Kupang, FKKNews.com – Festival Paskah Pemuda Sinode GMIT Tahun 2026 menjadi momentum yang tidak hanya sarat makna iman, tetapi juga menghadirkan ruang inklusi yang nyata bagi kaum disabilitas untuk terlibat, bersuara, dan diakui sebagai bagian utuh dari kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Dalam perayaan tersebut, Insan Dengan Disabilitas (IDD) dari berbagai organisasi di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang turut ambil bagian secara aktif. Mereka terdiri dari ragam disabilitas, mulai dari disabilitas fisik, sensorik netra, teman tuli, hingga disabilitas intelektual dan psikososial. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol, melainkan penegasan bahwa ruang-ruang pelayanan kini semakin terbuka bagi semua, tanpa kecuali.
Di hadapan Wakil Presiden Republik Indonesia, suara disabilitas NTT disampaikan melalui narasi berjudul “Suara Disabilitas dari NTT untuk Indonesia” yang dibacakan oleh perwakilan IDD, Elmi Ismau. Narasi tersebut menggugah kesadaran banyak pihak dengan menghadirkan realitas yang selama ini kerap dialami penyandang disabilitas bukan semata karena keterbatasan fisik, tetapi karena cara pandang masyarakat yang masih belum sepenuhnya menerima.
“Seringkali kami dianggap sebagai ‘barang rusak’ yang tak lagi memiliki guna. Dipandang sebagai objek belas kasihan, seolah napas kami tidak memiliki mandat untuk berkarya,” demikian penggalan pesan yang disampaikan dengan penuh keteguhan.
Namun di tengah stigma, diskriminasi, bahkan eksploitasi yang kerap terjadi, termasuk di ruang digital, kaum disabilitas memilih untuk tetap berdiri, melawan dengan harapan dan iman. Mereka menegaskan bahwa Paskah adalah simbol kekuatan, di mana penderitaan tidak menjadi akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan.
Pesan itu dipertegas dengan refleksi iman bahwa Kristus yang bangkit adalah Dia yang pernah dihina dan dianggap lemah. Dari sanalah mereka menemukan makna bahwa yang kerap dipinggirkan justru memiliki tempat penting dalam rencana besar kehidupan.
“Kami bukan sekadar objek pembangunan, tetapi subjek yang ingin turut serta menjadi rekan sekerja pelayanan di gereja, pemerintah, dan masyarakat,” lanjut narasi tersebut.
Sebagai bentuk simbol kebersamaan dan penghargaan, Insan Dengan Disabilitas juga menyerahkan cendera mata kepada Wakil Presiden yang diwakili oleh Sekretaris IDD, Yomi Radja. Selain itu, diserahkan pula topi tenun hasil karya Nona Ratu, penyandang disabilitas fisik asal Kabupaten Kupang, yang menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan tidak menghalangi kreativitas dan kontribusi.
Di akhir pesan mereka, kaum disabilitas NTT menyampaikan seruan yang kuat kepada seluruh elemen bangsa agar membuka ruang yang lebih adil dan setara. Mereka mengingatkan bahwa menjadi disabilitas bukanlah pilihan, melainkan kemungkinan yang bisa terjadi pada siapa saja.
“Berilah kami ruang untuk berpartisipasi, bukan sekadar dikasihani. Karena ketika satu bagian merasakan keadilan, seluruh bangsa akan merasakan sukacita kebangkitan yang sejati.”
Festival Paskah ini pun tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga panggilan moral untuk meruntuhkan sekat diskriminasi dan membangun jembatan inklusi. Dari Nusa Tenggara Timur, suara itu kini menggema lebih luas bahwa setiap manusia berharga, dan setiap keterbatasan menyimpan cahaya yang layak untuk diberi ruang.

















































