Popular Posts

17878784616682

Usai BAM Cup 2026, Panitia Apresiasi Semua Pihak, Soroti Fasilitas Lapangan GOR Batunirwala, Harap Pemkab Alor dan DPRD Serius Bangun Olahraga

Kalabahi, FKKNews.com – Open Turnamen Sepak Bola Budi Artha Mandiri Cup Tahun 2026 resmi berakhir. Di balik kemeriahan kompetisi yang mempertemukan sejumlah tim terbaik, terselip pesan penting dari panitia kepada Pemerintah Kabupaten Alor dan DPRD: pembangunan olahraga tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan turnamen, tetapi harus dibarengi dengan pembenahan fasilitas dan pembinaan atlet secara berkelanjutan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Panitia Budi Artha Cup, Rahmad Mansari, S.Pt., M.Si, dalam acara penutupan turnamen di Lapangan GOR Batunirwala, Kabupaten Alor, Kamis (26/08/2026) sore, sebelum kegiatan resmi ditutup oleh Wakil Bupati Alor, Rocky Winaryo, S.H., M.H.

Rahmad menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam menyukseskan turnamen hingga berjalan dengan baik dan aman.

Namun, di tengah apresiasi tersebut, Rahmad juga menitipkan sebuah catatan yang dinilai penting untuk menjadi perhatian pemerintah daerah, yakni kondisi serta pengembangan fasilitas olahraga di Kabupaten Alor.

Rahmad yang juga menjabat sebagai Camat Teluk Mutiara itu menegaskan bahwa keberadaan lapangan dan stadion tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat pertandingan. Lebih dari itu, fasilitas olahraga merupakan ruang publik yang dapat menjadi tempat berkumpul, berinteraksi sekaligus menjadi wadah pembinaan generasi muda.

Menurutnya, dari ruang-ruang olahraga seperti itulah dapat lahir generasi yang sehat, disiplin, berkarakter dan memiliki semangat kebersamaan.

Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Alor bersama DPRD memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan dan pembinaan olahraga, termasuk melalui perencanaan dan penganggaran dalam APBD.

Jangan Hanya Bangun Kompetisi, Fasilitas Juga Harus Diperhatikan

Rahmad menilai pembangunan fasilitas olahraga dan pembinaan atlet semestinya ditempatkan sebagai bagian penting dari investasi sumber daya manusia.

Sebab, kompetisi yang rutin digelar akan kehilangan makna apabila tidak ditopang dengan fasilitas yang memadai serta program pembinaan yang berkesinambungan.

Turnamen boleh selesai, tetapi pembinaan tidak boleh ikut berakhir.

Catatan tersebut menjadi penting karena olahraga bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Di balik pertandingan terdapat proses panjang untuk membentuk karakter, kedisiplinan, kerja sama, mental bertanding dan rasa percaya diri generasi muda.

Dalam konteks itu, lapangan olahraga tidak semestinya hanya dipandang sebagai infrastruktur fisik. Ia merupakan bagian dari ekosistem pembinaan generasi muda yang membutuhkan perhatian pemerintah secara serius dan berkelanjutan.

Rahmad juga menyampaikan terima kasih kepada panitia, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, tim medis, wasit serta masyarakat dari empat kampung, yakni Watatuku, Mola, Welai, Habeleng dan Petleng, yang telah memberikan dukungan selama pelaksanaan Budi Artha Cup.

Dari Sepak Bola, Muncul Cerita Tentang Kejujuran

Menariknya, Budi Artha Cup tidak hanya meninggalkan cerita tentang pertandingan dan perebutan gelar juara. Turnamen tersebut juga memperlihatkan nilai sosial yang dinilai patut diapresiasi.

Rahmad menyoroti sikap jujur masyarakat selama kompetisi berlangsung.

Ia mencontohkan sejumlah barang milik penonton maupun peserta yang ditemukan selama kegiatan. Barang-barang tersebut kemudian diamankan untuk selanjutnya dikembalikan kepada pemiliknya.

Bagi Rahmad, peristiwa sederhana tersebut justru memiliki makna yang jauh lebih besar.

Menurutnya, ketika seseorang menemukan barang milik orang lain kemudian memilih untuk mengamankannya dan mengembalikannya kepada pemilik, maka di situlah nilai kepercayaan dan kejujuran sedang dipraktikkan.

“Kepercayaan adalah nilai yang mahal dan tidak dapat ditukar dengan uang.”

Pesan itu menjadi salah satu sisi menarik dari Budi Artha Cup. Sebab, olahraga pada akhirnya bukan hanya soal menang dan kalah, tetapi juga bagaimana kompetisi mampu menghadirkan nilai-nilai kehidupan di tengah masyarakat.

Empat Tim Terbaik, Budi Artha Mandiri Keluar Sebagai Juara

Setelah melalui rangkaian pertandingan, Budi Artha Cup 2026 melahirkan empat tim terbaik.

FC Mola harus puas menempati posisi keempat, disusul ATL United di peringkat ketiga. Sementara Budi Artha tampil sebagai juara kedua dan Gaza Moru FC keluar sebagai juara pertama.

Selain trofi dan penghargaan, panitia juga memberikan hadiah uang pembinaan kepada para pemenang.

Khusus juara pertama, panitia memberikan hadiah tambahan berupa emas 15 gram 24 karat.

Penghargaan individu juga diberikan kepada pencetak gol terbanyak, pemain terbaik dan suporter terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi mereka selama turnamen.

Rahmad secara khusus memberikan apresiasi kepada suporter Roda FC yang dinilai konsisten memberikan dukungan sejak pertandingan pertama hingga pertandingan terakhir.

Menurutnya, loyalitas tersebut menjadi contoh bahwa dukungan terhadap sebuah tim seharusnya tidak hanya muncul ketika kompetisi telah memasuki babak-babak akhir.

Budi Artha Cup Bukan Sekadar Mengejar Trofi

Menutup sambutannya, Rahmad berharap berbagai nilai positif yang lahir dari Budi Artha Cup dapat dipertahankan dan dikembangkan pada penyelenggaraan berikutnya.

Ia juga membuka ruang bagi kritik dan masukan sebagai bagian dari evaluasi agar pelaksanaan turnamen pada masa mendatang semakin baik.

Bagi Rahmad, Budi Artha Cup bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang menjadi juara.

Lebih dari itu, turnamen merupakan ruang untuk mempererat persaudaraan, membangun sportivitas, menumbuhkan kejujuran, memperkuat kebersamaan masyarakat serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang melalui olahraga.

Karena itu, berakhirnya Budi Artha Cup seharusnya tidak menjadi akhir dari perhatian terhadap olahraga di Kabupaten Alor.

Trofi memang hanya diberikan kepada sang juara. Tetapi warisan terbesar sebuah turnamen adalah ketika setelah pertandingan selesai, masyarakat dan pemerintah sama-sama terdorong untuk membangun olahraga yang lebih baik.

Pesan itulah yang kini menjadi pekerjaan berikutnya: bagaimana merawat semangat olahraga setelah sorak-sorai penonton mereda dan lampu pertandingan dipadamkan.

Acara penutupan turut dihadiri Ketua DPRD Alor Paulus Buche Brikmar, Asisten II Setda Alor Rasyid Miran, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kapolres Alor AKBP Nur Azhari, S.H., perwakilan Kodim 1622/Alor, Ketua TP PKK Kabupaten Alor Ny. Lidia Siawan, Manager KSP Budi Artha Muhammad Nasir, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (FKK/Eka Blegur).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *