1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Hari penentuan tiba, Senin 30 Juni 2026, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kabupaten Alor menggelar Musyawarah Daerah (Musda) periode 2026-2031 untuk memilih Ketua baru. Tapi di tengah panas nya dinamika di luar forum, suara kritis langsung menghantam dari akar rumput.
Imanuel Banik, Ketua Pimpinan Partai Golkar Kecamatan Alor Timur, angkat bicara keras. Menurutnya, jalannya Musda kali ini terkesan tidak bermartabat dan bisa jadi titik awal kegagalan Golkar Alor membina kader di bawah.
Penyebabnya? Dugaan kuat adanya intervensi dari DPD I Partai Golkar Provinsi NTT untuk memuluskan satu nama jadi Ketua.
“Kalau benar ada permainan dari atas untuk menentukan siapa yang harus menang, maka Musda ini kehilangan jiwanya. Ini bukan demokrasi, ini pesanan,” tegas Imanuel kepada media ini, Selasa (30/06/2026).
Dengan nada geram tapi berharap, Imanuel menuntut Musda melahirkan pemimpin yang berkualitas, merangkul, dan murni dipilih suara basis. Bukan produk intervensi.
“Kami berharap hari ini Musda benar-benar bersih, tidak ada intervensi atau permainan dari DPD I NTT tetapi biarlah dinamika persidangan berjalan sesuai mekanisme, semua tahapan harus fair,” hantamnya.
Ia menyorot empat calon yang bertarung, yakni Sulaiman Sings, Gabriel Laumakiling, Yahya E. Bolang, dan Srikandi Aksa Y. Blegur. Keempatnya, kata dia, harus diberi ruang berproses lewat pengkaderan yang benar.
“Pimpinan kecamatan sudah datang jauh-jauh, mereka penjaga suara akar rumput karena itu beri mereka ruang untuk melahirkan produk berkualitas yang bisa merangkul dan membesarkan Golkar ke depan,” tegasnya.
Kritik Imanuel tak berhenti di situ, Ia menyentil kinerja partai pasca Pemilu.
“Golkar ini stren-nya menurun sejak Pilkada maupun Pileg kemarin. Kita tidak bisa tutup mata,” ujarnya.
Namun ia juga mengingatkan jasa kader Alor di Pilgub, bahwa kita bersukacita karena mampu memenangkan Abang Melki Laka Lena, Wakil Ketua Umum DPP Golkar, jadi Gubernur NTT.
Karena itu, ia menuntut imbalannya Golkar Alor harus lahirkan kader yang bisa bersaing di Legislatif dan Pilkada.
“Ruang itu dibuka seluas-luasnya di Musda. Jangan ada intervensi dari DPD I NTT untuk menunjuk siapa yang jadi Ketua. Ada kuat dugaan itu sedang terjadi,” pungkasnya tajam.
Musda belum selesai, tapi tensi sudah di puncak, Akar rumput sudah bersuara Kini giliran forum yang menentukan apakah Golkar Alor memilih jalan martabat, atau jalan intervensi? (FKK/Eka Blegur).