1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Harapan dan semangat para petani di Kampung Seidun, Kelurahan Adang, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, terus menemukan titik terang. Kehadiran pembangunan jaringan irigasi bukan sekadar menghadirkan aliran air ke lahan pertanian, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat untuk menghidupkan lahan yang selama ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Sekretaris Pengurus Petani Pengguna Air (P3A) Seidun, Moses Auw, menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat, bersama Anggota DPRD Kabupaten Alor, Deni Padabang, serta mantan Anggota DPRD Alor, Dony Mooy, atas perhatian terhadap kebutuhan irigasi masyarakat petani.
Pembangunan tersebut dipantau langsung oleh Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Alor sekaligus Anggota DPRD Alor Daerah Pemilihan (Dapil) V, Deni Padabang, bersama mantan Anggota DPRD Alor sekaligus pengurus Partai NasDem, Dony Mooy, Selasa (11/08/2026).
Menurut Moses, bantuan pembangunan irigasi tersebut telah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Pada tahun 2025, kelompok P3A Seidun memperoleh dukungan pembangunan irigasi sepanjang sekitar 300 meter dengan anggaran Rp195 juta dan pekerjaan tersebut telah diselesaikan.
Memasuki tahun 2026, dukungan kembali diberikan dengan nilai anggaran yang sama, yakni sekitar Rp195 juta.
“Kami menyampaikan terima kasih dan rasa syukur kepada Bunda Julie Laiskodat bersama Bapak Deni Padabang dan Bapak Dony Mooy. Bantuan irigasi ini sangat membantu kami. Tahun 2025 kami mendapat 300 meter dengan anggaran Rp195 juta dan sudah kami selesaikan. Tahun 2026 ini kami kembali mendapatkan dukungan dengan anggaran yang sama,” ujar Moses.
Bagi masyarakat Seidun, bantuan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan infrastruktur. Air yang mengalir menuju lahan berarti kesempatan bagi petani untuk kembali mengolah tanah, meningkatkan produktivitas, sekaligus menciptakan sumber pendapatan keluarga.
Moses menjelaskan, masih terdapat cukup banyak lahan pertanian masyarakat yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan jaringan irigasi.
Dengan adanya air yang semakin mendekati lokasi pertanian, petani kini memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai komoditas, terutama tanaman hortikultura, jagung dan padi.
“Kami masih memiliki banyak kekurangan. Masih banyak lahan yang terlantar. Dengan bantuan ini, air sudah bisa sampai ke lokasi kami sehingga petani dapat menanam tanaman yang menghasilkan, terutama hortikultura. Kami juga bisa menanam jagung dan padi,” katanya.
Menurut Moses, pola tanam masyarakat selama ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air. Ketika debit air kecil, petani cenderung menunggu musim hujan untuk menanam padi, biasanya mulai Oktober hingga Januari.
Namun, dengan semakin baiknya jaringan irigasi, masyarakat memiliki peluang untuk mengembangkan pola pertanian yang lebih produktif dan tidak sepenuhnya bergantung pada curah hujan.
“Kami di sini hampir semuanya petani. Pegawai tidak ada. Usaha kami memang di lahan. Karena itu, irigasi sangat penting bagi kehidupan kami,” ungkapnya.
P3A Seidun sendiri, kata Moses, terdiri dari sejumlah kelompok petani. Terdapat sekitar enam kelompok dan satu rayon, dengan jumlah petani mencapai lebih dari 60 kepala keluarga.
Ia menegaskan bahwa manfaat pembangunan irigasi tidak hanya dirasakan oleh pengurus P3A, tetapi seluruh petani pengguna air.
“Bukan hanya pengurus yang bersyukur. Semua petani, semua pengguna dan pemakai air merasakan dampaknya. Kami punya lahan, tetapi selama ini persoalannya adalah air. Sekarang dengan adanya irigasi, kami bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” katanya.
Deni Padabang: Infrastruktur Harus Menjadi Jalan Menuju Kesejahteraan
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Alor yang juga Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Alor, Deni Padabang, menegaskan bahwa pembangunan irigasi harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Deni mengatakan, pemerintah dan para wakil rakyat tidak boleh hanya melihat pembangunan dari sisi fisik. Setiap infrastruktur harus memiliki dampak nyata terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat.
“Irigasi bukan sekadar membangun saluran air. Yang kita bangun sesungguhnya adalah harapan. Ketika air sampai ke lahan petani, maka tanah yang sebelumnya tidur bisa kembali produktif. Dari sana ada tanaman, ada hasil panen, ada pendapatan, dan pada akhirnya ada kesejahteraan keluarga,” ujar Deni.
Menurutnya, kebutuhan irigasi masyarakat Alor masih sangat besar. Karena itu, pembangunan tidak boleh berhenti pada satu tahap atau satu lokasi saja.
Deni menilai perlu ada kesinambungan program agar jaringan irigasi yang telah dibangun dapat diperluas dan benar-benar menjangkau lahan-lahan produktif masyarakat.
“Kita harus berpikir ke depan. Kalau masih ada lahan masyarakat yang belum mendapatkan akses air, maka perjuangan itu belum selesai. Kita ingin agar pembangunan irigasi terus diperjuangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan anggaran, sehingga semakin banyak petani yang bisa mengolah lahannya,” tegasnya.
Deni juga memberikan apresiasi kepada masyarakat P3A Seidun yang telah ikut menjaga dan memanfaatkan pembangunan tersebut secara baik.
Baginya, keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau wakil rakyat yang memperjuangkannya, tetapi juga oleh masyarakat yang menerima dan mengelolanya.
“Masyarakat adalah pemilik manfaat dari pembangunan ini. Karena itu, mari kita jaga bersama. Jangan sampai irigasi yang dibangun dengan perjuangan dan anggaran negara tidak dirawat. Kalau infrastrukturnya dijaga, manfaatnya bisa dirasakan bertahun-tahun,” katanya.
Petani Berharap Program Berlanjut hingga 2027
Di tengah rasa syukur atas pembangunan yang telah diterima, masyarakat P3A Seidun masih menyimpan harapan besar. Mereka berharap dukungan pembangunan irigasi dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.
Moses mengatakan, kebutuhan masyarakat belum sepenuhnya selesai. Masih ada lahan yang membutuhkan jaringan air agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Harapan kami, kalau bisa tidak berakhir di putaran kedua ini. Kalau memungkinkan tahun 2027 Bunda Julie Laiskodat masih bisa membantu kami melalui program irigasi. Kami juga berharap Bapak Deni Padabang tetap membantu memperjuangkan kebutuhan masyarakat kami ke depan,” ujarnya.
Bagi para petani Seidun, irigasi adalah tentang masa depan. Sebab, setiap tetes air yang mengalir ke lahan bukan hanya membasahi tanah, tetapi juga membuka kemungkinan bagi lahirnya panen, pendapatan dan kehidupan yang lebih baik.
Moses pun kembali menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian kepada masyarakat petani.
“Kami semua mengucapkan terima kasih banyak kepada Bunda Julie Sutrisno Laiskodat, Bapak Deni Padabang dan Bapak Dony Mooy. Kami doakan agar selalu sehat sehingga dapat terus membantu masyarakat dan menjadi berkat bagi banyak orang,” pungkasnya.
Di Seidun, pembangunan irigasi akhirnya menemukan makna yang paling sederhana sekaligus paling penting: ketika air mengalir, lahan kembali hidup; ketika lahan hidup, harapan petani pun hidup. (FKK/Eka Blegur).