Tulisan ini sebagai refleksi keterpanggilan GMKI-Kupang dalam perayaan Sukacita Kebangkitan Kristus.
I. Paskah: Saat Altar Berpindah ke Jalanan
Sukacita kemenangan Paskah sering kita rayakan dengan kemegahan liturgi di dalam gedung gereja yang sejuk dan tertib. Namun tema PGI tahun ini, “Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” menantang diri kita untuk menarik garis lebih radikal. Kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa teologis yang berhenti di altar melainkan suatu pembaruan eksistensial yang menarik manusia keluar dari zona nyaman menuju pergumulan kemanusiaan yang sedang merintih.
Tema GMKI tentang “Berubahlah, temukanlah kasih Allah dalam Peziarahan” bukan sekadar metafora perjalanan rohani yang indah. Ia adalah deskripsi yang tepat dari panggilan pelayanan kita di NTT hari ini: berjalan menuju tempat-tempat yang penuh luka pahit, mendengarkan yang terabaikan, dan hadir di mana kemanusiaan sedang dihancurkan. Kedua tema ini pembaruan dari PGI dan peziarahan dari GMKI sesungguhnya adalah satu gerak yang utuh: kita berziarah demi pembaruan kemanusiaan itu. Peziarahan tanpa misi pembaruan adalah wisata rohani. Pembaruan tanpa kesediaan berziarah ke tempat yang penuh luka adalah teologi hampa.
Berefleksi dari Lukas 24:13-35, para murid dalam perjalanan ke Emaus tidak mengenali Kristus yang berjalan bersama mereka, sampai momentum pemecahan roti membuka mata mereka. Setelah itu, mereka tidak tinggal diam menikmati pencerahan melainkan segera bergegas kembali ke Yerusalem, sebuah kota yang penuh risiko, ketegangan, dan luka yang belum sembuh. Bagi GMKI_Kupang, Yerusalem kita adalah NTT hari ini. Jalan raya kemanusiaan kita melewati daerah-daerah yang ditinggalkan pembangunan, lorong-lorong perdagangan manusia, meja-meja birokrasi yang menentukan nasib ribuan pegawai, ruang-ruang sidang yang tidak adil, dan kamar-kamar gelap tempat tubuh anak-anak dihancurkan secara diam-diam. Inilah konteks salib pelayanan yang harus dipikul kader GMKI-Kupang.
II. Membaca Luka NTT: Tubuh Kemanusiaan yang Menanti Kebangkitan
Roma 12:2 memberi kita perintah yang sekaligus merupakan fondasi advokasi: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu.” Pembaruan akal budi adalah akar dari setiap tindakan perjuangan. Tanpa pertobatan cara pandang, advokasi hanya akan menjadi eksistensi tanpa kasih dan gerakan tanpa jiwa.
Bila kita benar-benar memandang NTT dengan mata yang telah dibarui, kita akan melihat satu tubuh kemanusiaan yang terluka dan berdarah di banyak bagian sekaligus. Luka-luka itu tidak berdiri sendiri, mereka saling terhubung dalam satu perjalanan tentang martabat manusia yang belum sepenuhnya dipulihkan.
Tubuh yang Lapar: Kemiskinan sebagai Akar dari Segala Luka
Kita harus berani menyebut akarnya dari segala luka yaitu kemiskinan struktural yang telah bersatu dalam kehidupan jutaan warga NTT selama puluhan tahun. NTT secara konsisten berada di antara tiga provinsi termiskin di Indonesia. Namun angka kemiskinan bukan hanya soal penghasilan, tetapi terkait anak yang tumbuh tanpa gizi cukup, ibu yang melahirkan tanpa bidan, kepala keluarga yang terpaksa menjual satu-satunya pilihan yang tersisa: tubuh dan tenaga anggota keluarganya kepada sindikat TPPO.
Kemiskinan adalah tanah kering di mana hampir semua luka NTT bertumbuh. Ia membuat orang mudah termanipulasi janji kerja di luar negeri. Ia membuat anak putus sekolah dan rentan terhadap eksploitasi seksual. Ia membuat komunitas tidak berdaya menuntut keadilan karena tidak mampu membayar biaya keadilan. Ketika GMKI memperjuangkan keadilan ekonomi dan pengentasan kemiskinan, kita sedang mencabut akar yang menopang hampir seluruh sistem penindasan di NTT. Inilah mengapa advokasi kemiskinan bukan isu sampingan, melainkan prasyarat dari semua perjuangan lainnya.
