1
1
1
2
3
Kupang, FKKNews.com – Shalom, salam sukacita bagi kita semua. Selamat mempersiapkan diri dan hati dalam ibadat minggu 8 november 2026 bagi semua pelayan dan jemaat , Salam dan doa beserta dari Pendeta Desiana Rondo Effendy M.Th. dari Jemaat GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur, Jumat (6/11/2026).
Bacaan: Yohanes 9:1–7
Tema: Mengerjakan Pekerjaan Allah di Tengah Penderitaan
Pengantar
Tuhan tidak memanggil kita untuk sibuk mencari siapa yang bersalah atas penderitaan, tetapi untuk menghadirkan kasih, memulihkan kehidupan, dan menjadi terang bagi mereka yang menderita.
Ketika bencana melanda, ketika tanah mengering, ketika petani gagal panen, ketika anak-anak kekurangan makanan, ketika seseorang jatuh sakit, kita sering mendengar pertanyaan:
“Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Dosa siapa sehingga kita mengalami penderitaan?”
Pertanyaan seperti itu ternyata sudah muncul dua ribu tahun lalu.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melihat seorang yang buta sejak lahir, murid-murid langsung bertanya:
“Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2).
Murid-murid melihat seorang manusia yang menderita, tetapi yang pertama mereka cari bukan cara menolongnya. Mereka justru mencari siapa yang harus disalahkan.
Murid-murid sibuk mencari penyebab penderitaan. Yesus bekerja menghadirkan pemulihan.
Penjelasan Teks
Dalam masyarakat Yahudi pada masa itu, terdapat pandangan yang menghubungkan penderitaan dengan dosa. Penyakit atau keterbatasan fisik kadang dipahami sebagai akibat kesalahan pribadi atau keluarga.
Namun Yesus menolak anggapan bahwa kebutaan orang tersebut merupakan hukuman atas dosa dirinya atau orang tuanya.
Yesus berkata:
“Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Ayat 3).
Ada tiga kebenaran teologis yang penting.
Pertama: Penderitaan bukan alasan untuk menghakimi manusia
Yesus membongkar cara berpikir keagamaan yang mudah menyalahkan korban.
Orang yang sakit tidak boleh otomatis dianggap kurang beriman. Orang miskin tidak boleh dianggap malas. Korban bencana tidak boleh dianggap sedang dihukum Tuhan.
Yesus tidak sedang mengatakan bahwa Allah sengaja membuat seseorang buta agar dapat menunjukkan kuasa-Nya. Penekanannya adalah bahwa di tengah keadaan yang menderita menyakitkan sekalipun, karya Allah dapat dinyatakan melalui pemulihan.
Iman Kristen bukanlah iman yang menyalahkan orang yang sedang jatuh, tetapi iman yang mengulurkan tangan untuk mengangkatnya.
Kedua: Pekerjaan Allah adalah menghadirkan kehidupan
Yesus berkata dalam ayat 4:
“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang.”
Kata “kita” sangat penting.
Yesus melibatkan para murid dalam pekerjaan Allah. Pekerjaan itu tidak berhenti pada Yesus, tetapi menjadi panggilan bagi setiap pengikut-Nya.
Pekerjaan Allah bukan hanya berkhotbah, berdoa, dan beribadah.
Pekerjaan Allah juga berarti memberi makan yang lapar, merawat yang sakit, membela yang lemah, melindungi yang terancam, dan memulihkan lingkungan yang rusak.
Ibadah berlanjut di tengah penderitaan manusia dan seluruh ciptaan.
Ketiga: Terang Kristus harus mengubah keadaan
Yesus berkata:
“Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” (Ayat 5).
Terang bukan sekadar pengetahuan tentang kebenaran. Terang harus mengalahkan kegelapan.
Yesus memberi contoh bekerja , Ia buat adukan campuran tanah menjadi saleb dan mengoleskannya pada mata orang tersebut, lalu menyuruhnya membasuh diri di kolam “Siloam “ artinya yang di utus.
Orang itu pergi, membasuh diri, dan kembali dengan dapat melihat.
