1
1
1
2
3
Shalom sahabat sepelayanan, selamat menikmati pemeliharaan Tuhan. Selamat mempersiapkan ibadah bersama umat dengan hati penuh sukacita dan syukur. Salam dan doa beserta Pdt. Desiana Rondo -Effendy M.Th (GMIT MORIA LILIBA , KLASIS KOTA KUPANG TIMUR).
Bacaan : Matius 18:6-11
Tema: Jangan Menjadi Batu Sandungan bagi sesama dalam Pelayanan
Pendahuluan
“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”
Pelayanan bukan sekadar soal siapa yang paling pintar berkhotbah, paling lama melayani, atau paling besar jabatannya. Pelayanan adalah tentang membawa orang semakin dekat kepada Kristus.
Yesus memberikan peringatan yang sangat keras: jangan sampai hidup, perkataan, sikap, ego, dan kesombongan kita justru menjadi batu sandungan yang membuat orang lain menjauh dari Tuhan.
Di gereja sering kali bukan penganiayaan dari luar yang melukai jemaat, tetapi kesombongan, persaingan, iri hati, dan penyalahgunaan kuasa dari dalam pelayanan itu sendiri.
Kalimat Yesus dalam Matius 18:6 merupakan salah satu peringatan paling keras dalam seluruh Injil:
“Lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”
Ungkapan ini adalah hiperbola (gaya bahasa yang sangat kuat) untuk menunjukkan betapa seriusnya dosa menyesatkan orang lain.
Yesus tidak sedang mengajarkan hukuman mati, melainkan menggambarkan beratnya konsekuensi moral dan rohani dari membuat orang lain jatuh dalam iman.
Penjelasan teks
Catatan Kritis dan Teologis
1. Batu sandungan adalah dosa yang sangat serius (ayat 6)
Kata “batu sandungan” berarti sesuatu yang membuat seseorang jatuh, tersandung, atau kehilangan imannya.
Yesus tidak sedang berbicara hanya tentang anak kecil secara usia, tetapi juga tentang orang-orang yang lemah imannya, orang yang baru percaya, atau siapa saja yang sedang bertumbuh dalam iman.
Tidak ada pelayanan yang berhasil bila banyak orang kehilangan iman karena sikap pelayannya.
1. Apa itu batu kilangan? Batu kilangan adalah batu bundar yang sangat besar untuk menggiling gandum. Pada zaman Yesus ada dua jenis:
* Batu giling kecil yang diputar dengan tangan.
* Batu kilangan besar yang diputar oleh keledai. Batu ini sangat berat, bisa mencapai ratusan kilogram.
Karena ukurannya yang besar, jika batu itu diikatkan ke leher seseorang lalu dilemparkan ke laut, tidak ada kemungkinan untuk menyelamatkan diri. Yesus mengatakan hukuman dunia yang paling mengerikan sekalipun, masih lebih ringan dibandingkan penghakiman Allah bagi orang yang dengan sengaja menghancurkan iman orang lain.
Mengapa setelah diikat ia ditenggelamkan di laut? Bagi orang Yahudi, laut sering melambangkan:
* tempat yang mengerikan,
* kekacauan,
* kematian,
* keterpisahan,
* ketidakberdayaan manusia.
Ditenggelamkan ke laut dengan batu besar berarti kematian yang tidak dapat dihindari dan tanpa harapan untuk kembali.
Pesan Yesus adalah: lebih baik mengalami kematian fisik daripada hidup dengan kesalahan karena telah membuat orang lain kehilangan imannya.
Yesus sedang memperingatkan para pemimpin, pelayan, guru, dan setiap orang percaya:
* Jangan menyalahgunakan jabatan.
* Jangan mempermainkan kepercayaan orang.
* Jangan menghina, mempermalukan, atau memanfaatkan orang yang lemah.
* Jangan membuat jemaat kecewa sehingga mereka meninggalkan Kristus.
Kesombongan melahirkan penghalang dan pembatas. Banyak pelayanan gagal bukan karena kekurangan dana, tetapi karena hati yang penuh kesombongan. Akibatnya pelayanan berubah menjadi arena dan tempat mempertahankan kekuasaan.
Padahal Kerajaan Allah tidak dibangun oleh ego, tetapi oleh kerendahan hati.
