Ruteng, FKKNews.com – Semangat peningkatan kualitas pelayanan gereja tampak nyata dalam kegiatan Pelatihan Master of Ceremony (MC) dan Multimedia yang digagas oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia NTT bersama Klasis Flores Barat.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (18-20 maret) di GMIT Imanuel Ruteng ini diikuti puluhan peserta dari berbagai jemaat se-Klasis Flores Barat dengan tujuan utama membekali pemuda gereja agar siap tampil dan melayani dalam berbagai kegiatan gerejawi secara lebih profesional, komunikatif, dan berwibawa.
Sejak awal kegiatan, peserta tidak hanya diperkenalkan pada teori, tetapi langsung dibekali keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pelayanan gereja masa kini.
Materi pelatihan difokuskan pada dua hal utama, yakni Teologi Peran
MC dalam Ibadah, teknis dasar vokal dan artikulasi, Improvisasi dan Penguasaan Panggung serta penggunaan bahasa liturgis GMIT dalam membawakan acara gereja.
Materi-materi ini menjadi fondasi penting bagi seorang MC agar mampu tampil jelas, tertata, dan tetap menjaga kekhusyukan ibadah.
Pelatihan ini dipandu oleh dua MC kondang asal Kupang, Edno Taopan dan Riko Liufeto, yang dikenal berpengalaman dalam berbagai event formal maupun gerejawi. Keduanya tidak hanya mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga membentuk mental percaya diri dan etika tampil di depan publik.
Para peserta dipersiapkan untuk mampu memandu berbagai kegiatan gereja, mulai dari persidangan klasis dan jemaat, acara pernikahan, ulang tahun, kedukaan, hingga kegiatan kolaboratif gereja dengan pemerintah, LSM, maupun organisasi lainnya. Selain itu, mereka juga dilatih untuk memandu momentum penting seperti hari raya gerejawi.
Menariknya, dalam pelatihan ini peserta juga diperkenalkan pada peran Worship Leader atau pemandu ibadah. Peran ini berbeda dari MC biasa, karena tidak hanya mengatur alur acara, tetapi juga membantu jemaat masuk dalam suasana penyembahan melalui kepekaan spiritual, penguasaan liturgi, serta kemampuan membangun suasana ibadah yang hidup dan tertib.
Dengan pembekalan tersebut, pelatihan ini tidak hanya melahirkan MC, tetapi juga calon-calon pelayan ibadah yang siap menjadi penggerak di jemaat masing-masing.
Dampak positif kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh peserta. Ocha, salah satu peserta dari GMIT Imanuel Ruteng, mengaku pelatihan ini menjadi pengalaman baru yang sangat berharga.
“Perasaan saya sangat senang, karena ini ilmu baru bagi kami. Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan agar melahirkan kader-kader muda yang berani membawakan acara besar di gereja maupun di daerah,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Miki, peserta lainnya, yang menilai pelatihan ini sebagai langkah awal penting bagi generasi muda gereja.
“Ini pertama kali terjadi di sini dan sangat membantu kami untuk persiapan ke depan. Harapan kami, kegiatan seperti ini jangan berhenti di sini, karena kami masih sangat membutuhkan ruang belajar seperti ini,” ungkapnya.
Pelatihan ini pun menjadi bukti bahwa ketika pemuda diberi ruang dan dibekali dengan keterampilan yang tepat, mereka mampu keluar dari zona nyaman dan tampil sebagai pelayan gereja yang percaya diri, terlatih, dan siap menjawab kebutuhan zaman.

















