Inilah iman yang bekerja: kasih yang tidak berhenti pada perkataan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Tanah dan air hadir dalam tindakan penyembuhan Yesus. Keduanya merupakan unsur ciptaan yang dipakai dalam kisah pemulihan ini.
Refleksi dan Aplikasi
Kita hidup di Nusa Tenggara Timur, tanah yang indah tetapi juga menyimpan banyak penderitaan ekologis.
Ada keluarga yang kesulitan memperoleh air bersih. Ada petani yang menatap kebunnya mengering. Ada hutan yang rusak, mata air yang berkurang, dan masyarakat yang hidup dengan ancaman banjir, kekeringan, maupun tanah longsor.
Dalam situasi ini, Yohanes 9 menantang gereja dengan tiga panggilan.
Pertama, berhenti menyalahkan korban, mulailah memulihkan kehidupan.
Ketika masyarakat mengalami bencana, jangan mudah mengatakan itu hukuman Tuhan.
Kedua, menjaga lingkungan adalah bagian dari pekerjaan Allah.
Menanam pohon, menjaga mata air, mengurangi sampah, melindungi hutan, dan mengelola tanah dengan bijak wujud tanggung jawab iman untuk memelihara ciptaan Tuhan.
Ketiga, gereja harus menjadi terang yang menghadirkan solusi.
Gereja tidak cukup hanya mengajak jemaat berdoa ketika terjadi kekeringan.
Gereja juga dapat menggerakkan jemaat menjaga sumber air, menanam pohon, membantu korban bencana, dan mendampingi keluarga yang paling rentan.
Doa menggerakkan iman. Iman menggerakkan tangan. Tangan yang bekerja menghadirkan kasih Allah.
Pertobatan mengubah cara manusia memperlakukan sesamanya dan alam ciptaan Tuhan.
Yesus tidak berhenti pada perdebatan mengapa orang itu buta. Yesus bertindak agar orang itu dapat melihat.
Pesan pastoral: Jangan menjadi penonton penderitaan
Ada satu bahaya besar : kita begitu pandai menjelaskan penderitaan dan menyalahkan orang lain dengan pembenaran diri, siapa yg berdosa, orang ini atau orang tuanya ?? .
Tidak semua penyakit dapat disembuhkan. Tidak boleh cari tahu kehidupan orang tetapi belajar berefleksi untuk dibasuh di hadapan kaki Yesus. Kita orang berdosa.
Mari kita membawa pulang pertanyaan ini :
Apakah saya seperti murid murid Yesus yang mencari tahu siapa yang berdosa?? Seakan kita adalah orang yang paling baik dan benar ??.
Saudara-saudara,
Yesus berkata, “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang.”
Kalimat ini mengandung panggilan yang mendesak.
Selama masih siang, bekerjalah!
Sebab pekerjaan Allah bukan hanya terjadi ketika mukjizat besar berlangsung.
Pekerjaan Allah juga hadir ketika seorang ibu mendapatkan air bersih, seorang anak kembali bersekolah, seorang korban bencana mendapatkan tempat berlindung, dan seorang manusia berdosa datang membasuh hidupnya dalam pertobatan di hadapan Tuhan.
Di tengah penderitaan, Allah memanggil kita bukan untuk menjadi penonton, melainkan menjadi rekan sekerja-Nya dalam menghadirkan kehidupan.
Belajarlah bertanya, “Tuhan, pekerjaan apakah yang Engkau percayakan kepada tanganku ”
Mari menjadi komunitas yang menghadirkan terang kasih Allah bagi dunia.
“Murid-murid bertanya siapa yang berdosa. Yesus menunjukkan siapa yang harus ditolong. Jangan pernah mundur dari pekerjaan Tuhan , karena kita dipanggil dan diutus untuk bekerja dan melayani selama hari masih siang. Malam dan kegelapan selalu ada di sekitar kita karena itu basuhlah hidupmu di hadapan Allah agar kamu dapat melihat kembali. Jangan sibuk menghakimi dan membenarkan diri tetapi bertobatlah dan bawalah dirimu di hadapan Allah. iman yang bekerja menyelamatkan kehidupan.” Tuhan memberkati kita. Amin.(FKK02)