Batu sandungan bukan hanya ajaran sesat, tetapi juga:
* kesombongan,
* kemunafikan,
* penyalahgunaan kuasa,
* fitnah,
* ketidakadilan,
* kehidupan yang bertentangan dengan Injil.
Semua itu dapat “menenggelamkan” iman orang lain.
Mata jasmani boleh melihat, tetapi mata iman harus mampu membedakan (ayat 8–9); Yesus berkata:
“Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah.”
Ini bukan perintah harfiah untuk melukai tubuh, tetapi bahasa yang sangat tegas bahwa dosa harus dipotong sampai ke akarnya.
Ada dua macam mata.
Mata jasmani melihat jabatan, uang, popularitas, penghormatan, dan kepentingan pribadi.
Tetapi mata iman melihat:
* siapa yang sedang terluka,
* siapa yang sedang kecewa,
* siapa yang sedang dijauhkan dari Kristus,
Mata iman membuat seseorang peka terhadap batu sandungan yang sering tidak terlihat oleh mata biasa. Yang harus “dicongkel” bukan bola mata kita, melainkan cara pandang yang penuh iri hati, kesombongan, dan ambisi.
Mata hati yang hidup akan mengenali penghalang dan pembatas. Banyak orang memiliki mata yang sehat tetapi hati yang buta.
Mata hati yang hidup mampu melihat:
* kesombongan yang mulai tumbuh,
* pelayanan yang berubah menjadi pencitraan,
* keputusan yang melukai banyak orang,
* perkataan yang menghancurkan semangat orang lain.
Pelayanan membutuhkan mata hati yang diterangi Roh Kudus.
Tangan dan kaki bukan sekadar pelengkap (ayat 8) ; Tangan melambangkan pekerjaan. Kaki melambangkan arah perjalanan hidup. Tangan dipakai untuk:
* melayani,
* mengangkat yang jatuh,
* memberi,
* memulihkan.
Bukan untuk:
* menunjuk kesalahan,
* menyingkirkan orang,
* membangun kubu.
Kaki dipakai untuk:
* mendatangi yang terluka,
* mencari yang hilang,
* membawa damai,
* memberitakan Injil.
Bukan berjalan menuju ambisi pribadi. Yesus berkata, lebih baik kehilangan tangan atau kaki daripada seluruh hidup dipakai menjadi alat kejahatan.
Artinya fungsi tubuh jauh lebih penting daripada penampilannya.
Refleksi dan Aplikasi
Hari ini Tuhan bertanya kepada kita:
Apakah saya menjadi jembatan atau tembok?
Apakah saya menjadi pintu yang membuka jalan bagi orang datang kepada Kristus atau pagar yang menghalangi mereka?
Dalam keluarga, gereja, organisasi, dan masyarakat, jangan sampai karena ego kita ada orang kehilangan semangat, kehilangan harapan, bahkan kehilangan iman.
Kristus memanggil kita menjadi jalan berkat, bukan batu sandungan.
1. Periksa motivasi pelayanan setiap hari.
2. Buang kesombongan yang menciptakan sekat dan pembatas.
3. Gunakan mata iman untuk melihat kebutuhan orang lain, bukan hanya kepentingan diri sendiri.
4. Biarkan tangan menjadi alat melayani, bukan melukai.
5. Biarkan kaki berjalan menuju rekonsiliasi, bukan menuju konflik.
6. Jadilah teladan sehingga orang semakin dekat kepada Kristus melalui hidup kita.
Batu sandungan tidak selalu berupa dosa besar. Kadang ia hadir dalam kalimat yang merendahkan, keputusan yang tidak adil, sikap yang arogan, atau hati yang enggan mengampuni.
Pelayanan sejati bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri di mimbar, tetapi seberapa banyak orang yang dapat berjalan mendekat kepada Kristus karena hidup kita menjadi teladan.
“Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi tembok yang membatasi, melainkan jembatan yang menghubungkan. Jangan biarkan kesombongan menjadi batu sandungan yang menjatuhkan orang lain.
Bukalah mata iman agar mampu melihat mereka yang terluka, hidupkan mata hati agar peka terhadap setiap penghalang, dan gunakan tangan serta kaki untuk melayani dengan kasih. Sebab pada akhirnya, ukuran pelayanan bukanlah seberapa besar nama kita dikenal, tetapi seberapa banyak orang semakin mengenal dan mengikut Kristus karena kehidupan kita.” Amin.