Kupang, FKKNews.com – Dewan Pimpinan Wilayah Partai Aamanat Nasional Nusa Tenggara Timur menggelar Workshop, Pendidikan Politik dan Penguaatan Kader, senin 06 Oktober 2025 di Aula Rumah PAN NTT
Kegiatan ini mengusung tema” Workshop, Pendidikan politik dan penguatan kader dan melibatkan Ketua, sekretaris dan bendahara serta anggota DPRD sedaratan Timor, Rote Ndao dan Sabu Raijua, dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhamadya Kupang.
Workshop dan Pendidikan Politik PAN NTT ini mengahadirkan narasumber akademisi sekaligus dosen Fisipol Universitas Muhamadiya kupang Amir Syarifudin Kiwang, M.Si, Komisioner KPU Provinsi Nusa Tenggara Timur Lodowyk Fredrik, Emanuel Passar, SH.,C.,Me, acara ini moderator Pascalia Kopong Pengurus PAN NTT.
Sekretaris PAN NTT Marthen A. Lenggu dalam sambutannya partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi kader Partai Amanat Nasional wajib hukumnya untuk menanamkan pemahaman terhadap ideologi, visi, misi, dan platform perjuangan partai, kata Marthen.
Menurutnya, kualitas kader PAN NTT harus benar-benar memadai, sehingga workshop dan Pendidikan politik diharapkan bisa membekali semua kader PAN untuk lebih maju.
Sementara akademisi sekaligus pengamat Politik dari Fisipol Universitas Muhamadiya Kupang mengatakan, PAN diasosiakan sebagai partai punya posisi politik yang sangat baik di NTT sehingga para kader harus dibekali dengan penguatan Ideologi dan Loayalitas Kader bahwa ideologi Partai Amanat Nasional adalah berlandaskan Agama yang membawa Rahmat bagi sekalian Alam, Cita-cita dan landasan moral partai ini juga berakar pada nilai-nilai keagamaan, kemanusiaan, dan kemajemukan,”kata Amir.
Lebih lanjut Kata Amir Kiwang, Penguatan Ideologi dan Loayalitas kader merupakan Fondasi Penting dalam menjaga integritas dan kekuatan Partai Amanat Nasional dalam kanca politik nasional dengan pendekatan yang sistematis dan berkalnjutan, PAN dapat membentuk kader yang tidak hanya kompeten secara politik, tatapi juga memiliki komitmen ideologis dan loyalitas tinggi terhadap partai.
Dalam kesempatan yang sama, Komisioner KPU NTT Lodowyk Fredrik selaku Narasumber Kedua menyampaikan materi Tentang ” Menakar Kualitas Demokrasi Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135 Tahun 2025 Tentang Pemisahan Pemilu” sebelumnya Fredrik juga mengurai perkembangan kepemiluan indoensia dari masa awal hingga era reformasi, ia menandaskan bahawa pemilu menjadi instrument utama sirkulasi kekuasaan yang sah dalam negara Demokrasi.
Menurutnya, bila terjadi pemisahan Pemilu bukan saja persoalan teknis, melainkan uji kualitas demokrasi itu sendiri, demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari seberapa sering rakyat memilih, tetapi dari beberapa sadar, rasional, dan bertanggung jawab rakyat dalam mennentukan pilihan politiknya. Dengan desain kelembagaan yang kuat, transparansi, dan Pendidikan politik yang memadai, pemisahan pemilu dapat menjadi momentum untuk memperkuat kualitas demokrasi di Indonesia. ,”Kata Fredrik.
Emanuel Passar Wakil Ketua DPW PAN NTT Bidang Pembinaan Organisasi dan Keanggotaan (POK) selaku Narasumber Ketiga menyamapaikan materi tentang “ Sejarah dan Platform Perjuangan Partai Amanat Nasional” Sejarah Partai Amanat Nasional didirikan pada 23 Agustus 1998 di Jakarta, lahir sebagai jawaban atas tuntutan reformasi 1998 setelah runtuhnya pemerintahan orde baru, sebagai pelopor pendiri Partai Amanat Nasional terdiri dari Tokoh lintas agama, aktivis, mahasiswa dan cendikiawan.
Lebih lanjut kata Emanuel, asas perjauangan PAN ahklak politik berdasarkan agama yang membawa Rahmat, bagi sekalian alam” dengan Filosofis, nama dan lambang Amanat” mencerminkan pesan moral dan tanggung jawab dari rakyat, matahari putih bersinar biru; melambangkan pencerahan, harapan baru keterbukaan dan keadilan social. Dengan Visi Terwujudnya Masyarakat madani yang adil, Makmur,bermartabat dan beradulat dalam bingkai NKRI. MISI : Partai terbuka, Nasionalis Religius.
Di penghujung acara Ahmad Yohan Ketua DPW PAN NTT dalam arahannya bagi peserta Workshop, Pendidikan politik dan penguatan kader, sebagai kader partai saudara-saudaraku adalah ujung tombak perjuangan ideologi dan nilai-nilai partai, politik bukan soal kekuasaan, tetapi soal tanggung jawab dan pengabdian Jagalah moralitas, jujurlah pada rakyat, dan hindari penyalahgunaan kepercayaan publik, pelajari isu-isu strategis nasional dan lokal, kuasai kemampuan komunikasi publik, dan jadilah kader yang cerdas dan berpikir serta tangkas dalam bertindak.
Kata AYO Lebih lanjut kata AYO Pimpinan Komisi IV DPR RI ini menambahkan Pendidikan Politik seperti ini harus menjadi tradisi kaderisasi yang berkelanjutan, untuk membawa partai ini menjadi alat perjuangan politik yang benar-benar bermanfaat bagi rakyat dan bangsa.(*FKK03)












































