1
1
1
2
3
Berkat Allah Tritunggal yang Meneguhkan, Renungan ibadah Minggu Trinitas/Tritunggal dan Bulan Budaya GMIT, Minggu 31 Mei 2026 (Multi etnis) Oleh Pdt. Desiana Rondo-Effendy, M.Th., dari GMIT Moria Liliba, Klasis Kota Kupang Timur
Bacaan Alkitab : 2 Korintus 13:11-13
Tema : Berkat Allah Tritunggal yang Meneguhkan
Pengantar
Minggu ini dalam kalender gerejawi disebut minggu Trinitas. Hari ini kita diajak melihat relasi yang terjadi di jemaat Korintus. Jemaat Korintus adalah buah penginjilan Rasul Paulus. Karena itu, hubungan paulus dengan Jemaat ini sangat akrab. Namun relasi mereka tidak selalu baik. Ada banyak persoalan yang muncul, dan membuat
relasi mereka renggang. Permasalahan-permasalahan yang mengemuka adalah munculnya guru-guru palsu, penolakan terhadap otoritas Paulus, dan konflik internal jemaat. Paulus memakai pendekatan pastoral dalam menyelesaikan konflik dengan ajaran kasih. Tindakan pastoral Paulus termaktub sebagai inti surat 2 Korintus, yaitu perdamaian (2 Korintus 5:18-20). Paulus menegaskan bahwa Allah telah mendamaikan dunia melalui Kristus, maka jemaat harus hidup dalam perdamaian.
Hidup dalam perdamaian antar satu dengan yang lain, akan menjadi kekuatan persekutuan untuk menghadapi tantangan internal maupun eksternal.
Rekonsiliasi pendamaian adalah inti kehidupan gereja. Tuhan Yesus datang untuk mengerjakan pendamaian dan pengutusan di tengah dunia yang luka, penuh konflik dan juga dalam konteks pergumulan jemaat. Sehati sepikir menjadi jembatan persekutuan dan cara membangun relasi. Saling bersalaman dengan tanda ciuman kudus satu dengan yang lain adalah tanda penerimaan pendamaian. Inilah cara jemaat berteologi secara simbolis.
Makna penerimaan dengan bersalaman adalah rekonsiliasi, kesatuan tubuh Kristus di antara jemaat. Ciuman kudus bukan sekadar budaya, tetapi tanda inkarnatif dari kasih dan pengampunan. Artinya ciuman menjadi tanda bahwa kita sudah saling memaafkan, berdamai dan saling menerima kembali; jemaat merefleksikan berkat Allah Tritunggal, yang memberi daya untuk menjadi persekutuan yang memulihkan (mendamaikan).
Penjelasan teks
Dalam teks 2 korintus 13 :i11-13 paulus mengucapkan doa berkat, dimulai dengan kalimat :
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”
Ini bukan sekadar kalimat penutup ibadah. Ini adalah deklarasi bahwa Allah Tritunggal hadir memeluk kehidupan umat-Nya.
Hari ini kita belajar bahwa:
Berkat terbesar dalam hidup bukanlah harta, jabatan, atau kemudahan hidup, tetapi kehadiran Allah Tritunggal yang meneduhkan perjalanan hidup umat-Nya
“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus…”
Mengapa Yesus disebut pertama? Karena melalui Yesuslah manusia berdosa diperdamaikan dengan Allah.
Kasih karunia berarti:
kita menerima kasih Tuhan bukan karena kita layak, tetapi karena Tuhan mengasihi kita. Salib Kristus adalah bukti terbesar bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia.
Allah hadir dalam hidup manusia melalui kasih Nya,penebusan dalam Yesus , dan penyertaan Roh Nya .
Banyak orang hari ini hidup dengan rasa gagal:
* gagal menjadi orang tua,
* gagal mempertahankan rumah tangga,
* gagal dalam usaha,
* gagal dalam pelayanan,
* bahkan gagal menjaga iman.
Yesus tidak datang untuk orang sempurna., Yesus datang untuk menyelamatkan orang yang terluka. Kasih karunia Kristus berkata:
“Aku tetap mengasihimu meski engkau jatuh.” Inilah yang meneduhkan jiwa manusia.
Dunia sering menghakimi. Manusia mudah meninggalkan. Tetapi Kristus tetap memeluk orang berdosa yang mau kembali.
Kasih Allah bukan teori. Kasih Allah adalah keputusan Tuhan untuk tetap memelihara umat-Nya. Kadang kita tidak mengerti jalan Tuhan. Doa belum dijawab. Penderitaan belum selesai. Air mata masih jatuh. Tetapi kasih Allah tetap bekerja bahkan ketika kita tidak memahami rencana-Nya.
iman Kristen bukan jaminan hidup tanpa badai. Iman Kristen adalah kepastian bahwa Allah hadir di dalam badai.
