1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Wahana Visi Indonesia (WVI) terus mendorong pengembangan komoditas kenari sebagai kekuatan ekonomi masyarakat Kabupaten Alor. Melalui kegiatan talkshow bertema “Menjaga Kenari, Meningkatkan Kualitas, Memperluas Peluang Pasar”, WVI mengajak pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat membangun ekosistem kenari yang berkelanjutan demi meningkatkan kesejahteraan petani.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Pola Tribuana Kalabahi, Selasa (23/06/2026), menghadirkan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, bersama sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, dunia riset, hingga pelaku usaha. Selama bertahun-tahun, WVI melalui berbagai program pendampingan telah berfokus pada penguatan usaha komoditas kenari di Kabupaten Alor, mulai dari pemberdayaan petani hingga peningkatan kualitas produk.
Talkshow tersebut dihadiri National Program Manager Inclusion Project WVI Vinsensius Suwandi, Kepala BRIN Perwakilan NTT Dr. Evert J. Hosang, perwakilan Kementerian Hukum NTT Dra. Dince Bulle Lado, M.Si, Asisten Setda Provinsi NTT Alex Lumba, Staf Ahli Gubernur Henderina Laiskodat, Kepala Kesbangpol NTT Noldy Pelokila, Sekda Alor Melky Belly, Asisten I Setda Alor Syafrudin Djawa, para kepala desa, pelaku usaha, pegiat, dan petani kenari.
Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol (Purn.) Drs. Dr. Jhoni Asadoma , M.Hum, dalam sambutannya ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan kembali komoditas Kenari Alor sebagai salah satu kekayaan hayati unggulan daerah.
“Ini merupakan awal kebangkitan Kenari Alor. Saat ini banyak pohon kenari yang telah ditebang, sehingga momentum ini harus menjadi pengingat bagi kita semua untuk kembali menanam pohon kenari di lahan-lahan yang masih tersedia. Jika kita terlambat, kita berisiko kehilangan salah satu komoditas unggulan daerah,” tegas Wakil Gubernur.
Wakil Gubernur juga mengingatkan pentingnya upaya pelestarian sumber daya hayati daerah agar tidak mengalami nasib serupa dengan beberapa komoditas yang kini semakin langka, seperti Apel Soe dan Cendana. Untuk itu, Pemerintah Provinsi NTT berencana mengajukan permohonan kepada BRIN guna melakukan penelitian terkait penyebab menurunnya populasi Apel Soe sebagai bahan pembelajaran dalam upaya konservasi komoditas unggulan daerah.
Lebih lanjut, Wakil Gubernur menyampaikan apresiasi kepada Wahana Visi Indonesia atas kontribusinya dalam mendorong pengembangan pasar yang inklusif bagi masyarakat. Menurutnya, Kenari Alor merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang harus dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan secara berkelanjutan.
Selain kenari, Wakil Gubernur juga mendorong pengembangan berbagai tanaman endemik Alor lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk mangga kelapa yang menjadi salah satu kekhasan daerah tersebut.
Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, terdapat beberapa langkah strategis yang akan didorong bersama, yaitu:
1. Melaksanakan pelatihan pengolahan vanili dan pemanfaatan tanaman endemik Alor agar memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi di pasar. Program tersebut akan diikuti dengan pengawasan dan pendampingan oleh camat serta lurah agar keberlanjutan program dapat terjaga.
2. Melakukan pemetaan wilayah dengan potensi pertumbuhan tanaman unggulan yang paling tinggi untuk selanjutnya diberikan bantuan bibit secara terarah dan disertai pengawasan yang berkelanjutan.
Wakil Gubernur optimistis bahwa pengelolaan potensi sumber daya alam Alor secara maksimal dan berkelanjutan akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Alor memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya dengan baik, menjaga keberlanjutannya, serta memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas,” pungkas Wakil Gubernur.
Usai memberikan sambutan, Wakil Gubernur ketika diwawancarai oleh media ini menyampaikan bahwa kegiatan hari ini, tentu menjadi momentum bagi kita semua, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Alor untuk mulai kembali melakukan penanaman pohon kenari yang menurut informasi sudah mulai berkurang, apakah karena pohon itu sudah tidak produktif lagi karena sudah terlalu tua, banyak yang ditebang, ataukah memang masyarakat kurang begitu menaruh perhatian. Dan oleh karena itu ini menjadi momentum yang bagus untuk pemerintah dan seluruh masyarakat untuk mari kita menanam kembali pohon kenari sebanyak mungkin semua lahan-lahan kosong kita.
“Kemudian pemerintah akan menyiapkan anggaran untuk pembibitan persemaian dan lain sebagainya untuk dibagikan kepada masyarakat untuk bisa menanam, ini adalah komoditas unggulan, dan di Indonesia hanya ada di Maluku dan NTT menurut informasinya, ini menjadi modal besar bagi kita masyarakat Alor untuk bisa mengembangkan, mengusahakan sehingga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat Alor,” lanjut Wagub NTT.
Kaitannya dengan kehadiran NTT Mart menurut Asadoma bahwa produk unggulan seperti kenari yang di olah sangat bisa di pasarkan di NTT Mart melalui berbagai marketplace. didunia seperti sekarang ini pemasaran itu bukan hal yang sulit, pemasaran itu hal yang gampang asal kita siapkan dulu produk yang bagus, satu kali kita pasarkan di media sosial atau melalui Iko mart itu secara langsung pasar akan menyambut dengan luar biasa, tapi kita siapkan dulu baik dalam kuantitas maupun kualitas karena pasar butuh itu.
Menurutnya, promosi yang berhasil harus didukung kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen agar kepercayaan pasar tetap terjaga. Harapan Baru bagi Petani Kenari Alor Talkshow tersebut menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendamping, peneliti, pelaku usaha, serta masyarakat untuk memperkuat rantai nilai komoditas kenari di Kabupaten Alor.
Bagi para petani, pengembangan kenari bukan hanya tentang meningkatkan hasil panen, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga. Melalui sinergi berbagai pihak, komoditas kenari diharapkan semakin dikenal di pasar nasional bahkan internasional, sekaligus menjadi identitas ekonomi khas Alor yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.
Sementara Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Melkisedek Beli, S.Sos.,M.Si, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Pemerintah daerah menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah menggumuli bersama proses ini, teman teman dari WVI, Brin, luar biasa Kerjasama kita, kolaborasi, sehingga hari ini kita bisa mencapai sesuatu yang bagi saya sangat luar biasa. Dan karena itu atas nama pemerintah daerah kami menyampaikan ungkapan terimakasih
Dijelaskannya bahwa kita berharap bisa mengembangkan potensi kenari, dan akan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat secara keseluruhan, di dalam RPJMD Kabupaten Alor untuk mendukung RPJMD Provinsi kita juga menetapkan beberapa fokus dalam pengembangan ekonomi, pengembangan kapasitas dan kelembagaan UMKM, kita berupaya agar digitalisasi usaha kecil dan menengah secara baik, menyediakan akses pasar bagi produk unggulan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Alor Melkisedek Bely, menyampaikan bahwa Kabupaten Alor merupakan daerah dengan jumlah Indikasi Geografis (IG) terbanyak di NTT, di antaranya Tenun Ikat Alor, Songket, Vanili Alor, dan Kenari Alor. Menurutnya, pengakuan tersebut merupakan peluang sekaligus tanggung jawab bersama untuk menjaga dan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki.
“Pemerintah Kabupaten Alor berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan Kenari Alor, termasuk melalui penyusunan regulasi daerah/Perda yang dapat memperkuat tata kelola dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara disisi lain Manager National Inclusion Project Wahana Visi Indonesia, Vinsensius Suwandi, menjelaskan bahwa perluasan pasar harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produk sesuai kebutuhan pembeli.
