Popular Posts

20260915 213905 scaled

Stevi Harman Dukung Bintang Mercy Cup II :  dari Lapangan Kampung Menuju PON 2028

Oelamasi, FKKNews.com – Semangat membangun prestasi olahraga tidak selalu harus dimulai dari arena besar. Dari lapangan sederhana di Desa Nunsaen, Kecamatan Fatuleu Tengah, Kabupaten Kupang, gairah bola voli masyarakat terus bertumbuh dan menjadi ruang bagi talenta muda untuk menunjukkan kemampuan.

Semangat tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Bintang Mercy Cup II yang berlangsung selama 14 hari dan diikuti 42 tim putra dan putri. Jumlah peserta tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya yang diikuti sekitar 26 tim.

Turnamen ini mendapat dukungan dari Senator DPD RI asal Nusa Tenggara Timur, dr. Maria Stevi Harman, yang menjadi salah satu pendukung utama sekaligus menyediakan piala bergilir bagi juara putra dan putri.

Bintang Mercy Cup II resmi ditutup setelah berlangsung meriah dan kompetitif. Puluhan tim datang membawa nama klub dan kampung masing-masing, sekaligus menunjukkan bahwa geliat bola voli di tingkat akar rumput terus berkembang.

Ketua Pengprov PBVSI NTT, Winston Rondo, memberikan apresiasi kepada Senator Maria Stevi Harman atas dukungan terhadap penyelenggaraan turnamen dan pembinaan olahraga di tengah masyarakat.

“Terima kasih kepada Ibu Senator Maria Stevi Harman. Dukungan ini penting karena menunjukkan bahwa pembinaan olahraga tidak selalu harus dimulai dari stadion besar. Prestasi justru sering lahir dari lapangan-lapangan sederhana di kampung, ketika anak muda diberikan ruang untuk berlatih, bertanding dan bermimpi,”ujarnya.

Menurutnya, pemberian piala bergilir bagi kategori putra dan putri juga memiliki makna penting bagi keberlanjutan kompetisi.

“Piala bergilir berarti ada pertandingan berikutnya, ada juara yang harus mempertahankan prestasi, dan ada generasi baru yang datang untuk merebutnya. Di situlah kompetisi menjadi bagian dari pembinaan,” ujarnya.

Bintang Mercy Cup II tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi para atlet. Selama 14 hari pelaksanaan, sekitar 22 pelaku UMKM turut membuka usaha di sekitar arena pertandingan.

Kehadiran pemain, official, suporter dan masyarakat membuat aktivitas ekonomi lokal ikut bergerak. Warung makan, penjual minuman, jajanan dan berbagai usaha masyarakat turut merasakan dampak dari ramainya turnamen.

Bagi penyelenggara, keterlibatan UMKM menjadi bagian dari ekosistem olahraga yang ingin dibangun agar kegiatan olahraga tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

“Turnamen jangan hanya menghasilkan juara. Ketika pertandingan berlangsung, warung harus ramai, UMKM mendapatkan pembeli, anak muda memperoleh ruang positif dan kampung ikut hidup. Itulah ekosistem olahraga yang ingin kita bangun,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kompetisi di tingkat akar rumput memiliki peran penting dalam proses pencarian dan pembinaan atlet.

Terlebih, NTT sedang mempersiapkan diri menuju PON XXII Tahun 2028. Karena itu, kompetisi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi perlu terus hidup dan dikembangkan.

“Jangan pernah menganggap kecil lapangan kampung. Bisa jadi dari lapangan seperti inilah kita menemukan anak-anak muda yang suatu hari mengenakan seragam NTT dan bertanding membawa nama daerah,” tegasnya.

Menurutnya, semakin banyak kompetisi yang digelar secara konsisten, semakin besar pula kesempatan bagi atlet muda mendapatkan pengalaman bertanding. Dari kompetisi akar rumput inilah talenta-talenta potensial dapat ditemukan untuk kemudian diarahkan menuju pembinaan yang lebih terstruktur.

Dukungan Senator Maria Stevi Harman terhadap Bintang Mercy Cup II menjadi bagian dari upaya memperkuat kegiatan olahraga di tingkat masyarakat.

Kehadiran dukungan tersebut juga memperlihatkan bahwa turnamen olahraga di desa dapat menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, organisasi olahraga, tokoh masyarakat dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan generasi muda.

Piala bergilir yang diberikan untuk kategori putra dan putri diharapkan tidak berhenti menjadi simbol penghargaan kepada para juara, tetapi menjadi pemicu agar kompetisi dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.

Pada kesempatan tersebut, Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Bintang Mercy Cup II, khususnya panitia, Kepala SD GMIT Naifalo yang memberikan ruang bagi pelaksanaan pertandingan, Pemerintah Desa Nunsaen, tokoh masyarakat, aparat keamanan, wasit, pelatih, official, seluruh tim dan suporter.

Apresiasi juga diberikan kepada para pelaku UMKM yang selama dua pekan ikut menjadi bagian dari suasana turnamen.

Menurut Winston, suksesnya Bintang Mercy Cup II menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi titik temu berbagai kepentingan masyarakat, mulai dari pembinaan prestasi, persaudaraan, ruang positif bagi generasi muda hingga penggerak ekonomi rakyat.

Karena itu, Bintang Mercy Cup diharapkan dapat terus berlangsung dan berkembang menjadi kompetisi akar rumput yang konsisten memberikan ruang bagi lahirnya atlet-atlet potensial dari Kabupaten Kupang dan NTT.

“Hari ini kita mungkin hanya melihat sebuah lapangan kampung. Tetapi kalau kompetisi dijaga, pembinaan dilakukan dan anak-anak muda terus diberi kesempatan, dari lapangan inilah jalan menuju prestasi bisa dimulai,” ujarnya.

“Terima kasih Ibu Senator Maria Stevi Harman, panitia, seluruh tim, UMKM dan masyarakat Fatuleu Tengah. Bintang Mercy Cup selesai, tetapi pembinaan tidak boleh berhenti,” pungkasnya.(FKK02)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *