkan kepada masyarakat dan wisatawan.
Bagi Rocky, hal tersebut sangat penting karena pariwisata tidak boleh hanya mendatangkan wisatawan tanpa memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokal.
Pariwisata harus mampu menciptakan ruang bagi masyarakat untuk menjadi pelaku utama.
“Pariwisata tidak boleh membuat rakyat menjadi penonton.”
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting Wakil Bupati Alor dalam sambutannya.
Menurutnya, setiap momentum pariwisata harus dimanfaatkan untuk menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat desa.
Masyarakat harus diberi kesempatan untuk memamerkan dan menjual hasil kreativitas mereka. Dengan demikian, uang yang berputar dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di desa.
Lebih menarik lagi, Festival Aladin 2026 menghadirkan konsep scientific tourism atau pariwisata berbasis ilmu pengetahuan.
Rocky menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti dari UNDIP dan UNTRIB yang telah menghadirkan inovasi “Si ALaDin”, yakni Sistem Monitoring IoT dan Peramalan Air Laut Dingin.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi sebuah langkah maju dalam mengembangkan pariwisata Alor berbasis teknologi.
Sebelumnya, fenomena air laut dingin sulit diprediksi karena kemunculannya berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Namun, melalui pemanfaatan sensor berbasis Internet of Things (IoT), fenomena tersebut diharapkan dapat dipantau dan diprediksi dengan lebih baik.
Teknologi tersebut dinilai dapat membantu wisatawan mendapatkan informasi mengenai momentum kemunculan fenomena Air Laut Dingin.
Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang menikmati keindahan laut Alor, tetapi juga dapat memahami fenomena alam tersebut melalui pendekatan ilmu pengetahuan.
Pengembangan scientific tourism juga membuka peluang bagi Alor untuk membangun karakter pariwisata yang berbeda dari daerah lain.
Alor tidak hanya menawarkan keindahan bawah laut, pantai dan budaya, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata yang mempertemukan alam dan sains.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Alor menyampaikan tiga pesan khusus kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan Festival Aladin.
Pesan pertama adalah mengoptimalkan pemanfaatan teknologi.
Rocky meminta Dinas Pariwisata, pemerintah kecamatan dan pemerintah desa untuk memanfaatkan data dari aplikasi Si ALaDin.
Data tersebut diharapkan dapat digunakan untuk memberikan edukasi kepada pelaku wisata dan nelayan sekaligus mengembangkan paket wisata yang memiliki nilai ekonomi.
Pesan kedua adalah menggerakkan ekonomi kreatif rakyat.
Menurut Rocky, Festival Aladin dan WISMARAYA II harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai produk unggulan lokal.
Tenun ikat Alor, kerajinan gerabah, kuliner tradisional dan berbagai produk UMKM harus menjadi bagian dari wajah pariwisata daerah.
Pemerintah, kata dia, harus memastikan agar perputaran ekonomi dari kegiatan pariwisata dapat masuk ke kantong masyarakat desa.
Pesan ketiga adalah menjaga kelestarian lingkungan.
Rocky mengingatkan bahwa fenomena Air Laut Dingin merupakan kekayaan alam yang harus dijaga bersama.
Karena itu, masyarakat dan wisatawan diminta tidak membuang sampah plastik ke laut.
Kebersihan pantai, kelestarian ekosistem laut dan prinsip pariwisata ramah lingkungan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan Festival Aladin.
“Fenomena alam ini adalah titipan Tuhan yang sangat sensitif.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak boleh mengorbankan lingkungan yang menjadi sumber utama daya tarik wisata.
Rocky juga menyampaikan penghargaan kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Alor, panitia pelaksana, para sponsor dan terutama masyarakat Desa Alor Kecil.
Menurutnya, masyarakat sebagai tuan rumah mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan keberhasilan festival.
“Keramahan masyarakat, keamanan, kebersihan dan ketertiban merupakan bagian dari wajah pariwisata Alor yang akan dikenang oleh wisatawan. Karena itu, seluruh masyarakat diajak menjaga suasana festival agar tetap aman, tertib, bersih dan nyaman,” ujarnya.
Kepada para wisatawan, Rocky menyampaikan ucapan selamat menikmati keramahan masyarakat Alor. Wisatawan juga diajak menjelajahi keindahan alam dan bawah laut Alor serta menikmati kekayaan budaya masyarakat setempat.
Ia berharap setiap wisatawan yang datang ke Alor tidak hanya membawa foto dan video, tetapi juga membawa pulang cerita tentang keramahan masyarakat dan keindahan bumi Taramiti Tominuku.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Alor juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Rektor UNDIP Semarang serta Rektor UNTRIB Kalabahi.
Ucapan terima kasih tersebut disampaikan atas perhatian dan dukungan terhadap perkembangan sektor pariwisata di Kabupaten Alor.
Rocky berharap dukungan dan kolaborasi tersebut dapat terus diperkuat sehingga potensi pariwisata Alor semakin dikenal secara luas.
Menurutnya, masa depan pariwisata Alor membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri. Akademisi tidak dapat berjalan sendiri. Pelaku UMKM tidak dapat berjalan sendiri. Masyarakat adat, seniman, budayawan dan generasi muda juga harus menjadi bagian dari gerakan bersama tersebut.
Dengan kolaborasi itu, pariwisata Alor diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi dan kebudayaan masyarakat. Festival Aladin kemudian menjadi simbol bagaimana sebuah fenomena alam dapat dipertemukan dengan tradisi, teknologi dan kreativitas masyarakat.
Dari pesisir Alor Kecil, masyarakat memperlihatkan bahwa alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga harus dipahami, dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Budaya bukan hanya untuk dipertontonkan, tetapi harus dihormati sebagai identitas dan jati diri masyarakat.
Sementara pariwisata bukan sekadar mendatangkan wisatawan, tetapi harus mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat lokal.
Di penghujung sambutannya, Wakil Bupati Alor Rocky Winaryo, SH., MH., dengan memohon ridha Tuhan Yang Maha Kuasa, secara resmi membuka Festival ALADIN (Air Laut Dingin) Kabupaten Alor Tahun 2026.
“Festival Aladin (Air Laut Dingin) Kabupaten Alor Tahun 2026 resmi saya nyatakan dibuka.”
Pernyataan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian Festival Aladin 2026 di Desa Alor Kecil.
Festival pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kebudayaan, meningkatkan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan serta memperkenalkan keunikan alam Alor kepada dunia.
Dari Alor Kecil, sebuah pesan kebudayaan kembali digaungkan, laut adalah kehidupan, budaya adalah identitas, alam adalah warisan dan masyarakat adalah kekuatan utama pariwisata.
Dengan semangat tersebut, Festival Aladin 2026 diharapkan tidak hanya menjadi perayaan sesaat, tetapi menjadi langkah berkelanjutan untuk membawa pariwisata Alor semakin maju, inklusif dan mendunia. (FKK/Eka Blegur).