1
1
Kalabahi, FKKNews.com – Pernyataan politik Lomboan Djahamouw kembali menyita perhatian publik Kabupaten Alor. Pria asal Alor Bujanta tersebut secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai bakal calon Bupati Alor setelah masa kepemimpinan periode berjalan berakhir.
Meski tahapan Pilkada Alor masih beberapa tahun lagi, pernyataan tersebut mulai menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Lomboan mengaku ingin menghadirkan warna baru dalam kontestasi politik daerah dengan memberikan ruang lebih besar kepada generasi muda untuk mengambil bagian dalam menentukan arah pembangunan Kabupaten Alor.
Tidak hanya maju sebagai calon Bupati, Lomboan juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menyiapkan sosok perempuan asal Alor yang disebut akan menjadi pasangan bakal calon Wakil Bupati. Sosok tersebut, menurut Lomboan, saat ini bekerja pada sebuah bank swasta internasional.
Namun, bagi Lomboan, pencalonan bukan semata-mata persoalan siapa yang akan menjadi Bupati atau Wakil Bupati. Ia justru menyoroti salah satu persoalan yang selama ini kerap menjadi perbincangan dalam setiap momentum politik, yakni praktik politik uang.
“Pak wartawan, saya dengan pasangan bakal calon Bupati ini ingin agar politik Pilkada di Alor bebas dari politik uang. Kami menolak money politics dan bahkan kami akan melawan jika ada yang berani berpolitik dengan mengandalkan uang,” tegas Lomboan saat menghubungi media ini, Rabu (26/08/2026).
“Bukan Uang Berbalas Suara, Tetapi Cinta Berbalas Cinta”
Lomboan menilai politik elektoral selama ini sering dipersepsikan sebagai pertarungan kekuatan finansial. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diubah dengan menghadirkan model politik yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ia mengaku bersama calon pasangannya ingin membangun komunikasi politik yang bertumpu pada kedekatan, ketulusan, kepercayaan dan kecintaan kepada masyarakat.
“Kami membawa warna baru dalam kompetisi Pilkada. Selama ini ajang pertandingan Pilkada hampir selalu identik dengan uang berbalas suara. Namun, kami muncul dengan cinta berbalas cinta,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan politik yang ingin dibangun Lomboan sejak dini. Ia ingin menunjukkan bahwa dukungan politik tidak selamanya harus dibangun melalui transaksi, melainkan dapat tumbuh dari hubungan yang lebih dekat antara pemimpin dan masyarakat.
Tak Hanya Politik, Lomboan Siapkan Gerakan Edukasi Keluarga dan Keagamaan
Menariknya, gagasan Lomboan tidak berhenti pada isu Pilkada dan politik uang. Ia juga mengungkapkan rencana untuk turun langsung ke tengah masyarakat bersama calon pasangannya melalui kegiatan sosial dan edukasi.
Salah satu agenda yang disebut akan dilakukan adalah seminar mengenai kehidupan keluarga, pernikahan dan pendidikan seksual yang dikaitkan dengan nilai-nilai agama.
Untuk masyarakat Kristen, kegiatan tersebut direncanakan melibatkan rohaniawan atau tokoh gereja. Sementara bagi masyarakat yang memeluk agama lain, kegiatan serupa akan melibatkan tokoh agama atau rohaniawan dari agama masing-masing.
Menurut Lomboan, pendidikan mengenai keluarga, pernikahan dan tanggung jawab moral perlu mendapat perhatian lebih serius di tengah perkembangan teknologi digital.
“Kami berdua akan selalu terjun langsung ke masyarakat menyampaikan seminar tentang seks dan pernikahan sesuai agama masing-masing, dengan melibatkan rohaniawan. Untuk umat Kristen dengan rohaniawan Kristen, begitu juga dengan agama lain bersama rohaniawan masing-masing,” jelasnya.
Ia menilai edukasi tersebut penting di tengah berbagai persoalan sosial yang berkembang, termasuk kekerasan seksual serta maraknya transaksi seksual melalui platform digital yang menurutnya semakin sulit dibendung.
“Kami ingin memberikan edukasi tentang pentingnya pernikahan sesuai dengan agama yang dianut setiap orang. Ini menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang kuat dan masyarakat yang lebih baik,” katanya.
Generasi Muda dan Warna Baru Politik Alor
Pernyataan Lomboan sekaligus memperlihatkan arah politik yang hendak dibangunnya. Ia ingin membawa isu regenerasi kepemimpinan ke ruang publik dan mendorong generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton dalam setiap momentum politik.
Baginya, generasi muda harus diberikan kesempatan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan ikut menentukan masa depan daerah.
Di sisi lain, wacana tersebut tentu masih akan berhadapan dengan dinamika politik Alor yang sangat kompleks. Masih panjang waktu menuju Pilkada, sehingga berbagai kemungkinan politik masih dapat berubah, termasuk soal kendaraan politik, dukungan partai, pasangan calon, hingga bentuk koalisi yang akan terbentuk.
Karena itu, pernyataan Lomboan saat ini lebih tepat dibaca sebagai sinyal awal sekaligus deklarasi kesiapan politik, bukan sebagai pencalonan resmi dalam tahapan Pilkada.
Tantangan Politik Tanpa Uang
Jika benar-benar ingin membawa politik tanpa money politics, tantangan terbesar Lomboan justru terletak pada bagaimana gagasan tersebut dapat diterjemahkan dalam praktik politik.
Sebab, menolak politik uang bukan hanya membutuhkan keberanian seorang calon, tetapi juga membutuhkan pendidikan politik masyarakat, komitmen partai politik, pengawasan penyelenggara Pemilu, serta keberanian masyarakat untuk tidak menjadikan suara sebagai komoditas transaksi.
Di titik inilah gagasan Lomboan akan diuji.
Apakah slogan “cinta berbalas cinta” mampu menjadi alternatif terhadap politik transaksional?
Ataukah politik uang masih terlalu kuat untuk dilawan hanya dengan pendekatan kedekatan dan ketulusan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu masih akan menjadi bagian dari perdebatan publik Alor dalam beberapa tahun ke depan.
Yang jelas, Lomboan Djahamouw telah melemparkan satu pesan politik ke ruang publik bahwa Pilkada, menurutnya, tidak harus selalu tentang uang dan suara. Politik juga dapat dibangun melalui kepercayaan, ketulusan, pendidikan masyarakat dan kecintaan kepada rakyat.
Dan dari Alor Bujanta, sebuah wacana politik baru mulai dilemparkan, bukan uang berbalas suara, tetapi cinta berbalas cinta. (*fkk).