Kalabahi, FkkNews.com – Sabtu (18/04/2026). Pukul 17.20 Wita, pertigaan Museum 1000 Moko, Jalan Piere Tendean, Kelurahan Nusa Kenari, jadi saksi. Pemuda Batutenata Kel. Nusa Kenari dan Pemuda Lipa Bawah Kel. Wetabua duduk satu meja, berjabat tangan, akhiri konflik panjang yang meresahkan warga Teluk Mutiara, Kab. Alor.
Acara perdamaian ini diinisiasi langsung oleh para pemuda. Didukung penuh Polres Alor, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dari dua kampung.
Hadir dalam Perdamaian
Mewakili Kapolres Alor, Kabag Ren KOMPOL Sirajudin Dusu, S.Akun., bersama KBO Sat. Samapta IPDA Alfons K. Bolo, Kasiwas IPDA Fahrudin Dasing, serta jajaran Polres Alor. Turut hadir Lurah Wetabua Jitran Blegur, S.E., Lurah Nusa Kenari Boby M. Y. Kilaka, Bhabinkamtibmas AIPDA Amrun Sangapure dan BRIPKA Abdurahman, para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan puluhan pemuda dari Batutenata maupun Lipa Bawah.
Suara Pemuda: “Ini yang Terakhir”
Mewakili senior Pemuda Pasar lipa Bawah, Heri Manu menegaskan perdamaian ini lahir dari kesadaran bersama. “Terima kasih Polres Alor yang dari awal bangun komunikasi. Kami sepakat ini jadi yang terakhir. Masyarakat sudah jenuh dengan tawuran berulang,” ujarnya.
Dari Pemuda Batutenata, Dony M. Mooy, S.Pd meminta Pos Kamling diaktifkan kembali. Ia juga dorong penyelesaian masalah kecil lewat kekeluargaan di kampung. “Kalau tidak selesai baru ke polisi. Jangan sedikit-sedikit lapor,” tegas Dony.
Pesan Polisi: Jangan Mudah Terprovokasi
Kabag Ren KOMPOL Sirajudin Dusu berharap perdamaian ini benar-benar terakhir. “Jaga komitmen. Jangan mudah terprovokasi isu dari luar. Saling hormati, jaga persaudaraan. Mari sama-sama jaga Sitkamtibmas,” pesannya.
Simbol Damai Tanpa Surat Pernyataan
Puncak acara ditandai jabat tangan dan foto bersama pemuda Batutenata dengan pemuda Lipa Bawah, disusul doa bersama. Panitia sengaja tidak memakai surat pernyataan atau berita acara. Alasannya tegas: tidak efektif jika tetap dilanggar. Penyelesaian difokuskan pada komitmen moral, kesepakatan bersama, serta pengawasan langsung tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah setempat.
Kegiatan ditutup pukul 18.15 Wita, berjalan aman dan tertib.
Catatan Redaksi: Perdamaian ini jadi bukti kepedulian lintas elemen: tokoh kelurahan, Bhabinkamtibmas, Intelkam, dan orang tua. Mereka bekerja sama memberi pemahaman ke pemuda soal dampak sosial tawuran yang merugikan dua kampung. Kini, komitmen dijaga bersama agar pertigaan Museum 1000 Moko tak lagi jadi titik kumpul konflik, tapi titik temu damai. (*fkk).

















































