1
1
1
2
3
Sabu Raijua,FKKNews.com – Kamis, 13 Agustus 2026. Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, SE., MM, didampingi Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si, membuka secara resmi Lomba Bercerita Antarsiswa/Siswi Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Sabu Raijua yang berlangsung di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sabu Raijua, Gedung Perpustakaan Izhak Huru Doko.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Sabu Raijua, Plt. Asisten I Sekda Sabu Raijua, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sabu Raijua, para dewan juri, kepala sekolah, guru pendamping, orang tua peserta, serta 30 siswa peserta lomba.
Mengusung tema “Anak Indonesia Cinta Budaya dan Tanah Air”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan budaya literasi, pengembangan karakter, peningkatan rasa percaya diri, serta upaya melestarikan cerita rakyat dan kearifan lokal Sabu Raijua.
Dalam laporan panitia yang disampaikan Kepala Bidang Perpustakaan, Jeni M. Merianti, SE, disebutkan bahwa kegiatan tersebut dimaksudkan sebagai salah satu bentuk pembinaan dan pengembangan budaya literasi di kalangan siswa sekolah dasar di Kabupaten Sabu Raijua. Adapun tujuan kegiatan antara lain menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini, menanamkan nilai-nilai moral, pendidikan dan karakter, memperkenalkan cerita rakyat dan kearifan lokal, meningkatkan kemampuan membaca dan bercerita, menumbuhkan rasa percaya diri serta kemampuan berkomunikasi, mengembangkan bakat dan kreativitas, sekaligus menjaring siswa berprestasi di bidang bercerita.
Sebanyak 30 siswa SD mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta membawakan cerita yang bersumber dari cerita rakyat Kabupaten Sabu Raijua, yakni “Tokek dan Kakek Bangau/Maraba Takke Nga Appu”, “Monehe’ Bakka”, dan “Delu Day”. Pemilihan cerita rakyat daerah tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena peserta tidak hanya dituntut mampu bercerita dengan baik, tetapi juga diajak mengenal dan memahami nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam sambutannya, Bupati Krisman menegaskan bahwa lomba bercerita bukan sekadar kegiatan untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan momentum untuk membangun keberanian, karakter dan kualitas diri anak-anak sejak usia dini.
“Kegiatan seperti ini tentu sangat kita dukung. Karena sejak dini anak-anak sudah diajarkan untuk mengembangkan diri. Ini menjadi momen bagi mereka untuk meningkatkan kualitas diri sekaligus memupuk budaya literasi,” ujar Krisman.
Menurutnya, budaya literasi tidak boleh dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis. Anak-anak juga harus memiliki kemampuan memahami, mengolah dan menafsirkan informasi yang diperoleh sehingga dapat digunakan untuk memecahkan persoalan dan menyampaikan pendapat.
“Literasi itu bukan hanya membaca. Anak-anak harus mampu menafsirkan informasi yang mereka dapat, kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk menyelesaikan masalah, mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan,” katanya.
Bupati juga menilai keberanian tampil di depan umum sejak usia dini akan menjadi modal penting bagi anak-anak dalam membangun kepercayaan diri. Ia bahkan mengakui bahwa pada masa kecilnya kesempatan mengikuti kegiatan semacam lomba bercerita belum banyak tersedia. Karena itu, ia menilai anak-anak yang sejak dini telah berani tampil memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun mental dan kemampuan komunikasi.
“Dari kecil sudah berani bercerita, tentu akan membuat mental mereka semakin bagus. Ke depan mereka akan lebih percaya diri dan lebih berani tampil di depan umum. Anak-anak inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin kita,” tegasnya.
Bupati Krisman memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan cerita rakyat Sabu Raijua sebagai materi lomba. Menurutnya, cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi bukan sekadar hiburan, tetapi mengandung nilai-nilai kehidupan yang penting untuk ditanamkan kepada anak-anak.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan zaman dapat membuat sejumlah nilai budaya lokal semakin tergerus. Karena itu, pengenalan budaya kepada anak-anak sejak dini menjadi salah satu cara untuk memastikan warisan tersebut tetap hidup. Menurutnya, masyarakat Sabu Raijua memiliki berbagai nilai luhur, seperti penghormatan terhadap orang tua dan orang yang lebih tua, rasa kekeluargaan yang kuat serta tradisi menyelesaikan persoalan secara damai dan kekeluargaan.
“Budaya-budaya seperti ini perlu kita wariskan kepada anak-anak. Orang Sabu memiliki nilai kekeluargaan yang sangat tinggi. Kalau ada masalah, kita memiliki budaya menyelesaikannya secara kekeluargaan,” jelasnya.
Ia menilai cerita rakyat memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan pesan moral kepada anak-anak.
“Cerita itu ada nilainya. Kalau sejak kecil ditanamkan nilai-nilai yang baik, ketika besar mereka akan terus mengingatnya. Nilai itu akan terbawa dalam bagaimana mereka menjalani kehidupan,” ujarnya.
Dengan demikian, lomba bercerita tidak hanya menjadi panggung bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan berbicara, tetapi juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kejujuran, kebaikan, keberanian, penghormatan dan kecintaan terhadap budaya daerah.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Krisman juga menyampaikan apresiasi kepada para kepala sekolah, guru pendamping dan orang tua yang telah memberikan dukungan kepada anak-anak untuk mengikuti lomba. Ia berharap kolaborasi antara sekolah dan keluarga dapat terus diperkuat sehingga anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan budi pekerti yang baik.
“Mudah-mudahan mereka menjadi anak-anak yang berbudi luhur dan pemberani. Dalam cerita tentu diajarkan kejujuran, kebaikan dan keberanian. Nilai-nilai itulah yang saya percaya akan mereka bawa sampai besar,” katanya.
Bupati juga berpesan kepada seluruh peserta agar tidak menjadikan hasil perlombaan sebagai beban. Menurutnya, menang atau kalah merupakan hal biasa dalam sebuah kompetisi. Yang jauh lebih penting adalah pengalaman, keberanian dan proses pengembangan bakat yang diperoleh anak-anak melalui kegiatan tersebut.
“Ini bukan masalah siapa yang menang atau kalah. Juara dan bukan juara itu biasa. Yang utama adalah bagaimana kegiatan ini bisa mengembangkan minat dan bakat anak-anak,” tegasnya.
Ia meminta peserta yang belum berhasil meraih juara agar tidak berkecil hati. Sebaliknya, peserta yang keluar sebagai pemenang diingatkan agar tidak cepat berpuas diri.
Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, lanjut Bupati, akan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penguatan literasi, pengembangan bakat dan kreativitas anak, pembentukan karakter serta pelestarian budaya daerah.
Lomba Bercerita Antarsiswa/Siswi SD se-Kabupaten Sabu Raijua berlangsung selama dua hari, 13–14 Agustus 2026, dengan melibatkan 30 peserta. Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua berharap budaya literasi tumbuh semakin kuat sekaligus memastikan cerita rakyat dan nilai-nilai luhur budaya Sabu tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.