1
1
1
2
3
Kalabahi, FKKNews.com – Memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar langkah melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi awal perjalanan untuk membentuk karakter, kemandirian, serta mempersiapkan diri menyongsong masa depan.
Pesan penuh semangat itu disampaikan Rektor Universitas Tribuana Kalabahi (Untrib) Alor, Elia Maruli, S.E., M.M., saat membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Tribuana Kalabahi Tahun 2026, yang berlangsung di Aula Universitas Tribuana Kalabahi, Senin, 7 September 2026.
Mengusung tema “Menjelajahi Kepulauan, Menciptakan Inovasi dan Menghadirkan Dampak,” PKKMB Untrib Alor Tahun 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, 9 September 2026.
Sebanyak sekitar 540 mahasiswa baru mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari enam fakultas dan 12 program studi yang ada di Universitas Tribuana Kalabahi.
Di hadapan ratusan mahasiswa baru, Rektor Elia mengingatkan agar seluruh mahasiswa menjalani proses perkuliahan dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keberhasilan dalam pendidikan tidak datang dengan sendirinya, tetapi membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, komunikasi, serta kemauan untuk terus belajar.
Ia meminta mahasiswa rajin mengerjakan tugas, aktif berkonsultasi dengan dosen, termasuk dengan dosen pembimbing akademik (PA), apabila menghadapi kesulitan dalam proses perkuliahan.
Lebih dari itu, Rektor Elia mengajak mahasiswa membangun hubungan yang baik dan penuh rasa hormat dengan para dosen.
Menurutnya, dosen tidak seharusnya dipandang sebagai sosok yang menakutkan. Sebaliknya, dosen harus dilihat sebagai bagian dari keluarga besar kampus yang memiliki tanggung jawab untuk membimbing mahasiswa menuju keberhasilan.
“Lihat dosen sebagai orang tua, dengan batasan-batasan tertentu. Jangan buat kesalahan yang kemudian membuat kalian takut dengan dosen. Kesalahan itu mungkin ada dan wajar, tetapi jangan banyak. Usahakan minimalisir,” pesannya.
Ia menjelaskan, mahasiswa datang ke perguruan tinggi bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendapatkan pendidikan dan pembinaan. Karena itu, mahasiswa harus mulai menempatkan dirinya sebagai pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap perjalanan pendidikannya sendiri.
Jaga Kesehatan, Jangan Abaikan Diri Sendiri
Di tengah kesibukan akademik, Rektor Elia memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan mahasiswa.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak mengorbankan waktu makan dan istirahat hanya karena terlalu sibuk mengerjakan tugas ataupun menghabiskan waktu menggunakan media sosial.
Menurutnya, kesehatan merupakan bagian penting yang tidak boleh dipisahkan dari keberhasilan pendidikan.
“Banyak anak yang sakit itu karena lambung. Kenapa bisa sakit maag dan lambung? Karena tahan lapar. Kenapa tahan lapar? Makanan tidak ada,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa diminta mampu mengatur waktu dengan baik antara belajar, mengerjakan tugas, makan, beristirahat, menggunakan media sosial, serta melakukan aktivitas lainnya.
Kesibukan sebagai mahasiswa, kata Elia, tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan tubuh.
Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak membangun kebiasaan mengerjakan tugas hingga larut malam, kemudian menggunakan media sosial sampai dini hari, sementara kebutuhan tidur dan makan justru diabaikan.
“Ini saya minta tolong untuk jaga kesehatan. Karena biasanya kita terima 500-an orang, tapi ketika wisuda sisa 400, kemudian wisuda 300, 200 ke mana? Ada yang sakit-sakit, lalu putus di tengah jalan,” katanya.
Elia menjelaskan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan akademik maupun persoalan biaya.
Kemampuan mahasiswa menjaga kesehatan, mengatur waktu, serta mampu mengurus dirinya sendiri selama menjalani proses pendidikan juga menjadi faktor penting.
“Banyak yang putus bukan hanya karena masalah uang semata, tetapi juga karena sakit, karena tidak urus diri, akhirnya tidak berhenti berproses,” tegasnya.
Dunia Kampus Menuntut Kemandirian
Pada kesempatan tersebut, Rektor Elia juga mengingatkan bahwa kehidupan di perguruan tinggi memiliki perbedaan dengan kehidupan ketika masih duduk di bangku SMA.