“Ketika kita ingin memperluas pasar, tentu ada konsekuensinya. Petani juga harus memenuhi standar yang dibutuhkan pasar. Karena itu kami mendampingi petani agar memahami seperti apa produk yang diinginkan pembeli dan bagaimana melakukan proses sortir yang baik,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa (23/06/2026).
Menurut Vinsensius, setiap pembeli memiliki standar dan karakteristik yang berbeda terhadap produk kenari. Karena itu, petani perlu dibekali kemampuan untuk memilih, menyortir, dan menghasilkan produk sesuai permintaan pasar.
Melalui pendampingan tersebut, WVI ingin memastikan petani tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memahami pentingnya kualitas sebagai faktor utama dalam memperluas jaringan pemasaran.
Ia menjelaskan, WVI pernah menjalankan program pendampingan di Alor sejak 1999 hingga 2015–2016. Kini, lembaga tersebut kembali hadir melalui Program Inclusion yang menjangkau seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Khusus di Kabupaten Alor, fokus program diarahkan pada pengembangan komoditas kenari, sementara di daerah lain lebih banyak mendampingi sektor pertanian padi.
Selain meningkatkan kualitas produk, WVI juga membantu membangun sistem pemasaran yang lebih efektif agar petani memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Di wilayah Pantar, misalnya, WVI memfasilitasi pembentukan kelompok perempuan yang bergerak dalam pengolahan kenari sekaligus membangun jaringan pengumpul lokal. Melalui sistem tersebut, petani tidak lagi harus mengeluarkan biaya transportasi yang tinggi untuk membawa hasil panen ke Kalabahi.
“Biaya membawa kenari dari Pantar ke Kalabahi cukup mahal. Karena itu kami membentuk sistem pengumpul di wilayah tersebut sehingga petani bisa menjual hasilnya lebih dekat dengan harga yang telah dihitung secara adil dan menguntungkan petani,” jelas Vinsensius.
Langkah tersebut dinilai mampu memperpendek rantai distribusi sekaligus meningkatkan efisiensi pemasaran komoditas kenari.
Pengembangan komoditas kenari Alor juga diperkuat melalui kolaborasi antara WVI, Pemerintah Kabupaten Alor, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Menurut Vinsensius, kerja sama tersebut dimulai sejak tahun 2023 karena sebelumnya belum tersedia data penelitian yang memadai mengenai potensi kenari Alor.
Proses riset melibatkan berbagai pihak, mulai dari BRIN, Bappeda, pemerintah daerah, hingga pemerintah desa untuk mengumpulkan data sebagai dasar pengembangan produk.
“Kami memulai dari nol karena belum ada data penelitian terkait kenari Alor. Proses ini dilakukan bersama BRIN dan pemerintah daerah. Banyak pihak terlibat, mulai dari Bappeda hingga pemerintah desa untuk membantu penyediaan data yang dibutuhkan,” katanya. Hasil penelitian tersebut kini mulai memberikan manfaat dalam memperkuat identitas, kualitas, dan daya saing kenari Alor di pasar yang lebih luas.
Selain mendampingi proses produksi, WVI juga berperan sebagai penghubung antara petani dan pasar. Ketika terdapat masukan dari pembeli mengenai kualitas produk, WVI membantu menjembatani komunikasi agar petani dapat terus melakukan perbaikan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan rantai pemasaran yang sehat sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap produk kenari asal Alor.
“Harapan kami, ke depan petani kenari di Alor dapat benar-benar mandiri, mampu memenuhi standar pasar, dan memiliki akses pemasaran yang lebih luas sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkas Vinsensius.
Melalui pendampingan berkelanjutan, WVI berharap komoditas kenari tidak hanya menjadi produk unggulan Kabupaten Alor, tetapi juga mampu menjadi sumber peningkatan pendapatan masyarakat serta memperkuat perekonomian daerah. (FKK/Eka Blegur).