Kupang, FKKNews.com – Besok, Jumat (27/3/2026) di sebuah sudut sederhana di Kelurahan Maulafa (Tofa), Kota Kupang, bukan hanya bidak catur yang akan digerakkan.
Lebih dari itu, akan ada hati-hati orang muda dan mahasiswa yang saling mendekat, pikiran-pikiran yang dipertemukan, dan persaudaraan yang dirajut dalam keheningan papan hitam putih di Rumah Ora Et Labora, DPD GAMKI NTT.
Turnamen Catur Persaudaraan yang digagas oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI NTT) bersama Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kupang memang tampak sederhana. Hanya berlangsung dua hari, 27-28 Maret 2026, dengan sekitar 50 peserta yang siap bertanding.
Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan sebuah tujuan yang lebih dalam: mempertemukan kader, merawat relasi, dan menguatkan rasa memiliki sebagai satu keluarga besar.
Ketua Panitia, Alfred Umbu Kora Namuwali, menyadari betul bahwa kegiatan ini bukan sekadar soal menang atau kalah.
“Ini bukan hanya tentang pertandingan. Ini tentang bagaimana kita duduk bersama, saling mengenal, dan belajar menghargai satu sama lain. Catur hanya menjadi jembatan,” ungkapnya.
Di atas papan catur, strategi akan diuji.
Tetapi di luar papan itu, kebersamaanlah yang sedang dibangun.
Setiap langkah bidak bukan hanya soal taktik, tetapi juga melatih kesabaran, ketenangan, dan cara berpikir yang jernih, nilai-nilai yang juga dibutuhkan dalam perjalanan pelayanan dan kehidupan berorganisasi.
Turnamen ini menggunakan sistem Swiss, memberi ruang bagi semua peserta untuk terus bermain hingga akhir. Tidak ada yang langsung tersingkir. Semua diberi kesempatan.
Seperti kehidupan kaderisasi, tidak selalu tentang siapa yang paling cepat menang, tetapi siapa yang mau terus bertumbuh dan bertahan.
Panitia memastikan seluruh persiapan telah matang. Namun bagi mereka, keberhasilan kegiatan ini bukan diukur dari megahnya acara, melainkan dari hangatnya relasi yang terbangun.
Di tengah kesibukan, perbedaan latar belakang, dan dinamika organisasi, pertemuan seperti ini menjadi ruang yang langka, ruang untuk kembali saling menyapa, tertawa, dan merasa “kita adalah satu”.
Besok, ketika pertandingan dimulai, mungkin tidak semua orang akan pulang membawa piala.
Namun harapannya, semua akan pulang membawa sesuatu yang lebih berharga:
rasa kebersamaan.
Karena pada akhirnya, turnamen ini bukan hanya tentang siapa yang menang di atas papan catur, tetapi tentang bagaimana kita tetap bersama, di luar papan kehidupan. (*FKK)






















