Jika di sekolah terdapat aturan dan pengawasan yang lebih ketat, maka di perguruan tinggi mahasiswa dituntut memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap dirinya sendiri.
“Dulu ketika kita di SMA sama seperti ini, ada namanya pengenalan, tetapi di sini tidak ada guru atau dosen yang memberikan sanksi jika terlambat datang. Itu tidak ada. Anda bisa mengurus diri sendiri, bebas tapi terkontrol, karena Anda sudah berstatus sebagai mahasiswa. Bisa mengatur diri untuk keberhasilanmu,” ungkapnya.
Karena itu, mahasiswa baru diminta tidak membangun jarak dengan dosen ketika menghadapi persoalan akademik maupun persoalan lainnya di lingkungan kampus.
Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dan baik harus menjadi budaya bersama agar setiap persoalan dapat dicari jalan keluarnya secara kekeluargaan.
“Kalau ada persoalan cepat selesaikan. Tidak boleh diam-diam, komunikasi dengan dosen. Kalau ada persoalan-persoalan yang sangat krusial, sampaikan ke prodi. Kalau di PA tidak bisa, ke prodi. Kalau di prodi tidak bisa, ada pimpinan fakultas dan universitas,” jelasnya.
Menurut Elia, mekanisme komunikasi tersebut penting agar mahasiswa tidak merasa berjalan sendirian selama menempuh pendidikan.
Kampus, katanya, memiliki berbagai unsur yang dapat menjadi tempat mahasiswa berkonsultasi dan mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan.
Rektor Targetkan Mahasiswa Lulus Tepat Waktu
Rektor Elia berharap seluruh mahasiswa baru dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan tepat waktu.
Ia mengajak mahasiswa agar tidak mudah kehilangan semangat ketika memasuki masa-masa jenuh dalam perjalanan perkuliahan.
Menurutnya, rasa bosan maupun berbagai tantangan merupakan bagian dari proses pendidikan yang harus dihadapi dengan ketekunan dan semangat.
“Saya harap semuanya selesai di universitas ini. Ingat baik-baik semua pesan tadi. Untuk empat tahun ini diharapkan empat tahun selesai. Ya, karena ada masa-masa bosannya. Kalau sampai terlalu lama-lama, kami juga lihat bosan lihat kalian,” ujarnya sambil bergurau.
Candaan tersebut sontak mencairkan suasana sekaligus memberikan pesan sederhana bahwa perjalanan pendidikan membutuhkan komitmen dari mahasiswa sejak awal hingga garis akhir.
Elia menegaskan, kegiatan PKKMB bukan sekadar kegiatan seremonial untuk menyambut mahasiswa baru.
PKKMB merupakan bagian dari proses awal untuk memperkenalkan lingkungan kampus sekaligus mempersiapkan mahasiswa agar lebih siap memasuki kehidupan akademik yang sebenarnya.
“Pengenalan kampus ini supaya saat Anda semua memasuki masa perkuliahan normal, kalian tidak kaget lagi,” katanya.
Bawa Ijazah, Bawa Harapan untuk Masa Depan
Menutup pesannya, Rektor Elia mengajak seluruh mahasiswa baru memandang pendidikan sebagai investasi penting untuk mempersiapkan masa depan.
Ia berharap mahasiswa menjalani proses pendidikan dengan penuh semangat, menjaga kebersamaan, membangun komunikasi yang baik dengan seluruh sivitas akademika, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.
“Datang bawa ijazah, datang bawa uang registrasi, pulang bawa ijazah, pakai tiket untuk meraih masa depan,” pungkasnya.
Pesan tersebut menjadi semangat bagi ratusan mahasiswa baru yang kini memulai lembaran baru dalam perjalanan akademiknya di Universitas Tribuana Kalabahi.
Pada akhir kegiatan pembukaan PKKMB, Rektor Elia Maruli secara simbolis mengalungkan atribut dan pernak-pernik PKKMB kepada dua perwakilan mahasiswa baru.
Prosesi tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian PKKMB Universitas Tribuana Kalabahi Tahun 2026.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pembina Yayasan, Permenas Lama Kolly, S.E., Sekretaris Pengurus Yayasan, para Wakil Rektor I, II, III, dan IV, para dekan fakultas, ketua program studi, kepala lembaga, serta kepala biro se-Universitas Tribuana Kalabahi.
(FKK/Eka Blegur).