Menia, FKKNews.com – Bupati Sabu Raijua, Krisman B. Riwu Kore, SE., MM bersama Wakil Bupati, Ir. Thobias Uly, M.Si, menyerahkan secara simbolis peralatan produksi kepada pelaku usaha industri rumah tangga tenun ikat, penyadap nira lontar, dan nelayan. Penyerahan berlangsung di Aula Sekretariat DPRD Kabupaten Sabu Raijua, disaksikan oleh Kepala Dinas Perindustrian—yang juga menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan—serta para staf dan penerima bantuan, Kamis (27/11/2025).
Bantuan ini sejatinya direncanakan untuk diserahkan pada peringatan Hari Jadi Kabupaten Sabu Raijua ke-17 sebagai bentuk hadiah bagi masyarakat. Bantuan berasal dari dua perangkat daerah, yaitu Dinas Kelautan dan Perikanan (68 orang) serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (175 orang), sehingga total penerima mencapai 243 orang.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa bantuan ini merupakan bukti nyata hadirnya pemerintah dalam mendorong produktivitas dan kemandirian ekonomi masyarakat. Sejak awal masa kepemimpinan pada bulan Februari, Pemerintah Daerah telah menyalurkan berbagai bentuk bantuan, termasuk alat tenun yang sebelumnya diberikan kepada kelompok tenun di Kecamatan Hawu Mehara.
“Bantuan ini bukan sekadar alat, tetapi bagian dari upaya pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dan membuka lapangan kerja baru. Sudah banyak bantuan yang kita salurkan, dan kami berharap semuanya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.
Bupati juga mengungkapkan bahwa tahun depan pemerintah daerah diperkirakan mengalami keterbatasan fiskal akibat pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat. Namun pada awal kepemimpinan, Pemkab Sabu Raijua berhasil melakukan efisiensi anggaran hingga menyisakan Rp26 miliar, yang kemudian digunakan untuk memberi manfaat langsung kepada masyarakat melalui berbagai program, seperti santunan duka, seragam sekolah gratis, dan pemasangan lampu jalan di sejumlah wilayah.
Terkait bantuan bagi penyadap lontar, Bupati memberi perhatian khusus pada kondisi masyarakat yang kini lebih banyak memproduksi moke dibanding gula sabu. Ia mengakui bahwa terdapat perbedaan pandangan terkait produksi moke, termasuk dari pihak gereja. Namun pemerintah tetap berupaya mencari solusi terbaik agar produk lokal tersebut dapat diatur dengan baik dan tidak menimbulkan dampak negatif.
“Kami tetap berkoordinasi dengan pemerintah tingkat atas untuk mencari jalan agar moke dapat dilegalkan dengan batasan tertentu,” jelasnya.
Mengakhiri sambutannya, Bupati menegaskan bahwa setiap bantuan hanya akan bermakna jika digunakan dengan sungguh-sungguh.
“Manfaatkan bantuan ini sebaik-baiknya agar dapat meningkatkan produktivitas dan memberikan nilai tambah bagi ekonomi keluarga,” pesannya.(FKK03)












































