Kupang, FKKNews.com – Wakil Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Neil Rondo, mengajak masyarakat Nusa Tenggara Timur untuk membudidayakan pohon Asam Timor sebagai solusi nyata menghadapi tantangan iklim ekstrem sekaligus meningkatkan ekonomi keluarga.
Menurut Winston, Asam Timor merupakan tanaman lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan masyarakat NTT dan terbukti mampu bertahan dalam kondisi cuaca kering serta lahan marginal.
“Kenapa asam yang dipilih? Karena umurnya bisa sampai ratusan tahun, akarnya kuat menahan air tanah, dan buahnya memberi nilai ekonomi. Satu pohon bisa menghasilkan sekitar lima ratus ribu rupiah per musim panen. Bayangkan kalau ada seratus pohon,” ujar Ketua DPD GAMKI NTT itu.
Sebagai legislator, Winston menegaskan bahwa penanaman Asam Timor bukan sekadar soal lingkungan, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah rawan kekeringan.
Ia menjelaskan, Asam Timor memiliki sistem akar tunggang yang kuat sehingga mampu mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah, serta membantu menjaga sumber air di sekitarnya. Dalam berbagai kajian pertanian lahan kering, tanaman ini dikenal adaptif terhadap perubahan iklim dan relatif minim perawatan.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua BMPS NTT, Winston juga mendorong sekolah-sekolah swasta dan komunitas pendidikan untuk terlibat aktif dalam gerakan menanam Asam Timor sebagai bagian dari edukasi lingkungan berbasis praktik nyata.
Gerakan penanaman tersebut, lanjut Winston, digerakkan oleh GAMKI NTT yang secara serentak telah melakukan aksi tanam pohon di 13 kabupaten di NTT sejak 29 November 2025, bertepatan dengan Bulan Lingkungan Hidup yang dicanangkan Sinode GMIT.
“Yang kami tanam adalah pohon produktif dengan nilai jual tinggi. Kami tanam di tanah gereja, lahan kritis, dan pekarangan warga. Ini sejalan dengan semangat satu juta pohon yang dicanangkan GMIT,” kata Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Kupang tersebut.
Sebagai mantan Ketua Pemuda Sinode GMIT, Winston menekankan bahwa gereja memiliki peran strategis dalam menggerakkan jemaat untuk merawat alam sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab sosial.
Ia menyebut, GAMKI bersama Sinode GMIT juga telah melakukan penanaman 10 ribu anakan Asam Timor di area Gereja Nisbat, Kecamatan Amabi Oefeto Timur, Kabupaten Kupang.
“Penanaman dilakukan di lahan sekitar empat hektare, sisanya dibagikan kepada warga. Kami menyumbang lebih dari seratus anakan. Setelah itu, yang paling penting adalah merawat dan menjaga bersama,” ujar mantan Ketua GMKI Cabang Kupang tersebut.
Selain nilai lingkungan dan ekonomi, Winston menilai Asam Timor memiliki potensi pasar yang menjanjikan. Buah asam dapat diolah menjadi bahan pangan, bumbu masakan, minuman herbal, hingga produk olahan bernilai jual tinggi yang mampu menopang ekonomi rumah tangga.
Sebagai pendiri LSM CIS Timor, Winston menegaskan bahwa gerakan menanam Asam Timor merupakan contoh kolaborasi antara pemuda, gereja, masyarakat, dan pemerintah dalam membangun NTT dari akar rumput.
“Kalau kita tanam hari ini dan rawat bersama, hasilnya bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk anak cucu kita kelak,” pungkas suami dari Pendeta Desyana Rondo-Efendy itu. (*/FKK)
















































