1
1
1
2
3
Kupang, FKKNews.com – Kondisi Asrama Mahasiswa Pemerintah Daerah Kabupaten Alor yang berada di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai keluhan dari sejumlah mahasiswa dan pemuda asal Alor.
Fasilitas asrama yang menjadi tempat tinggal mahasiswa dari berbagai kecamatan di Kabupaten Alor tersebut dilaporkan mengalami kerusakan di sejumlah bagian. Persoalan air bersih dan keterbatasan daya listrik juga disebut menjadi kendala yang harus dihadapi mahasiswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari maupun perkuliahan.
Kondisi tersebut menjadi sorotan karena, menurut keterangan mahasiswa, sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Alor dan DPRD Kabupaten Alor sebelumnya telah mengunjungi asrama, melihat langsung kondisi fasilitas serta berdiskusi dengan mahasiswa.
Namun, para mahasiswa mengaku belum melihat tindak lanjut nyata atas aspirasi yang telah disampaikan dalam kunjungan-kunjungan tersebut.
Pantauan media ini pada Minggu (4/10/2026) menemukan sejumlah fasilitas asrama dalam kondisi rusak. Salah satu persoalan yang paling dikeluhkan adalah fasilitas penampungan air yang tidak berfungsi dengan baik, sementara pasokan air melalui jaringan pipa juga disebut tidak selalu tersedia.
Fasilitas Rusak, Kebutuhan Dasar Jadi Persoalan
Yunus Laupada, mahasiswa asal Alor yang menempuh pendidikan pada jurusan Musik Gereja di STAKen Kupang, mengungkapkan sejumlah fasilitas yang menurutnya membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Ia menyebut bak penampungan air mengalami kerusakan. Pasokan air melalui pipa, kata dia, juga tidak selalu lancar dan pada hari Minggu terkadang tidak mengalir.
Selain persoalan air, Yunus mengatakan kapasitas kelistrikan di asrama juga menjadi kendala bagi mahasiswa.
Menurutnya, hanya terdapat dua meteran listrik yang digunakan untuk melayani sekitar 25 kamar. Kondisi tersebut membuat mahasiswa kesulitan ketika harus menggunakan peralatan elektronik untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan akademik.
“Meteran dua saja, sehingga kami kewalahan. Mau masak nasi atau mau cas HP, laptop untuk kebutuhan kerja tugas dan lain-lain kami kewalahan karena meteran lompat atau mati,” ungkap Yunus.
Ia juga membeberkan kondisi sejumlah fasilitas lainnya, mulai dari kamar mandi dan toilet, plafon, atap, pintu, jendela hingga gedung aula.
Dari delapan fasilitas MCK yang tersedia, kata Yunus, hanya sekitar tiga yang masih dapat digunakan, sementara lainnya mengalami kerusakan. Kondisi gedung aula juga disebut mengalami kerusakan cukup parah.
Mahasiswa Pertanyakan Tindak Lanjut Kunjungan Pejabat
Keluhan mahasiswa tidak hanya menyasar kondisi fisik bangunan. Mereka juga mempertanyakan tindak lanjut pemerintah daerah setelah sejumlah pejabat berkunjung dan berdiskusi dengan penghuni asrama.
Mahasiswa menyebut Bupati Alor Iskandar Lakamau, Ketua DPRD Kabupaten Alor Paulus Brikmar serta jajaran pemerintah daerah pernah datang melihat kondisi asrama dan mendengarkan aspirasi mahasiswa.
Namun, mahasiswa mengaku hingga kini belum melihat realisasi perbaikan sebagaimana yang mereka harapkan.
“Kami minta DPRD dan pemerintah jangan hanya datang mau tipu-tipu kami, anak-anak di sini. Karena sudah terlalu banyak kunjungan pejabat daerah di asrama tapi hasil nol,” ujar Yunus.
Ia berharap persoalan asrama tidak hanya menjadi bahan kunjungan dan dokumentasi, tetapi masuk dalam pembahasan anggaran pemerintah daerah.
“Kami berharap dalam pembahasan APBD perubahan maupun APBD murni, tolong dianggarkan untuk kebutuhan perbaikan fasilitas di Asrama Mahasiswa Pemda Alor,” katanya.
Janji Bantuan Bak Penampungan Air Dipertanyakan
Keluhan serupa disampaikan Ifan Gomer Mau, mahasiswa asal Pantar yang menempuh pendidikan di Politani.
Ifan mengatakan Bupati dan Wakil Bupati Alor juga pernah berkunjung dan berdiskusi dengan mahasiswa di asrama. Dalam pertemuan tersebut, menurut Ifan, sempat dibicarakan mengenai bantuan fiber untuk menampung air karena bak penampungan yang ada mengalami kerusakan.
Namun, ia mengaku hingga kini bantuan tersebut belum diterima mahasiswa.
“Bak penampungan air rusak, ada janji mau kasih fiber air. Tapi sampai sekarang tidak ada, fiber pun tidak ada,” ujar Ifan.
Ia mempertanyakan pola kunjungan pejabat yang menurutnya belum diikuti penyelesaian terhadap persoalan yang telah disampaikan mahasiswa.
“Pejabat dong datang hanya foto-foto, habis hilang,” katanya.
Kekecewaan tersebut, menurut Ifan, membuat mahasiswa berharap pemerintah datang bukan sekadar untuk melihat kondisi atau berdiskusi, tetapi membawa solusi yang dapat dirasakan langsung oleh penghuni asrama.
“Kalau betul-betul mau bantu, bantu. Jangan datang akal-akali kami,” ujarnya.
Menunggu Respons Pemerintah Daerah dan DPRD
Persoalan yang disampaikan mahasiswa tersebut kini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Alor dan DPRD Kabupaten Alor, khususnya terkait kondisi fasilitas hunian mahasiswa di Kota Kupang.
Asrama tersebut menjadi tempat tinggal mahasiswa asal berbagai wilayah di Kabupaten Alor yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Kota Kupang. Karena itu, kondisi fasilitas dasar seperti air bersih, listrik, MCK dan kelayakan bangunan berkaitan langsung dengan aktivitas keseharian para penghuni.
Keluhan mahasiswa juga membuka pertanyaan mengenai sejauh mana aspirasi yang disampaikan dalam kunjungan pejabat sebelumnya telah ditindaklanjuti, termasuk apakah telah dilakukan pendataan kerusakan, penyusunan kebutuhan anggaran, serta perencanaan perbaikan fasilitas.
Ifan dan Yunus berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada kunjungan dan dialog, melainkan berlanjut pada kebijakan dan penganggaran yang dapat memperbaiki kondisi Asrama Mahasiswa Pemda Alor di Kota Kupang. (FKK/Eka Blegur).