Kupang, FKKNews.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma menghadiri Pembukaan Sidang Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) LIV Tahun 2026 yang digelar di Gedung GMIT Center Kupang, Senin (9/2/2026).
Sidang Majelis Sinode GMIT LIV yang berlangsung selama enam hari, 9–14 Februari 2026, mengusung tema “Lakukan Keadilan, Cintai Kesetiaan dan Hidup Rendah Hati di Hadapan Allah” dengan subtema “Bersaksi Tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Luka”.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma dalam sambutannya menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT memandang GMIT sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah secara menyeluruh. Menurutnya, kolaborasi antara Gereja dan pemerintah menjadi kunci dalam menjawab kompleksitas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat NTT.
“Pemerintah dan Gereja memiliki peran besar dalam memperkuat persekutuan yang hidup dan kepedulian bersama. Sidang Sinode ini diharapkan melahirkan keputusan-keputusan strategis yang memperkuat pelayanan Gereja sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Wagub Johni.
Ia menyebutkan berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi NTT, mulai dari kemiskinan, stunting, ketahanan pangan, degradasi lingkungan, hingga persoalan kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual terhadap anak, ketimpangan sosial, dan ancaman HIV/AIDS.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut tanggung jawab bersama antara Gereja dan pemerintah dalam membaca realitas umat dan masyarakat secara jujur dan berpihak pada kemanusiaan.
“Persoalan sosial semakin kompleks. Karena itu, kepekaan sosial, pendampingan umat dan keluarga harus diperkuat. Gereja dan pemerintah harus hadir sebagai sumber pengharapan,” tegasnya.
Wakil Gubernur juga menekankan bahwa persoalan sosial tidak dapat diselesaikan secara sektoral. Sinergi lintas peran menjadi keharusan, terlebih GMIT memiliki jaringan jemaat yang menjangkau hingga akar rumput dan dinilai strategis dalam mendukung program-program pembangunan sosial pemerintah.
Ia mengakui keterbatasan pemerintah dalam menjangkau seluruh persoalan di tengah masyarakat, sehingga peran Gereja menjadi penting sebagai mitra dan perpanjangan tangan pemerintah dalam mendeteksi serta menangani masalah sosial secara bersama-sama.
“Pemerintah tentu memiliki keterbatasan. Di sinilah Gereja berperan melihat langsung realitas umat dan berjalan bersama pemerintah dalam penanganannya,” tambahnya.
Wagub berharap Sidang Majelis Sinode GMIT LIV menjadi ruang dialog yang terbuka, jujur, dan produktif untuk merumuskan langkah-langkah kolaboratif yang dapat diimplementasikan secara nyata.
“Setiap keputusan yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan riil jemaat dan masyarakat serta selaras dengan upaya pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Johni Asadoma juga mengapresiasi langkah GMIT dalam mendorong kemandirian ekonomi jemaat, salah satunya melalui peluncuran GG Mart, sebagai inisiatif pemberdayaan ekonomi berbasis gereja yang mendukung pengembangan produk UMKM lokal.















