Ada jemaat yang mungkin bertanya:
“Tuhan, mengapa hidup saya berat sekali?”
Firman hari ini mengingatkan:
Kasih Allah tidak selalu terlihat dalam hidup yang mudah, mungkin terlalu sulit menjalani penderitaan tetapi ingatlah, penyertaan Tuhan yang tidak pernah berhenti.
PERSEKUTUAN ROH KUDUS: BERKAT YANG MENGUATKAN DAN MENUNTUN
Paulus menutup dengan berkat :
“…dan persekutuan Roh Kudus…”
Roh Kudus bukan sekadar simbol gereja. Roh Kudus adalah Allah yang bekerja di dalam hati umat percaya. Roh Kudus menghibur, menguatkan,menegur, dan menuntun kita berjalan dalam kebenaran.
Hari ini banyak orang kehilangan arah hidup.
Orang mudah marah.
Mudah putus asa.
Mudah membenci.
Mudah terpecah.
Firman tuhan mengatakan sehati, sepikir hidup dalam damai . Kita ada dalam relasi yang tidak terpisahkan , menarikan tarian Agung bersama dengan Allah dalam persekutuan yang esa.
Saya mengutip tulisan Pdt yoas adiprasetya dalam tulisan nya tentang trinitas di GKI Emaus :
“Sang Bapa, Sang Anak, dan Roh Kudus hidup dalam percakapan, di
dalam persekutuan kebersamaan yang mengalir-bebas dan saling-berbagi dan kegembiraan—sebuah tarian agung kehidupan yang terbagikan yang penuh dan kaya dan penuh gairah, kreatif dan baik dan indah.
Gambaran “tarian” ini sangat kuno usianya. Para Bapa Gereja memakainya sebagai terjemahan bebas dari kata Yunani perichoresis, yang berarti “saling memberi ruang, saling memberi hidup, saling memasuki.” Kata tersebut memiliki dua akar kata, yaitu peri (berkeliling) dan choreo atau chora (ruang). Dari kata choreo itu juga kita mengenal kata yang berkonotasi “tarian,” yaitu “koreografi.” Imaji imani yang muncul adalah bahwa secara dinamis tiga pribadi ilahi itu saling bersekutu, tanpa kehilangan identitas masing-masing, sedemikian eratnya.
Aplikasi dan refleksi
Allah Tritunggal menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang hidup dalam relasi kasih.
Bapa mengasihi.
Anak menyelamatkan.
Roh Kudus menyertai.
Tiga pribadi, satu hakikat.
Ini bukan sekadar rumus teologi yang sulit dipahami, tetapi kabar sukacita bahwa seluruh keberadaan Allah bekerja untuk keselamatan manusia.
Allah Tritunggal berarti:
* kita tidak berjalan sendiri,
* keselamatan kita dijaga oleh kasih Allah yang sempurna,
* hidup kita dipelihara oleh penyertaan ilahi.
Allah Tritunggal menjadi teladan persekutuan bagi gereja.
Kalau Allah hidup dalam kasih dan kesatuan,
maka gereja juga dipanggil hidup dalam kasih dan kesatuan.
Karena itu:
keluarga Kristen harus menjadi tempat teduh.
Pelayanan harus menjadi ruang kasih.
Gereja harus menjadi rumah pemulihan.
Jangan sampai gereja penuh aktivitas tetapi kehilangan kasih.
Jangan sampai orang rajin ibadah tetapi hatinya keras.
Jangan sampai pelayanan menjadi tempat persaingan.
Allah Tritunggal mengajarkan:
kasih adalah pusat kehidupan iman.
Kasih karunia Yesus mengampuni masa lalumu.
Kasih Bapa menjaga hari ini.
Roh Kudus menuntun masa depanmu.
Karena itu jangan menyerah.
Kalau air mata masih jatuh, Tuhan melihat.
Kalau doa terasa sunyi, Tuhan tetap bekerja.
Kalau hidup terasa gelap, Tuhan belum selesai dengan hidupmu.
Kadang Tuhan tidak langsung mengangkat badai,
tetapi Tuhan memberi kekuatan supaya kita tidak tenggelam. Itu cukup bagiku.
Karena itu pulanglah hari ini dengan keyakinan:
* Kasih karunia Kristus memulihkan kita.
* Kasih Bapa menjaga kita.
* Persekutuan Roh Kudus menguatkan kita.
Dan ketika hidup terasa berat, ingatlah:
kita mempunyai Allah Tritunggal yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya.
Selamat bersiap diri dan berteduh dalam doa. Salam beserta , Pdt. Desiana Effendy-Rondo.