1
1
1
2
3
Sumba Barat Daya, FKKNews.com – Wisuda seharusnya menjadi hari bahagia. Hari ketika perjuangan panjang mahasiswa dipertemukan dengan air mata bangga orang tua. Sebuah momen yang ditunggu bertahun-tahun setelah pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Dalam Rilisan pers yang diterima oleh media ini pada Senin, (18/05/2026), bahwa namun bagi mahasiswa Universitas Stella Maris Sumba di Kabupaten Sumba Barat Daya angkatan 2021 dan keluarga mereka, harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan, kekecewaan, bahkan kemarahan.
Ketidakpastian jadwal wisuda yang terus mengalami perubahan membuat mahasiswa merasa digantung tanpa kepastian. Berdasarkan surat resmi kampus, pembayaran administrasi wisuda sekitar Rp4.000.000 dibuka sejak 16 April hingga 2 Mei 2026. Sebagian besar mahasiswa telah memenuhi kewajiban administrasi sesuai tenggat yang ditetapkan kampus.
Setelah sekitar 90% mahasiswa dengan jumlah kurang lebih 300 Mahasiswa yang siap diwisudakan menyelesaikan administrasi, masa pendaftaran kembali diperpanjang hingga 15 Mei 2026. Jadwal wisuda yang diperkirakan akan dilaksanakan sekitar tanggal 20 kembali ditunda dengan alasan menunggu pelantikan rektor.
Mahasiswa telah menyelesaikan seluruh kewajiban administrasi wisuda, termasuk pembayaran biaya yang diwajibkan kampus. Namun hingga saat ini, yang diterima bukan kepastian pelaksanaan wisuda maupun penjelasan rinci terkait biaya, melainkan penundaan demi penundaan. Kondisi ini menimbulkan kekecewaan karena kewajiban mahasiswa dituntut selesai tepat waktu, sementara kepastian dari pihak kampus belum kunjung diberikan.
Mahasiswa yang mencoba mempertanyakan kepastian kepada panitia wisuda mengaku kerap menerima jawaban serupa, yakni bahwa panitia masih menunggu arahan pimpinan kampus dan pelaksanaan pelantikan rektor terlebih dahulu.
Tidak sedikit mahasiswa menyampaikan keresahan melalui grup komunikasi wisuda. Namun menurut pengakuan mahasiswa, ruang diskusi tersebut kemudian dibatasi karena grup dikunci, sehingga pertanyaan terkait kepastian wisuda tidak lagi mendapat ruang yang terbuka.
Di balik ketidakpastian ini, ada pihak lain yang juga merasakan dampaknya secara besar: orang tua. Sebagian orang tua mahasiswa berada di luar Pulau Sumba dan bekerja di berbagai daerah. Mereka telah mengatur jadwal kerja, mengajukan izin, bahkan mempersiapkan biaya perjalanan jauh-jauh hari demi hadir menyaksikan anak mereka diwisuda.
Namun penundaan yang berulang membuat sebagian dari mereka harus kembali meminta izin di tempat kerja berkali-kali. Tidak sedikit yang merasa terganggu secara pekerjaan maupun ekonomi akibat perubahan jadwal yang belum memiliki kepastian. Kekecewaan itu perlahan berubah menjadi kemarahan.
Menurut pengakuan mahasiswa, ada orang tua yang akhirnya memilih tidak lagi ingin menghadiri acara wisuda anak mereka karena merasa lelah menunggu dan kecewa terhadap situasi yang terjadi.
Bukan hanya orang tua di luar Sumba. Orang tua mahasiswa yang berada di wilayah Sumba pun telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut wisuda anak-anak mereka. Persiapan keluarga, biaya, hingga rencana pertemuan besar telah dibangun dengan penuh harapan. Ketika kepastian terus tertunda, yang tertunda bukan sekadar acara, tetapi juga kebahagiaan keluarga.
Di sisi lain, tekanan psikologis juga dirasakan mahasiswa. Sebagian mahasiswa mengaku takut pulang ke rumah atau bertemu keluarga karena pertanyaan yang terus berulang mengenai kepastian tanggal wisuda.
“Kapan wisuda?”
Sudah ada tanggal pasti?”
“Kenapa terus ditunda?”
Pertanyaan-pertanyaan sederhana dari keluarga justru menjadi beban bagi mahasiswa yang pada kenyataannya juga tidak memiliki jawaban.
Mereka berada di posisi menunggu, sambil menanggung harapan orang tua yang semakin hari berubah menjadi kekecewaan.
Persoalan ini bukan lagi semata tentang jadwal wisuda yang tertunda. Ini tentang kepastian.
Tentang kepercayaan orang tua terhadap lembaga pendidikan. Tentang penghargaan terhadap mahasiswa yang telah menyelesaikan kewajibannya. Dan tentang tanggung jawab moral sebuah institusi terhadap harapan banyak keluarga yang telah berjuang hingga sampai pada titik akhir pendidikan anak-anak mereka.
Mahasiswa dan orang tua berharap pihak Universitas Stella Maris Sumba dapat memberikan penjelasan resmi yang terbuka, kepastian waktu pelaksanaan wisuda, transparansi informasi, serta membangun komunikasi yang lebih jelas agar keresahan yang terjadi tidak semakin meluas.
Karena pendidikan tidak hanya diukur dari proses akademik, tetapi juga dari cara sebuah institusi menjaga kepercayaan mereka yang menitipkan masa depan di dalamnya. (*FKK/Eka Blegur).