Tubuh yang Terisolasi: Ketidakmerataan Infrastruktur dan Pembangunan
Ketimpangan infrastruktur di NTT bukan hanya soal jalan yang rusak atau jembatan yang belum dibangun. Ia adalah cermin dari ketimpangan perhatian pemerintah terhadap warganya. Sementara kota Kupang terus berkembang dengan cahaya gemerlap dan gedung tinggi megahnya, kecamatan-kecamatan di Amfoang, Timor Tengah Selatan, Sumba, Sabu dan puluhan daerah kepulauan masih berjuang mendapatkan listrik yang stabil, sinyal telepon, dan akses air bersih.
Ketika ibu hamil di pelosok daerah NTT harus ditandu berjam-jam melewati jalan berlumpur dan putus untuk mengakses fasilitas kesehatan, itu bukan takdir geografis itu adalah kegagalan kebijakan yang telah dibiarkan terlalu lama. Ketimpangan ini juga menciptakan lingkaran setan: daerah terisolasi sulit menarik investasi, sulit menahan warga usia produktif, dan sulit membangun pelayanan publik yang layak. Memperjuangkan pemerataan infrastruktur bukan sekadar soal pembangunan fisik tapi perjuangan untuk memastikan bahwa setiap warga NTT memiliki hak untuk hadir, untuk dijangkau dan untuk tidak dilupakan.
Tubuh yang Diperdagangkan: Wajah Kristus dalam Korban TPPO
NTT sebagai salah satu provinsi dengan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tertinggi di Indonesia mengambarkan angka statistic yang menyerupai wajah seorang anak remaja, seorang perempuan muda, seorang kepala keluarga yang dimanipulasi dengan janji kerja dan dikirim ke berbagai neraka modern.
Dalam peziarahan advokasi kita melawan TPPO, kita sesungguhnya sedang berjumpa dengan wajah Kristus yang paling tersembunyi, Ia yang berteriak dari dalam penjara rantai sindikat. Menemukan kasih Allah dalam peziarahan ini berarti menjadi suara bagi yang suaranya dibungkam dengan paksa, sekaligus mendorong negara untuk hadir dengan program ekonomi yang sungguh-sungguh melindungi warga dari jerat kemiskinan yang membuat mereka rentan.
Tubuh yang diabaikan Hukum: Mencari Keadilan di Ruang Pengadilan
Bila Paskah adalah proklamasi bahwa batu kubur korupsi dan kegelapan tidak akan menang, maka advokasi kita terhadap transparansi penegakan hukum kasus pembunuhan, TPPO, kriminalisasi aktivis, kekerasan sesual, korupsi dan kasus lainnya di NTT adalah tindakan Paskah yang konkret. Ketika kasus-kasus hukum dimakamkan oleh nepotisme dan uang, kita hadir untuk menggulingkan batu itu. Keadilan bukan suatu kemewahan melainkan suatu prasyarat dari kemanusiaan yang utuh.
Tubuh yang Ketakutan: Krisis Nasib PPPK di NTT
Di tengah isu kemanusiaan yang lebih besar, ada satu luka yang menyentuh kehidupan ribuan keluarga di NTT: krisis nasib PPPK akibat kebijakan penataan aparatur yang berpotensi merumahkan ribuan tenaga kerja. Kebijakan yang lahir dari meja birokrasi pusat ini, bila diterapkan tanpa kepekaan konteks lokal, akan menghancurkan tumpuan ekonomi keluarga-keluarga yang selama bertahun-tahun menggantungkan harapan pada gaji pegawai negeri sebagai satu-satunya sumber penghasilan tetap.
Di NTT, menjadi pegawai pemerintah bukan sekadar pilihan karier tapi satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan yang tersedia di daerah yang minim lapangan kerja swasta. Ketika kebijakan merumahkan ribuan pegawai diterapkan tanpa jaring pengaman yang memadai, yang jatuh bukan hanya individu pegawai itu melainkan seluruh keluarga yang bergantung padanya, dan komunitas yang dilayaninya.
GMKI Kupang dipanggil untuk hadir dalam pergumulan ini: mendesak negara agar kebijakan kepegawaian tidak menjadi instrumen baru kemiskinan di tengah masyarakat yang sudah terlalu lama berjuang keluar dari pasih hisap kemiskinan.
Tubuh yang Dieksploitasi: Melawan Kekerasan Seksual dan Predator Digital
Di tengah meningkatnya kasus kekerasan seksual dan eksploitasi seksual anak melalui platform digital di Kupang, kita dihadapkan pada bentuk “maut” yang bekerja secara senyap namun sistematis. Teknologi yang seharusnya menjadi jembatan peradaban telah digunakan untuk menghancurkan yang paling rentan. Paskah memanggil kita untuk memulihkan martabat yang sudah dihancurkan bukan hanya dengan pendampingan korban, tetapi juga dengan memutus rantai gelap ini melalui edukasi, advokasi kebijakan, dan kehadiran nyata di ruang-ruang digital.
Tubuh yang Distigma: HIV/AIDS antara Pencegahan dan Pemulihan
Stigma adalah bentuk pengucilan yang membunuh tanpa menyentuh. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di NTT kerap menghadapi penolakan ganda: dari masyarakat dan dari sistem kesehatan yang seharusnya merawat mereka. Angka penularan HIV yang terus bertumbuh di NTT, termasuk di kalangan usia muda adalah peringatan keras bahwa advokasi HIV harus bergerak ke hulu: pencegahan yang sistematis.
Kebangkitan Kristus adalah proklamasi bahwa tidak ada satu pun nyawa yang layak dikubur dalam pengasingan atau dalam ketidaktahuan yang bisa dicegah. Merangkul ODHA sekaligus melindungi yang belum terinfeksi adalah dua sisi dari satu panggilan yang sama yaitu menjaga keutuhan tubuh kemanusiaan NTT.
Keenam luka ini lahir dari tubuh yang lapar, terisolasi, diperdagangkan, diabaikan hukum, takut akan kebijakan, dieksploitasi, hingga distigma adalah satu tubuh kemanusiaan NTT yang sedang menantikan kebangkitan. Dan kebangkitan itu tidak akan datang tanpa tangan-tangan yang bersedia menjadi instrumennya.
III. Militansi Perjuangan yang Berakar pada Kasih
Refleksi krusial ialah bagaimana cara pandang kita pada militansi pergerakan, sebab perziarahan ini bukan militansi yang tumbuh dari kemarahan semata, melainkan dari kasih yang telah diperbarui. Kita berjuang bukan karena benci pada penindas, melainkan karena cinta kepada yang tertindas.
Sebagai manusia yang lahir baru melalui momentum paskah ini maka kita adalah individu yang telah melewati kematian ilusi, ilusi bahwa kemiskinan NTT adalah takdir yang harus diterima, ilusi bahwa infrastruktur yang tidak merata adalah wajar karena kita “jauh dari pusat”, ilusi bahwa satu orang tidak cukup membuat perubahan.
Kebangkitan Kristus mematahkan semua ilusi itu. Ia memanggil kita untuk berdiri, bergerak, dan hadir.
Maka setiap kerja advokasi GMKI Kupang adalah persembahan yang hidup (Roma 12:1). Bukan liturgi yang selesai ketika doa berakhir, melainkan liturgi yang dimulai ketika kita meninggalkan ruang ibadah dan melangkah ke jalanan.
Penutup: Kembali ke Jalan Raya Kemanusiaan
Sukacita Paskah tahun ini kita rayakan di sebuah NTT yang masih penuh dengan tangisan. Tangisan keluarga miskin yang anak-anaknya putus sekolah karena keterbatasan biaya. Tangisan ibu yang anaknya dirampas sindikat TPPO. Tangisan warga pelosok yang menunggu jalan dan listrik yang tak kunjung tiba. Tangisan seorang pegawai Honorer yang menerima surat pemutusan hubungan kerja tanpa pesangon. Tangisan seorang ODHA yang ditolak dari pintu ke pintu. Tangisan seorang anak yang tubuhnya dijadikan tontonan oleh predator seksual di ruang digital.
Namun di tengah semua tangisan itu, kita memiliki pengakuan iman yang harus lantang kita uacapkan: Kristus Bangkit. Dan karena Ia bangkit, kemanusiaan tidak boleh berhenti diperjuangkan. Pembaruan bukan mimpi, ia adalah janji yang sudah digenapi, yang kini menunggu tangan-tangan kita untuk mewujudkannya dalam sejarah NTT.
Marilah kita jadikan Paskah ini sebagai titik balik, titik di mana GMKI Kupang memperbarui komitmennya untuk berziarah bersama pergumulan milik sesama yang paling lemah, paling terpinggirkan, dan paling tidak terdengar di bumi Flobamora ini. Karena di sanalah altar perjumpaan kita dengan Allah.
Kristus Bangkit! Kemanusiaan dipulihkan dalam Perziaraan ini!
Ut Omnes Unum Sint.





















































