Shalom. Selamat mempersiapkan diri beribadat. Salam dan doa beserta, Pdt. Desiana Rondo Effendy, M.Th. (GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur).
RENUNGAN PERSIAPAN PERJAMUAN KUDUS
Bacaan: Mazmur 24:1–6
Tema: “Hidup Ini Milik Tuhan”
Pengantar
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mazmur 24:1)
1. Latar Belakang
Mazmur 24 merupakan salah satu mazmur yang berbicara tentang kemuliaan dan kekudusan Allah sebagai Raja. Mazmur ini sering dipahami dalam konteks ibadah umat Israel ketika datang menghadap Tuhan.
Mazmur ini bergerak dari pengakuan yang sangat mendasar:
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya”
Kepada pertanyaan:
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan?”
Lalu diberikan jawabannya:
Mereka yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan dan tidak bersumpah palsu. Jadi, ada hubungan yang sangat kuat antara pengakuan iman dan cara hidup.
Penjelasan Teks
Kita tidak dapat berkata, “Tuhan adalah pemilik hidupku,” tetapi pada saat yang sama hidup seolah-olah kitalah pemilik mutlak hidup ini.
Ada satu pertanyaan sederhana tetapi sangat dalam:
“Siapa sebenarnya yang memiliki hidup kita?”
Kita sering berkata:
“Ini rumah saya.”
“Ini tanah saya.”
“Ini uang saya.”
“Ini jabatan saya.”
“Ini keluarga saya.”
“Ini keberhasilan saya.”
Memang secara hukum dan administrasi kita mempunyai kepemilikan tertentu. Tetapi Mazmur 24 membawa kita lebih dalam. Di balik semua yang kita sebut “milik saya”, ada satu kebenaran iman:
Sesungguhnya Tuhanlah pemilik segala sesuatu.
Kita hanya menerima, mengelola, menikmati, dan mempertanggungjawabkan apa yang Tuhan percayakan kepada kita. Karena itu, persoalan iman bukan hanya soal apa yang kita percaya tentang Tuhan, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan di hadapan Tuhan.
Kerangka Teologis Mazmur 24:1–6
Ada pokok teologis penting dalam bacaan ini:
A. Tuhan adalah Pemilik seluruh ciptaan — ayat 1–2
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya…”
Dasar pertama iman Israel adalah bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Bumi bukan milik manusia secara mutlak. Kekayaan bukan milik manusia secara mutlak. Kehidupan bukan milik manusia secara mutlak. Bahkan manusia sendiri adalah ciptaan Allah.
Ayat 2 berkata:
“Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.”
Artinya, dunia ini berdiri karena kehendak dan kuasa Allah. Ini adalah teologi kedaulatan Allah atas ciptaan. Manusia bukan penguasa mutlak atas dunia. Manusia adalah penatalayan.
Karena itu, iman Kristen menolak kesombongan manusia yang merasa bahwa segala sesuatu dapat diperlakukan sesuka hati. Kita diberi kuasa untuk mengelola ciptaan, tetapi bukan untuk menghancurkannya. Kita menerima berkat Tuhan, tetapi bukan berarti kita boleh menjadi tuan atas segala sesuatu.
Pada ayat 3:
“Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?”
Pertanyaan ini sangat penting. Kalau Tuhan adalah Raja dan Pemilik kehidupan, maka manusia perlu bertanya: Bagaimana saya harus hidup di hadapan-Nya? Pertanyaan tentang siapa Tuhan segera diikuti pertanyaan tentang siapa kita di hadapan Tuhan.
Refleksi dan Aplikasi
Allah yang kudus memanggil umat-Nya untuk hidup dalam kekudusan. Kita tidak datang kepada Tuhan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kehidupan.
Perhatikan dua bagian ini:
“Bersih tangannya”: Tangan berbicara tentang tindakan dan perbuatan. Apa yang dilakukan seseorang dengan tangannya? Apakah tangannya digunakan untuk menolong atau menyakiti?
“Murni hatinya”: Hati berbicara tentang batin, motivasi, dan orientasi hidup. Seseorang mungkin terlihat baik di luar, tetapi Tuhan melihat apa yang ada di dalam hati.
Karena itu, kekudusan bukan hanya persoalan perilaku yang kelihatan, tetapi juga motivasi yang tersembunyi. Ada orang yang perbuatannya baik, tetapi hatinya penuh kepahitan. Ada yang tampak melayani Tuhan, tetapi sebenarnya mencari penghormatan. Ada yang berbicara tentang kasih, tetapi menyimpan kebencian.
Mazmur ini mengingatkan: Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan; Tuhan juga melihat mengapa kita melakukannya.
Ini berbicara tentang integritas. Penipuan dapat hadir dalam banyak bentuk: kebohongan, manipulasi, ketidakjujuran, mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Orang yang datang kepada Tuhan harus mempunyai integritas hidup.
Mazmur 24 mengajak kita berhenti sejenak dan memeriksa kehidupan:
Pertama, jangan hidup seolah-olah kita adalah pemilik mutlak. Pada akhirnya kita belajar: Tidak ada satu pun yang benar-benar dapat kita genggam selamanya. Karena itu, yang paling penting bukan berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa setia kita mengelola apa yang Tuhan percayakan.
Kedua, Tuhan memanggil kita kepada integritas. “Yang bersih tangannya dan murni hatinya.” Ini menjadi pesan penting bagi keluarga, gereja, masyarakat bahkan para pemimpin. Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pintar. Dunia membutuhkan orang yang dapat dipercaya.
Pesan Pastoral
Saudara-saudara,
Mungkin ada di antara kita yang hari ini sedang lelah. Sudah begitu banyak yang dikerjakan. Mazmur 24 datang membawa kita kembali kepada dasar:
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.”
Artinya, hidup kita tidak pernah berada di luar tangan Tuhan. Kalau kita merasa tidak mampu mengendalikan semuanya, itu bukan berarti Tuhan kehilangan kendali.
Mazmur ini juga sangat penting bagi keluarga. Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Rumah adalah tempat di mana anak-anak belajar: Siapa Tuhan dan bagaimana hidup di hadapan Tuhan. Anak-anak belajar tentang iman bukan hanya dari khotbah di gereja, tetapi dari menghadapi konflik, dan memperlakukan orang lain.
Mazmur 24 juga menjadi cermin bagi gereja dan para pelayan Tuhan. Pelayanan yang sederhana tetapi dilakukan dengan hati yang tulus dapat menjadi kesaksian yang sangat kuat.
Kesimpulan
Mazmur 24:1–6 membawa kita melalui tiga gerakan iman:
Tuhan adalah Pemilik segala sesuatu.
Karena itu manusia dipanggil hidup kudus dan berintegritas.
Dan orang yang sungguh mencari Tuhan akan menerima berkat dan hidup dalam keselamatan-Nya.
Jadi, pertanyaan terpenting hari ini bukan:
“Apa yang saya miliki?”
Tetapi:
“Apakah hidup yang Tuhan percayakan kepada saya sudah saya jalani dengan setia?”